Surat Keterangan Polisi, Kapan Digratiskan?



Saya paling sering kehilangan barang yang kecil kecil semacam ATM, flashdisk dan benda benda kecil lainnya yang sayangnya bagi memori otak saya tidak dianggapsebagai benda yang sangat penting untuk diingat. Dan setiap kali hilang, terutama ATM dan kartu kartu semacamnya, saya selalu menguruskan pembuatannya yang baru. Dan untukkesibukan yang ini saya pun berurusan dengan polisi agar dibuatkan surat keterangan kehilangan supaya dapat dibuatkan penggantinya. 
Di kapolsek Adonara Timur, biaya pengurusan ini terbilang cukup mahal: tiga puluh ribu. Terhitung sudah beberapa kali saya kehilangan ATM sehingga saya pun khawatir siapa tahu petugas bank akan mengingat wajah saya dan menolak untuk membuatkan yang baru secara terus menerus seperti itu.
Bosan mengurus di Waiwerang, saya coba mengurus di Maumere. Ide ini saya lakukan atas saran seorang teman bahwa kita bisa menguruskan ATM baru dimana saja andaikata benda tersebut hilang. Ia pun pernah melakukan hal yang sama dan menceriterakan proses pengurusannya. Saya pun mengikuti apa yang ia katakan. Persyaratan seperti KTP pun saya siapkan, lalu meluncur ke sentra pelayanan surat keterangan di Kapolres Maumere, yang terletak di dekat pintu masuk sebelah timur Kantor Kapolres Sikka.
Wah, mengejutkan. Pelayanannya benar-benar sigap dan ramah. Setelah menjabat tangan dan memperkenalkan nama, si petugas menanyakan maksud kedatangan saya. Saya menyampaikan maksud saya dan langsung ditunjuk ke meja mana saya harus berurusan.
Ada sekitar tiga orang lagi yang juga mengantri. Tak sampai lima menit, giliran saya tiba dan saya menuju ke meja layanan. KTP dan buku rekening saya serahkan dan si petugas pun dengan sigap menyelesaikan pekerjaannya. Tak sampai lima menit, berkas saya pun diprint. Saya pun mengambil dompet dan menanyakan biaya jasa layanan tersebut.
“Oh, tidak perlu bayar. Gratis kok,” kata si polwan cantik sambil tersenyum ramah. Saya pun kaget. Wah, baru kali ini, saya dapat pelayanan yang sigap bahkan gratis lagi. Saya ini dari kabupaten tetangga lho tetapi tetap dilayani dengan sempurna.
Dengan mengucapkan banyak-banyak terimakasih, saya pun undur diri menuju BRI Maumere untuk dibuatkan ATM yang baru. Semoga tak hilang lagi yah....
Pembaca sekalian, ini pengalaman saya di kabupaten tetangga. Saya harap pengalaman serupa akan saya dapat di Flores Timur suatu hari nanti.

Terlalu Lama Merantau

Terbilang lebih dari sepuluh tahun di Malaysia dan baru pulkam hari ini, seorang bapak asal pedesaan Adonara Barat turun di Waiwadan hendak ketemu anaknya yang SMP di situ.
Di kost-kostan dekat pasar ia melihat seorang remaja sedang menyapu halaman. Tak menyianyiakan waktu, ia pun mendekati remaja itu dan bertanya:
“Nak, kamu kenal yang namanya Roni? Ia sekolah di SMP Waiwadan.”
Si anak mengangkat kepalanya.
“Iya pak, tapi....”
“Eh, tapi apaan...saya bapaknya. Saya ingin ketemu.”

“Iya pak, tapi yang bapak cari itu kan saya. Saya ini Roni, anaknya Bapak.”

