Elegi Pisang Raja

by S. M. Dosi

Berdua dengan Kewa, Riani banjir peluh ketika menjunjung beban berat di kepalanya. Tujuannya masih  jauh, sekitar tiga ratus meter lagi. Itu jarak yang dekat untuk dijangkau, tetapi tidak jika beban tiga puluh kilogram ada di kepala. Berat itu berasal dari beberapa sisir pisang di dalam bungkusan kain serbet yang akan dijual di pasar kecamatan.
Lembah Nurhang adalah dataran subur untuk berbagai jenis pisang, termasuk pisang kepok dan pisang raja. Dan sesuai namanya, yang merajai pasaran kota adalah pisang raja. Harganya mahal. Riani membeli dan mengumpulkan pisang itu dari beberapa petak kebun petani dan mengangkutnya ke titik penjemputan kendaraan. Truk kayu rutin setiap pekan menjemput petani di titik itu, dua kilometer lagi menuju jalan dengan perkerasan batu alam. Jalan beraspal ada dua kilometer lagi.  Sementara di sini, tempat untuk bergulirnya roda kendaraan adalah seumpama arena persiapan mud track yang jika hujan tiba hanya dapat dilewati kendaraan sport ekstrim, bukan kendaraan angkutan pedesaan yang akan menjemput besok nanti.
Riani masih yakin, hari ini akan seperti seminggu sebelumya. Sabtu lalu, yang ia bawa ke pasar adalah satu karung asam jawa. Harganya sedang bagus di pasar. Dan perjalanan ke sana pun mulus.

Bagi warga desa, kendaraan bermesin adalah keajaiban baru yang dibawa peradaban. Jika dulunya asam jawa akan diangkut dengan waktu tempuh berjam jam dan harus meninggalkan pondok sejak dini hari dalam perjalanan berkelompok, maka saat ini cukup berdua dan dijemput langsung di tepian luar lahan tani. Tinggal satu jam duduk manis di antara tumpukan muatan dan berjubelnya penumpang, dan simsalabim pasar kota sudah di depan mata.

"Lho kok menghayal?" Sergah Kewa.
"Ah, enggaklah." Riani memandang ke bola emas di ufuk barat. "Menurutmu besok hujan?"
"Tidak." Jawab Kewa.
Riani kurang yakin. Yang ia tahu, besok akan cerah jika langit barat kemerah merahan di sore ini. Tapi yang dilihatnya kini, tidak!
"Iya semoga saja tidak." Doanya.

Sepuluh bakul pisang mereka tutupi dengan karung dan diikat rapat di atas parapara. Keduanya lalu mundur menuju pondok tani tempat biasanya menginap. Mereka menunggu esok tiba. Menyalakan api, memanaskan air, dan membuka kantung bekal. Jika pagi tiba, mereka akan mandi ke sungai, lalu berpakaian pantas untuk ke pasar kota.

Malam berlalu dihiasi nyanyian jangkrik dan binatang nokturnal. Tapi jelang dinihari, suara guruh menggelegar. Ini awal musim hujan. Tapi hujan harusnya tak mendadak tiba seperti ini. Tanpa bisa dicegah, guyuran turun sejadi jadinya. Dan pagi harinya, arena persiapan mud track telah jadi mud track beneran. Nyali sopir angkutan perdesaan tak cukup besar untuk melintasi kubangan lumpur diselingi tanjakan licin.

Habis sudah. Buah buah berwarna emas menggiurkan itu tak jadi diangkut. Hanya Riani yang tegar, sadar tentang resikonya berbisnis. Sementara para petani diam diam meratapi hasil ladang mereka yang akhirnya tinggal puing puing dan dirusak binatang liar yang pesta pora berkarung karung buah buahan gratis.


