Fotoku

Fotoku

Kubur Tua

S. M. Dosi

         antara gundukan batu
diselingi serasah berguguran
bersinar cahaya
di atas sumbu yang 'kan kelak padam

tapi ingatan kami 
yang padam karena tak mengenal mereka-mereka yang terbaring di sini
tak selekas padamnya cinta 
pada mereka yang mengukir kisah berlampau tahun yang pergi

semangat mereka di nadiku
juga darah mereka di jantungku
mimpi mereka yang membawaku tegak kini

kita bagai daun yang berguguran
tetapi jiwa kita semangat zaman
mereka berlalu, kita berlalu

hanya cinta yang abadi

El Ganda 2016

Prioritas Desa: Membangun atau Menata?



Saat ini kalau anda berkunjung ke desa-desa di Adonara, maka banyak perubahan yang anda saksikan. Sejumlah desa mulai mempercantik diri dengan lorong-lorong yang tertata. Desa lain membangun jalan dari desa ke kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Tembok penahan alias ‘talud’gampang anda jumpai. Perubahan yang dulunya hanya impian kini nyata di depan mata.
Tetapi hal miris akan anda temui ketika bepergian ke kantong-kantong produksi. Masih banyak desa yang akses ke areal kebun komoditi belum memadai. Tempat penghasil komoditas dagang ini kadangkala letaknya jauh dari pemukiman. Lokasinya tak ramah dilalui kendaraan. Alhasil, memobilisir hasil panen ke titik angkut nyaris sulit bagi petani.

Ini Asal Muasal Nama Larantuka yang Sebenanya

Dari mana kira-kira asal nama Larantuka? Berhadapan dengan pertanyaan ini, kebanyakan orang menjawabnya dengan merujuk informasi dari sejumlah penulis lokal. Menurut para penulis tersebut, nama Larantuka berasal dari kata bahasa Lamaholot. “Laran” yang berarti ‘jalan’ dan “tuka” yang berarti ‘tengah’. Secara utuh artinya kampung yang terletak di “tengah jalan”.
Meski untuk sementara menjadi satu-satunya jawaban, tampaknya informasi ini masih jauh dari meyakinkan. Contoh kata ‘tuka’ sebenarnya bukan tengah kalau tanpa fonem ‘n’ di akhir kata. Lebih jauh, siapa kira-kira yang memberi nama tersebut sementara jalan lintas Flores sendiri baru dibangun pada tahun 1907?
Kajian sejarah menyebut teori lain yang lebih bisa diterima. Nama Larantuka disebut berasal dari bahasa Tetun. ‘Laran’ yang adalah pusat kerajaan Wehale dan ‘tuka’ yang artinya ‘batas’. Penyebutan ini menunjukkan bahwa wilayah kerajaan Wehale mencapai hingga ke Larantuka, yang disebut ‘batas dari Laran’. Tercatat Patigolo Arakian adalah bangsawan kerajaan Wehale yang ‘diutus’ ke wilayah paling jauh yang masih berada di bawah pengaruh mereka. Beberapa raja Larantuka bahkan masih mempertahankan gelar “Usi Neno”, sebuah sebutan yang hanya dikenal di  pulau Timor.
Sebelum datangnya bangsa-bangsa Eropa, pulau Timor masih memegang peranan penting karena daratan ini menjadi penghasil komoditi termahal saat itu, kayu cendana. Pedagang-pedagang Cina maupun pedagang perantara dari seputar wilayah Nusantara hilir mudik dari dan ke sana. Banyak laporan-laporan tertulis dari Cina menyebut wilayah ini sejak abad XIII. Sebagai penghasil komoditi perdagangan utama, sudah tentu di Timor mulai terbentuk hunian dengan aliansi-aliansi yang lebih besar yang kemudian menjadi kerajaan. Kerajaan yang cukup berpengaruh adalah kerajaan Wehale-Wewiku. Dinasti raja-raja Amarasi yang sangat berpengaruh di dekat Kupang, Timor Barat masih merujuk asal-usul mereka dari kerajaan Wehale ini.
Larantuka sendiri tidak ada apa apanya sebelum bangsa Eropah menjejakkan kakinya di bagian tenggara Nusantara. Kota ini, sebelumnya di Solor, menjadi penting tatkala dijadikan tempat persinggahan pedagang dan kemudian penjajah Eropa karena pelabuhannya yang tenang dan terlindung di musim hujan. Dengan bercokolnya bangsa Eropa, terutama Portugis, kaum blasteran ‘portugis hitam’ alias Larantuqueiros segera menjadi amat berpengaruh hingga ke pulau Timor. Belakangan, sejumlah tempat di Timor dapat ditelusuri asal-usulnya dari bahasa Lamaholot, bahasa asli di Flores bagian timur. (Simpet Soge)