Keliru dalam Tayangan Dialog pada Film Tentang NTT

Film tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) itu terbilang sangat sedikit. Padahal NTT sendiri adalah tempat di mana cikal bakal film di Indonesia hadir, dengan tonggak milestonenya pada film bisu berjudul "Ria Rago." 
 Belakangan ini, bermunculan film yang lokasi syutingnya, baik seluruh atau sebagiannya, dilakukan di NTT. Sebut saja film "Ketika Bung di Ende", "Tana Air Beta", "Atambua 390oC", "Garuda 19", "Pesan dari Samudra" dan lainnya.
Dari beberapa film tersebut, ada saja film yang menyisakan keanehan pada dialog dialognya, yang oleh penutur bahasa asli di NTT atau warga NTT dirasa janggal. Contoh saja dalam film Garuda 19. Ada dialog antara Yabes dengan pacarnya. Si pacar Yabes (yang diperankan bukan oleh talent lokal), yang harusnya mengatakan "jang lupa deng Beta" malah mengucapkan "jangan lupa sama sa". Kata yang belakangan ini maknanya sangat jauh berbeda dari maksud dialog.
 Alih alih mengatakan jangan lupa dengan saya, ia malah mengatakan jangan lupa sama saja. Tentu saja bagi para penutur asli bahasa merasa canggung dengan dialog tersebut karena keluar dari konteks pembicaraan antara kedua pemeran.
Keliru yang berikut ada di film lainnya berjudul Pesan dari Samudra. Di film ini terdapat penyebutan nama kota Larantuka dengan tidak tepat. Kota yang harusnya disebut Larantuka malah disebut dengan nama Ranatua. Tentu saja kekeliruan tersebut sudah sempat dibahas oleh sejumlah generasi muda di media sosial, dan bahkan ada yang sudah menulis kritik kepada para pekerja film.
Bagi saya, kekeliruan ini setidaknya memberitahu kita dua hal. Untuk film Garuda 19, yang ada kesalahan kosakata pada dialog, hal tersebut memberitahu bahwa kosakata bahasa Melayu Kupang belum begitu dikuasai baik oleh insan perfilman, terutama si penulis naskah. Pertanyaan untuk generasi muda NTT, apakah bahasa melayu Kupang sudah  cukup dipopulerkan sehingga dikuasai dengan mudah oleh siapa saja yang mau belajar atau berkepentingan dengannya? Apakah sudah ada sarana pendukung semisal kamus, buku tatabahasa dan lainnya yang mudah dipelajari? Tentu tanpa sarana tersebut maka bahasa melayu Kupang tidak akan mudah berkembang ke luar melampaui para penutur aslinya. Jika kita menginginkan dialek lokal ini menjadi populer, maka ada tantangan sendiri untuk membuat sendiri sarana dimaksud, misalnya dengan menulis kamus. Dengan cara ini kita bisa melestarikan bahasa melayu lokal.
Yang kedua, tinjauan semacam ini hanyalah riak kecil yang menghiasi gelombang bahkan tsunami budaya pertunjukkan. Dunia film tentu sarat dengan berbagai aktivitasnya, yang mana ketepatan penulisan dialog sesuai dengan konteks percakapan dan bahasa lokal adalah satu bagian kecil saja dari seluruh bangunan dunia tersebut. Dengan demikian, perhatian terhadap hal ini menjadi kecil, bahkan dalam insiden ini, malah luput  terbukti dengan adanya kesalahan yang terjadi. Dan di dunia perfilman yang luas ini, di manakah letaknya peran kita? Ini menjadi pertanyaan menggugah karena film sendiri merupakan karya kreatif yang punya nilai ekonomi juga bagi para pekerjanya. Sebuah kritik yang telah kita mulai kepada para pekerja film hendaknya tak hanya sekadar kritik tetapi juga sebagai titik singgung yang kita lakukan untuk mengenal dunia tersebut dan coba mengenal unsur unsur yang berinteraksi di dalamnya, dan pada gilirannya, semoga kita ikut terlibat di dalamnya.

JALAN PERJUANGAN

by S. M. Dosi


Orang tua manapun pasti menginginkan anaknya jadi orang sukses. Dan di Flores, gambaran sukses adalah menjadi pegawai negeri. Orang berlomba lomba meraih pendidikan tinggi di kota kota jauh agar bisa menjadi pegawai negeri. Termasuk Halimah yang kini di Jakarta mengejar ijazah perawat.