Data Lahan: Ketika Sudut Pandang Perdata dan Administrasi Dicampuradukkan

Mulanya saya mengira bahwa mencampuradukkan masalah lahan antara sudut pandang perdata dan administrasi hanyalah dilakukan oleh kaum awam karena kekurangpahaman mereka membedakan kedua entitas ini. Kita lihat bahwa masyarakat umum sering salah pandang terkait kepemilikan (perdata) terhadap sebidang tanah dicampuradukkan dengan masalah administrasi pemerintahan terkait data lahan tertentu dalam wilayah pemerintahan dimaksud. Ketika sebuah masalah lahan mencuat, umumnya pada lahan yang terletak di perbatasan antardesa, maka yang sekaligus muncul adalah konflik perbatasan administrasi antardesa tersebut. Begitu pula sebaliknya, ketika ada persoalan perbatasan administrasi antardesa, maka yang ikut-ikutan menjadi persoalan adalah masalah kepemilikan lahan sehingga penyelesaian menjadi berlarut larut. Tiap pihak orang perorangan atau kelompok pemilik ulayat berlomba lomba mencari bukti kepemilikan (perdata) atas lahan yang dimaksud serta saling perang bukti maupun klaim. Sementara di lain pihak pemerintah (baik yang berdaulat kini maupun pemerintah kerajaan pada masa lalu) turun campur dengan bukti-bukti administrasi atau catatan catatan kepemerintahan yang pernah dibuat atau diputuskan dan mempunyai kekuatan hukum administratif (bukan hukum perdata).
Pemahaman hukum masyarakat pun belum pada tahap memadai, dan di lain pihak pemerintah masih abai dalam memberi informasi yang benar. Tapi yang parah adalah ketika pihak pemerintah ikut-ikutan memiliki cara pandang yang belum mengena dalam membedakan kedua masalah ini: antara masalah kepemilikan (perdata) atas lahan dengan hak serta kewajiban yang melekat pada orang sebagai subyek hukum terhadap lahan dimaksud, dan di lain pihak masalah data administrasi yang tak ada sangkut pautnya dengan hak perdata.
Tinjau contoh kasus pada data luas lahan sawah di Adonara Barat. Lahan ini terletak diapit oleh beberapa desa. Sementara yang mengelola lahan ini bisa saja berasal dari desa lain. Tentu saja ikatan kepemilikan ataupun hak pengelolaan (perdata) ada pada pihak pihak yang secara aktual beraktivitas pada lahan tersebut, sementara data administrasi tentu  masuk pada wilayah desa dimana obyek/lahan tersebut berada, bukan pada orang per orang atau subyek sebagai pelaku hukumnya.  Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kecamatan Adonara Barat justru mencampur adukkan kedua hal ini, tercermin dari sajian data yang mereka berikan pada laporan Adonara Barat Dalam Angka. Dalam sajian data tersebut ada dua problem yang saya lihat. Pertama, data luas lahan yang kurang tepat karena kekurangan SDM surveyor/tenaga pengukur lahan serta peralatan mereka. Dengan demikian, luas lahan yang disajikan hanyalah perkiraan belaka dan tentu jauh dari mendekati kebenaran faktual. Padahal dengan memanfaatkan fitur peta online gratisan di internet, perkiraan luas lahan menjadi lebih mendekati tepat. Contoh pada lahan yang ada, total luas menurut data Adonara Barat dalam Angka adalah seratus limapuluh hektar lebih padahal faktual di lapangan menunjukkan luasnya tak lebih dari enam puluh hektar. Hal ini masih dapat ditolerir berhubung terbatasnya SDM surveyor yang tentu berada di luar kendali pihak kecamatan. Tetapi masalah kedua adalah masalah paradigma administrasi pemerintahan yang memasukkan unsur perdata di dalamnya.
Iya, di dalam data pihak kecamatan dimaksud disebutkan bahwa luas lahan sawah milik desa Homa adalah seluas 50 ha. Padahal jika kita crosscheck dalam wilayah pemerintahan desa Homa, di sana tidak terdapat lahan persawahan sepetak pun. Tapi kenapa nama desa Homa ikut masuk dalam data kepemilikan lahan? Itu karena lahan sawah tersebut diolah alias ada hubungan perdatanya dengan subyek hukumnya yang adalah warga desa Homa.
Inilah masalahnya. Dalam data administrasi luas lahan dimasukan unsur perdata yaitu hak kepemilikan/pengelolaan dari warga desa Homa.
Harusnya, dalam data administrasi, desa Homa tidak memiliki lahan sawah sepetakpun.  Itu tidak bukan masalah, sebab data administrasi tidak ada sangkut paut langsung dengan hak kewajiban perdata. Sementara secara ikatan perdata antara orang per orang, tentu saja mereka memiliki hak atas lahan tersebut. Jadi data administrasi tidak menghilangkan hak perdata mereka atas lahan yang selama ini mereka olah.
Data administrasi kepemerintahan  memang tidak dapat dijadikan bukti kepemilikan atas lahan. Seseorang dari desa lain bisa saja memiliki lahan pada desa tetangga bahkan bila perlu punya lahan juga di kecamatan lain. Tetapi lahan tersebut bukan terhitung sebagai lahan yang secara administrasi sebagai wilayah milik desa tempat ia berada. Warga desa Homa bisa punya sawah di desa Waiwadan, tetapi secara administrasi lahan tersebut tetap masuk dalam wilayah Waiwadan. Bukan masuk wilayah Homa seperti dalam data kecamatan. Kendali administrasi Desa hanya melekat pada orang perorangan di wilayahnya, bukan pada obyek perdata di luar wilayah pemerintahannya.
Cara pandang yang mencampuradukkan iniah yang justru menjadi salah satu pendorong konflik selama ini dimana masyarakat awam mengira bahwa data administrasi kepemerintahan punya dampak langsung terhadap hak perdata atas lahan tertentu dan sebaliknya.