Petai Raksasa: Pernah Coba Kuliner Unik Ini?

Sumber: http://infbrs.blogspot.co.id
Heboh di koran Malaysia beberapa tahun lalu soal penemuan buah ‘petai raksasa’. Menurut berita yang beredar di sana, buah ini tidak bisa dimakan. Alasannya karena beracun. Padahal orang telah lama menjadikan buah ini sebagai makanan di pulau-pulau tetangga. Di Sumatra dan Bali, buah ini dijadikan kuliner. Di Afrika, orang menjadikan kulit dan biji buah sebagai bahan minuman semacam kopi.
Buah ini sebenarnya cukup dikenal di bumi Lamaholot. Orang lokal menyebutnya keso atau buah balam. Dalam bahasa Indonesia dinamai buah gandu. Dunia ilmiah mengenalnya dengan sebutan latin Entada phaseoloides (L.). Buah ini berasal dari tumbuhan jenis liana yang tumbuh di hutan-hutan tropis hingga subtropis, menyebar dari Afrika, Malaysia, Filipina, Indonesia hingga ke Australia. Tetapi siapa sangka kalau biji buah ini ternyata jadi kuliner yang lumayan memanjakan lidah?
Di kampung, barangkali hanya keluarga saya yang meneruskan warisan kuliner nenek moyang ini. Menjadikan biji buah ini sebagai salah satu sumber makanan. Tetapi sayang, sekarang tidak lagi saya cicipi karena sulit dijumpai. Rasa penganan ini agak tawar tapi sedikit gurih seperti kacang. Supaya lebih sedap, penyajiannya ditambahkan sedikit kelapa parut.

Sulitnya Cari Jagung Titi

Sumber: http://btpn2015.fotokita.net
Beberapa waktu lalu ketika hendak ke Maumere, saya ingin bawa buah tangan untuk teman-teman di sana. Dipikir-pikir, yang paling pas tentulah jagung titi. Tapi carinya lumayan susah ternyata. Di kios oleh-oleh khas Flotim ternyata tak tersedia. Hm padahal kalau diingat-ingat, dulu semasa SD-SMP ibu kandung saya adalah produsen sekaligus penjual jagung titi ini. Spesialisnya jagung titi yang masih muda. Rasanya lebih enak.
Mungkin ada yang bilang, ah gampang saja cari di pasar atau ke emperan toko. Tapi tempat itu ternyata tidak buka sepanjang hari. Di pasar lama hanya buka pagi dan sore. Cari punya cari, saya dapat info kalau ada kios oleh-oleh khas Flotim di bilangan Kota. Saya pun mampir. Tapi sayang di sana tidak dijual jagung titi. Yang ada hanya emping jagung. Sudah telanjur basah ya akhirnya beli dua kotak emping jagung.
Jagung titi memang lumayan sulit dicari ketika sedang buru-buru. Hanya penduduk lokal yang tahu kapan jadwal pasar buka. Di sana jagung titi banyak dijual. Tapi bagi orang yang sekadar singgah sesaat untuk kemudian melanjutkan lagi perjalanan, sulit bagi mereka untuk ketemu barang yang mereka cari itu. Bagi kalangan ini, mereka butuh tempat di mana jagung titi dijual setiap hari. Bukan hanya pada hari pasar atau jam-jam tertentu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...