Umi dan Abahnya yang nelayan kecil ingin Si Halimah mengantongi ijazah itu dan kembali ke kampung menunggu waktu tes. Orang sekampung bahkan sepropinsi NTT tahunya bahwa pekerjaan paling bergengsi dan dengan penghasilan paling menjanjikan adalah menjadi abdi negara, menjadi PNS. Yang lain tidak! Dan kalaupun ada pekerjaan yang punya penghasilan selangit tanpa perlu banting tulang, itu pastilah kerjaan haram. Adat dan agama melarang itu.

Halimah hanya butuh tiga tahun untuk menyelesaikan diploma keperawatan. Setelah sempat balik kampung, ia ikut saran paman Bosco untuk kembali ke kota ambil pendidikan profesi. Ia lalu diterima di sebuah rumah sakit swasta dan diwajibkan kursus instrumentasi selama enam bulan. Sebuah keluarga kaya pun kepincut dengan ketelatenan gadis Flores ini dan merekrutnya menjadi perawat ibu mereka yang lansia.

Hari hari kerja bagi Halimah berlangsung seperti tanpa jeda. Usai piket rumah sakit disambung merawat klien homecare. Syukur kalau ada waktu ia ikut teman temannya melihat barang high class dan sesekali kepincut membeli.  Tuntutan pekerjaan lantas membuat ia mengubah penampilan serta lingkaran pergaulan. Koleksi barang aksesoris dan pakaian mahal sudah biasa buatnya. Tapi itu dibayar dengan waktu luang yang kini seperti jadi seperti barang mewah. Ponsel miliknya kini lebih banyak mati ketimbang menerima panggilan dari keluarga. Hingga suatu hari telepon dari Uminya ia terima.
"Ke mana saja kamu nomor sering tidak aktif?"
"Sibuk, Mi. Hampir tidak ada waktu santai"
"Memang kerjaan kamu apa?"
"Perawat Mi, juga menangani klien homecare"
"Sampai malam malam pun masih sibuk?"
"Iya Mi, habis shift di klinik kan...."
"Tapi Paman Bosco bilang tempat tinggalmu di gedung mewah"
"Iya Mi...kan..." langsung dipotong "bayar pakai uang siapa?" Suara si Abah yang mengambil alih telepon. "Memang berapa sih gaji perawat?"

Kesal, Halimah yang baru pulang piket jaga pagi membanting tubuhnya di atas sofa, melirik kesibukan di luar sana. Cepat cepat ia menuju ruang atas yang luas. Oma Linda tampak sedang terlihat membaca majalah perawatan bunga berbahasa Inggris, tersenyum ketika Halimah muncul.
"Oma baik?"
"Baik of course"
"Hallo hallo?" Suara wanita di telepon yang volumenya dikecilkan Halimah. Oma Linda hanya mendelik dan kemudian menaikkan alis. Peraturan di situ, dilarang menelepon di jam kerja.

Peralatan di meja kamar diambil Halimah, memeriksa keadaan si klien dan mengisi kartu periksa dan mengembalikannya ke lemari. Setelah lima menit pekerjaan itu, ia pun kembali ke telepon.