Dan akhirnya, terimakasih untuk usaha pihak kecamatan dalam menerbitkan data yang bisa diakses kalangan umum. (Simpet Soge)

Catatan Awal Rahmadan

Sudah lewat beberapa hari awal puasa berlalu. Pasti di tempat masing-masing ada banyak cerita. Misalnya di Adonara Tengah, ada keluarga muslim yang melakukan upacara tradisi mandi sebelum puasa.
Meski non muslim, tempat kerja saya terletak di kampung berpenghuni seratus persen muslim. Begitu pula teman kerja saya lebih banyak yang muslim. Tentu saja saya tidak lepas dari suasana puasa.
 Di hari pertama ini, saya amati ada saja yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Utamanya anak-anak maupun remaja yang 'jam terbang' puasanya belum sejajar orang dewasa. Maklum, baru hari pertama untuk tahun ini bukan?
Nah, di sekitar tempat kerja saya, hal ini sempat saya catat. Kemarin pagi ketika mampir isi pulsa di kios, ada remaja putri datang juga beli kerupuk.
''Tidak puasa Mbak?'' tanya si penjaga kios.
''Puasa dong..'' sahut si remaja. Ternyata yang belum bisa beneran puasa  adalah dua malaikat kecil yang mengawal si gadis. Iya, dua kanak kanak yang tampaknya belum genap lima tahun itu mungkin belum bisa menyesuaikan diri dengan jadwal baru dimana sarapan pagi di rumah dihapus! Alhasil, mereka menuntut dibelikan kerupuk di kios hehehe. Mudah-mudahan besok tidak lagi ya dek. Adek pasti bisa deh. Kan ada iklan 'anak kecil aja bisa'...eh tau...eh apa ya? Hehehe.
Hal yang serupa kemarin saya temui pas beli aqua galon. Maklum, hari hari ini ada liburan sekolah dan anak kost pulang kampung semua. Tiba di tempat galon, sudah agak siang, seorang remaja mampir bongkar bangkir freezer pajangan minuman.
''Eh, koq tidak puasa?'' sergap remaja putri penjaga kios di bilangan Lamahala.
''Ups, wah hampir lupa!''  kata si remaja lelaki anak SMA yang sadar lalu urung ambil minuman.
''Wah untung ya diingatkan'' katanya lagi ''kalau tidak batal duluan deh''.
Di hari puasa ini, akan ada kegiatan yang molor atau dikurangi. Misalnya bengkel sepanjang jalan perkampungan muslim pantai selatan Adonara tidak buka sejak pagi-pagi. Bahkan sebuah turnamen sepakbola di Larantuka yang bertepatan dengan jadwal puasa tidak diikuti oleh klub dari kota Waiwerang.
Sementara pengamatan saya sekilas waktu belanja dapur, aktivitas para pedagang di pasar masih seperti biasa. Tetapi kegiatan melaut selama bulan ini menurun drastis. Warga pegunungan Adonara pun sudah tahu bahwa harga barang utamanya ikan laut akan melambung tinggi pada bulan rahmadan ini.
BTW, selamat puasa saja semua teman dan handai taulan.

Raih kemenangan atas hawa nafsu, raih keberkahan!! (Simpet Soge)

GEMOHING



by: S.M. Dosi

Di kampung saya punya piaraan burung beo. Kandangnya saya buat yang bagus dengan cat warna warni dan saya gantungkan di beranda rumah. Rumah saya punya emperan yang menjorok ke arah halaman umum di tengah tengah kampung. Orang-orang kalau dari utara selalu melintas di depan rumah saya. Akibatnya, burung beo saya ini seolah dapat kesempatan jadi selebriti, selalu dikagumi banyak orang yang lalulalang pergi pulang kebun.
Dari browsing di internet dan tanya ke sana ke mari, saya pun tahulah kalau si burung itu bisa saya ajari mengucapkan kata-kata.  Saya pun lalu punya ide untuk mengajarkan burung beo itu berbicara. Tak mau mainstream dengan mengajari ucapan ‘selamat pagi’. Iya, saya ajari burung beo itu cukup satu kata: gemohing. Saya pun berharap dengan satu kata itu setidaknya orang kampung diingatkan untuk selalu rajin gemohing. Kalau saya sih tidak ikut gemohing dong. Sebagai guru PNS, pekerjaan saya sudah cukup nyaman dan tidak perlu berpanas panas di terik matahari. Palingan ketika kerja bakti saya ikut mampir pegang parang untuk bersihkan rumput depan balai desa. Kalau kerja ladang ogah saya. Tapi saya punya ladang lho. Dengan menyewa lahan nganggur dan bantuan kelompok gemohing, ladang saya banyak menghasilkan dan terhitung sebagai ladang terbesar di kampung ini. Hasil ladang itu tidak benar benar saya manfaatkan untuk kepentingan ekonomi saya. Kalau musim jagung, cukup untuk jagung muda dan sepanjang tahun saya bisa makan jagung titi atau sebagai oleh oleh buat teman sekantor. Dan satu lagi yang penting, burung beo saya bisa makan jagung muda yang lezat itu.
Ya. Sudah mantap bagi saya bahwa burung beo itu saya ajari satu kata itu: Gemohing. Mulanya saya ajari singkat. Dari mengucapkan gemo, setelah lancar kemudian mengucapkan satu kata utuh, gemohing. Tak berapa lama kemudian si burung itu pun bisa ucapkan kata itu dengan lancar. Saya pun sungguh senang dan sebagai bonus buatnya, saya  buatkan kandangnya yang makin besar dan makin berwarna. Makanannya pun saya perhatikan khusus. Sesekali saya bawa ia bermain ke kebun.
Satu hal yang paling saya sukai adalah bahwa dia bisa membangkitkan semangat para petani di situ untuk rajin gemohing. Bagaimana tidak. Pagi pagi sebelum orang bangun minum kopi ia selalu berbunyi ‘gemohing gemohing’. Para petani yang punya rencana lain misal mau bekarang atau berburu bisa tiba tiba ingat kalau hari itu ada jadwal gemohing. Bahkan anak anak sekolah SMP di dusun saya yang pulang liburan pun ikut terinspirasi buat gemohing kecil kecilan. Tentu saja anak-anak itu diberi perangsang beberapa rupiah untuk beli alat tulis sebagai upah.
Kehidupan gemohing di dusun saya yang semula lesu menjadi bersemangat setelah hadirnya burung beo. Bahkan ada yang mengusulkan supaya burung itu dipindahkan saja ke tempat yang lebih strategis yaitu di rumah dekat gerbang desa. Desa kami ini memang punya beberapa dusun. Tapi saya tolak. Menurut saya, biar orang di dusun saya saja yang boleh mendengar suaranya. Saya toh warga dusun ini, dan yang berkorban banyak untuk burung beo ini adalah saya selaku warga dusun. Lagipula, apa memang ada yang bisa jamin burung beo ini diperhatikan dengan baik? Jangan malah mati kekurangan makanan. Jadi, meski ada yang coba meyakinkan, saya tetap mati matian agar burung beo itu tetap di emperan rumah saya. Letak rumah saya memang strategis di dusun pojok kami.
Dan heranlah saya setelah setahun lewat, ternyata orang orang dari dusun sayalah yang tercatat paling banyak hasil panen. Hasil ladang mereka jadi dua kali lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Saat akhir musim kemarau, ketika lumbung padi warga dusun lain sudah kosong melompong, lumbung warga dusun kami justru masih berisi setengahnya sehingga mereka menjual hasil kadang tersebut ke warga lain. Benar benar fantastis.
Bapak Desa dengan segala hormatnya lalu datang kepada saya dan mengatakan bahwa burung beo saya memang bisa membuat orang semangat gemohing.