"Dengan siapa kamu tadi bicara?"
"Dengan Oma Linda."
"Siapa dia?"
"Kan saya sudah bilang Mi, Oma Linda pasien homecare di sini."
"Ah terserah katamu saja. Tapi asal tahu, kelakuan kamu sudah jadi buah bibir orang sekampung?"
"Kelakuan yang mana Mi?"
"Jangan sok pikun. Kamu pikir orang sekampung yang tidak tahu kerjaan kamu di Jakarta?"
"Omong apa mereka tentang kerjaan Halimah?"
"Banyak. Yang jelas sudah lama kamu menghilang, tidak pernah lagi kumpul keluarga. Sekali nongol setelan kamu macam orang kaya. Tinggalmu di gedung tinggi. Dengan perempuan asing pula. Kerjaan apa itu kalau bukan kerjaan haram?"
"Bukan perempuan Mi, itu Oma Linda. Dan saya di sini bekerja sebagai perawat dan homecare."
"Jangan potong Umi lagi bicara. Kamu pikir saya percaya saja kata kata kamu?"
"Astaga Mi."
"Pokoknya kewajiban kami orang tua untuk peringatkan. Cari kerjaan halal. Jangan bikin malu orang tua. Orang tua hidup susah, jangan lagi ditambah menanggung malu."
Klik, telepon ditutup di seberang.
Halimah hendak menelepon balik tapi kemudian membatalkannya. Kecapaian sehabis lembur sehingga ia memilih menelepon catering dari restoran. Dan sehabis itu memutuskan mandi dan tidur siap tenaga untuk tempur lagi shift pagi esoknya.
Dan hari demi hari, telepon dari kampung datang bertubi-tubi bak serangan meteor. Tapi Halimah tak punya waktu banyak untuk meladeni satu per satu.
Hingga sebulan berselang, paman Bosco pun mengunjunginya di apartemen.
"Maaf tak memberitahu. Keinginan orang tuamu yang membuat saya mesti ke mari."
"Mematamatai tepatnya." timpal Halimah cengengesan.
"Ah, kamu. Normal kan orang tua khawatir soal anak mereka."
"Nah sudah? Lihat semua isi ruangan. Periksa semuanya dan bilang ke sana kerjaan apa saya di sini."
Meski cuma satu kamar tidur dan satu ruang makan plus dapur yang dipakai bareng Sofi dan Hasna, hunian Halimah letaknya di kawasan bergengsi. Foto wisuda tergantung di sudut tenggara sementara sebuah sarung tenun motif Flores dipampang layaknya lukisan dinding. Sebuah lemari besar dengan kaca kanan yang tembus pandang menampilkan tiga setel pakaian perawat. Satu set lengkap sofa menghias ruangan, sementara sisa ruangan di belakang diberi sekat untuk tempat tidur. Sementara dapur yang masih di unit yang sama dipakai bareng dua temannya. Isinya satu kulkas besar dan set dapur lengkap.
"Coba katakan apakah saya tidak punya hak untuk tinggal di sini?"
"Tempat ini mewah. Ya. Pantas persepsi orang bisa salah. Tapi kalau memang kerjaanmu di Jakarta, kenapa bisa pelesiran lebih dari sebulan ke Makasar?"
"Pelesiran? Astaga. Itu kontrak dari instansi untuk general check up ke Makassar. Saya kebagian CT scan lebih dari seribu karyawan sebuah BUMN. Untuk tiap personil saya dapat bonus enam puluh ribu. Kan sudah saya telpon penjelasan panjang lebar ke kampung."
"Iya. Tapi penjelasan kamu tidak laku di sana. Uang transferan kamu empat puluh juta yang katanya bonus  itu masih utuh. Tak rela disentuh orang tua. Duit haram katanya."
Sepi sejenak di kamar lantai sepuluh apartemen itu.
"Jadi, saya harus bagaimana?"
"Pulang."
"Pulang? Kerjaan di sini bagus. Penghasilan bersih saya di sini tiga kali gaji PNS di kampung."

"Ini bukan soal uang. Ini soal orang tua yang khawatirkan anaknya".
Halimah terpaku dengan tatapan putus asa.
"Pertimbangkan itu!" Lanjut Paman Bosco dengan telunjuk mengacung.
Halimah pun memutuskan pulang setelah setahun lebih di metropolitan.

Dan tak lama bagi gadis itu untuk terbiasa kembali dengan kehidupan di Flores. Menjadi tenaga sukarela di RSUD Kabupaten menuruti harapan orang tuanya.
Di sore musim libur lebaran, saat baru saja meletakkan tas kantor di meja kostnya, masuk telepon dari sambungan internasional. Tanpa nama.
"Halimah. Kamu di mana? Pasti lagi miskin di kampung ya" sebuah suara renyah bercampur tawa di seberang. Halimah berjuang mengenali suara si penelpon.
"Halo Halimah, ini Sofi."
Cemberut muka si Halimah. Mau cubit pipi chibby si Sofi mantan rekan kerja waktu di Jakarta itu.
"Kamu di mana?"
"Lihat dong di nomor kontak. Kalau bukan di Aussie di mana coba?"
Halimah terbayang gaya hidup rekan kerja dan senior seniornya di sana. Koleksi barang barang mewah, liburan ke luar negeri. Tapi dengan jam kerja yang tanpa jeda.
"Jalan jalan terus ya kamu"
"Cuti liburan dong. Elo kalau cuti ke mana? Keliling-keliling kampung doang kan? Ikutan gue dong, Shanghai kek, Sidney kek. Gue lagi depan opera Sidney nih. Pesan oleh oleh apa?"
"Lagi tidak butuh oleh oleh. Saya mah lagi butuh duit. Bagi dong"
"Apa? Duit? Mending gue setor ke panti asuhan deh?"
"Hahaha"