"Dari tahun hadirnya burung beo, kelompok gemohing di dusun Bapak bertambah dua. Beda dengan dusun lain yang rata rata hanya satu kelompok gemohing." berkata pak Kepala desa.
“Jadi, apa mau Bapak?” Saya bertanya, sudah menduga kalau Bapak Kepala Desa ini ada mau yang lain.
Ternyata benar. Bapak kepala desa lalu meminta supaya burung beo ini ditempatkan di lokasi strategis yaitu di tengah kampung.
"Kami akan bikin pondok kecil di sana. Makanannya pun kami perhatikan." katanya. “Dan kalau Bapak minta kompensasi kerugian dalam bentuk uang, kami pun siap.”
“Oh, tidak. Tidak. Keberatan saya bukan soal uang. Tapi bagaimana kalau burung beo itu ditelantarkan?” keluh saya karena sudah telanjur cinta dengan burung beo itu. Saya lalu memandang burung beo itu dengan penuh penghayatan andaikata ia benar-benar akan pergi dari emperan rumah saya. Burung ini dikenal orang Lamaholot dengan nama Lio. Rupanya sungguh cantik. Hijau hijau mengkilap. Kilap bulunya seperti permukaan metal tapi lembut. Tiap hari saya kasih makan pisang kepok dan kadang kadang ulat. Suaranya kalau lagi bersiul begitu bagus. Dua nada bisa ia dibunyikannya serentak.
Maka jadilah kesepakatan kami. Burung beo itu pun jadi diboyong ke perempatan kampung. Seorang aparat desa malah khusus diperintahkan untuk mengawasi burung itu. Sementara yang bertugas menjaga kesejahteraan burung beo itu adalah petugas kebersihan kantor desa. Dana urunan pun disiapkan untuknya.
Dan benarlah. Dalam setahun itu, warga sedesa pun mulai bersemangat gemohing. Yang punya niat nonton taji ayam di pasar Lite bisa sekejap membatalkan niatnya ketika di ujung jalan mendengar suara burung beo itu. Orang itu lantas pulang, ambil cangkul dan parang terus ke kebun ikut gemohing. ‘Gemohing gemohing’. Begitu ucap si burung beo  selalu setiap pagi.
Hal ini sebelumnya tidak pernah saya duga. Burung beo itu ternyata benar benar berjasa besar. Tak hanya di dusun kami yang meroket hasil panen. Dalam tahun kedua karir si beo, semua dusun di desa kami tercatat meningkat hari panennya. Jika dulu mereka masih sering membeli jagung dari pedagang Koli di Waiwadan, kini malah terbalik. Pedagang pedagang dari Koli itu yang malah membeli jagung dari desa kami untuk dijual ke desa lain. Kepala desa pun puas. Persoalan kesejahteraan yang bertahun-tahun gagal dipecahkan oleh kepala desa dan pembantu pembantunya ternyata diselesaikan oleh burung beo dalam sekejap.
Dan pada tahun ketiga, masalah pun muncul. Para warga banyak yang tidak puas karena gemohing itu justru hanya menguntungkan pihak tertentu.
"Dulu saya punya tiga konjak yang rajin rajin. Kini mereka semua mengundurkan diri." keluh om Pudes yang punya bisnis truk angkutan penumpang pasar.
“Setelah saya cek, ternyata mereka ikut gemohing.” katanya sambil mengeluh bahwa bisnisnya kini mundur total.
“Saya tuntut gemohing itu karena merugikan bisnis saya.” kata sang pengusaha itu. Keluhan lain muncul dari para pemilik kebun kelapa. Upah tenaga kerja jadinya meningkat drastis gara-gara semua orang ikut gemohing.
“Kami malah bayar pekerja dari luar desa dengan upah dua kali lipat karena warga di sini tidak mau lagi kerja kepada kami.”  Keluh pemilik kebun kelapa itu.
Kini, usaha angkutan yang dikelola salah satu warga desa itu pun tutup. Penghasilan para pemilik kebun kelapa pun merosot. Mereka yang dulunya lebih sejahtera malah kini mengetatkan ikat pinggang. Belakangan mereka pun ikut gemohing karena mengolah kebun kelapa kini tidak lagi balik modal.
Dengan produksi jagung di desa kami yang meningkat, pengusaha-pengusaha dari luar desa pun berlomba lomba menjemput hasil ladang jagung untuk dijual ke desa lain.
Satu hari, koran Flores Pos langganan kantor desa memuat sebuah headline bahwa produk kopra yang dulunya andalan desa kami terus menurun produksinya.
“Wah, bagaimana ini? Ini pasti gara gara gemohing.” keluh bapak kepala desa. Saya pun menyesal bahwa burung beo saya ternyata tidak punya solusi untuk persoalan ini.  Pagi hari di perempatan kampung, burung beo saya masih setia berbunyi. “Gemohing gemohing”.

Hilang!

*S.M. Dosi
Kampung di kaki Bukit Seburi ini penuh cerita seram sejak dulu. Pemenggal kepala yang lalu lalu lalang, penyamun berkemampuan sihir hingga makhluk halus yang mengerikan. Dan karenanya, melintasi malam adalah pilihan berat bagi Darso, lelaki sepuluh tahun itu. Ia terpaku di bawah bayang-bayang pohon beringin tinggi. Tiga ekor kelelawar raksasa terbang memutar jauh di atas sana. Kepakan sayap mereka mendesau seperti kain dipukulpukul angin. Di hadapan Darso, rumbai rumbai akar beringin tampak seperti tali jebakan menunggu menjerat sasaran. Sesekali terdengar bedebum buah buah masak yang jatuh menimpa tanah di kegelapan sana.
''Ah, tak berani'' cetusnya dalam hati. Gemetar, ia terpaksa berbalik pergi. Padahal kampungnya satu kilometer di depan. Malam pun merangkak perlahan.
....
Di bawah bayang bayang petang, Ina Kidi menjunjung bawaannya. Baru pulang kebun ia. Lelah. Tiba di rumah, ia jumpai Barek, anak perempuannya sendirian di dapur. Lampu teplok temaram bernyala kuning di dalam sana. Sambil mengelap peluh, tercenunglah Ina Kidi, merasa ada yang kurang di rumah itu. Harusnya di jam itu, Darso anaknya sedang di meja belajar.
''Darso mana?'' selidiknya.
Barek sontak terkejut dan berdiri mematung. Rasa dingin yang tadi coba disingkirkan dengan berdiang di api kini tiba tiba lenyap. Ia baru tersadar bahwa keanehan yang dirasakannya sedari tadi adalah bahwa suasana rumah kecil itu terlalu sepi. Biasanya ada suara Darso membalik balik buku, berdehem atau berdecak kecil entah apa yang dipikirkan sang adik di meja makan merangkap meja belajar itu.
''Mana kutahu?'' jawab Barek pangling, ''tak kulihat sedari tadi''
''Jadi, ke mana perginya?''
''Emmm eh...emmm oh tidak pamit kok,'' gelagapan gadis berkuncir itu coba menjawab.
"Jadi ke mana dia?"
Ina Kidi bersuara keras, keluar dan hendak mencarinya ke tetangga-tetangga. Ia kenal betul anaknya. Tidak pernah Darso main berlama-lama ke rumah tetangga, tapi malam itu terpaksa dicari juga. Barek menyusul di belakang.
''Cari ke arah lain.'' Cetus ina Kidi. Menyusurlah mereka berdua dari satu rumah ke rumah lain  hingga semua rumah habis disambangi Ibu dan gadis kecil itu. Dan cerita tentang si lelaki yang hilang pun segera menyebar di kampung kecil nan udik itu. Kentongan dibunyikan. Berita disebar ke setiap sudut kampung, andai saja ada orang lain yang belum mendengarnya. Bila perlu  anjing dan kucing pun harus tahu dan ikut bantu mencari.
Malam itu, kampung Riang Wu’un pun ramai. Orang melongok ulang dari rumah ke rumah.
''Tanya ke Ola. Dia 'kan sering jadi teman main!''
Ola kecil menyeruak dari tengah kerumunan, tapi ia hanya geleng membuat orang-orang tambah bingung.
''Jangan jangan dia kelelahan bermain dan tertidur di salah satu pembaringan.'' seru seseorang.
''Cari ke semua kamar.''  Perintah kepala dusun yang berdiri di halaman tengah kampung.
Orang berseliweran dengan senter dan lampu. Ada yang cepatcepat membuat obor dari bambu atau botol kaca, dan lautan lampu kelap kelip pun tampak menyebar di segenap areal kampung. Semua kamar besar dan kecil digeledah. Kolong tempat tidur yang penuh sarang labalaba pun tak lolos dari pantauan. Sejam kemudian, orang-orang dengan obor dan senter itu kumpul kembali ke tengah kampung dengan satu berita: nihil! Sebuah suara lagi terdengar lantang membangkitkan harap: Jangan sampai ia jatuh dari pohon pinang?
Oh iya. Semua orang tahu kalau Darso sering memanjat pohon pinang di utara kampung. Buah pinang yang sudah masak memang sering jadi barang dagangan untuk melunasi uang sekolahnya.
Ramai ramai semua menyerbu utara kampung. Rerumputan disibak. Semak semak dibabat di sekitar pohon pinang. Tapi ketika mereka berkumpul kembali di hadapan kepala dusun, hasilnya masih sama: nihil.
Diam diam seorang pemuda tegap menyusup ke kampung tetangga, tiga kilometer jauhnya. Di sana memang ada kerabat si Darso. Ia menduga Darso ada di sana meski kemungkinannya kecil karena anak baik itu tak pernah pergi tanpa pamit begitu saja. Tapi si pemuda tetap mencoba. Kemungkinan terkecil pun pasti ada, begitu pikirnya.
Dan benarlah. Dari ujung jalan ketika ia tiba, sudah kelihatan Darso di ruang depan sebuah rumah kecil, disibuki dengan radio transistor.
"Hei. kamu di sini rupanya!" terdengar suara. Lagi menyetel radio, Darso tampak terkejut dan menatap heran. "Eh, kenapa berkunjung malam malam?"
"Ah, harusnya saya yang tanya ke kamu. Kenapa di sini sih? Semua orang sedang mencari cari kamu."
Di tengah kampung Riang Wu'un, kerumunan orang belum bubar. Dari balik kegelapan di barat sana muncul seorang pria dengan sorotan lampu senter. Di depannya tampak siluet lelaki sepuluh tahun berjalan menenteng tong air. Mukanya si anak terangkat penuh keheranan.
Seorang wanita langsung berlari menjemputnya dengan merengut. "Ke mana saja kamu? Kami semua mencarimu...oh Tuhan..."
Dan dengan terbata-bata penuh rasa gugup karena kehebohan yang diciptakannya, berceritalah si Darso.
Petang tadi ia ke mata air karena persediaan air minum hampir habis di rumahnya. Tetapi antrian terlalu panjang. Orang orang mengantri sampai langit gelap. Sementara yang terlihat hanyalah orang orang dari kampung tetangga. Ia terpaksa mengekor rombongan terakhir ibu-ibu dari mata air itu yang kampungnya terletak berjauhan. Di sana memang ada kerabatnya sekadar untuk menginap malam ini.
......
"Nah ayo bubar...." terdengar sebuah suara.
Si Darso beranjak mengikuti orang-orang yang pergi. Ia masih ingat menenteng tong air minumnya. Sementara si kepala dusun berdiri terpaku dan berpikir: andai saja sudah ada pipa air minum dari  mata air ke kampung ini....