Obrolan dengan si soulmate itu niatnya berlangsung lama, tapi harus ditutup tiga jam kemudian karena di depan kost kostan terdengar deru kendaraan dan suara rem mendadak. Petugas berseragam tampak panik nongol dari Ambulance yang terparkir, menanyakan letak kamar Halimah. Pintu kost pun diketuk, dan percakapan telepon si Halimah lantas ditutup.
"Panggilan dari kepala ruangan." ucap petugas berseragam dengan wajah kaku akibat kelelahan.
"Panggilan? Kan baru lepas dinas pagi. Belum mandi pula."
"Darurat dek, butuh operator peralatan. Lagian, ponsel kamu kok mati?"
"Tapi Pak"
"Beri telepon ke Halimah. Bapak mau bicara" Suara tegas jajaran atas RSUD di ponsel. Petugas berseragam menyerahkan ponsel kepada Halimah. Setelah berbicara sesaat, Halimah pun menyambar tas, lalu pergi.
Ambulan pun berderum meninggalkan kostkostan sempit di pinggiran kota itu.

Meski punya penghasilan paspasan dari biaya tindakan keperawatan, Halimah dengan senang hati menjalani hari harinya kini tanpa membuat pusing Umi dan Abahnya.
Awalnya, ia menyesali pilihannya meninggalkan pekerjaannya yang bergelimang uang dan prestise. Tapi kini di RSUD ia adalah satu satunya orang yang melek mengoperasikan peralatan terbaru. Pengalaman setahun lebih di rumah sakit swasta ternama membuatnya tidak lagi canggung dengan peralatan mutakhir.  Meski tanpa kemewahan atau liburan ke luar negeri.



Elegi Pisang Raja

by S. M. Dosi

Berdua dengan Kewa, Riani banjir peluh ketika menjunjung beban berat di kepalanya. Tujuannya masih  jauh, sekitar tiga ratus meter lagi. Itu jarak yang dekat untuk dijangkau, tetapi tidak jika beban tiga puluh kilogram ada di kepala. Berat itu berasal dari beberapa sisir pisang di dalam bungkusan kain serbet yang akan dijual di pasar kecamatan.
Lembah Nurhang adalah dataran subur untuk berbagai jenis pisang, termasuk pisang kepok dan pisang raja. Dan sesuai namanya, yang merajai pasaran kota adalah pisang raja. Harganya mahal. Riani membeli dan mengumpulkan pisang itu dari beberapa petak kebun petani dan mengangkutnya ke titik penjemputan kendaraan. Truk kayu rutin setiap pekan menjemput petani di titik itu, dua kilometer lagi menuju jalan dengan perkerasan batu alam. Jalan beraspal ada dua kilometer lagi.  Sementara di sini, tempat untuk bergulirnya roda kendaraan adalah seumpama arena persiapan mud track yang jika hujan tiba hanya dapat dilewati kendaraan sport ekstrim, bukan kendaraan angkutan pedesaan yang akan menjemput besok nanti.
Riani masih yakin, hari ini akan seperti seminggu sebelumya. Sabtu lalu, yang ia bawa ke pasar adalah satu karung asam jawa. Harganya sedang bagus di pasar. Dan perjalanan ke sana pun mulus.

Bagi warga desa, kendaraan bermesin adalah keajaiban baru yang dibawa peradaban. Jika dulunya asam jawa akan diangkut dengan waktu tempuh berjam jam dan harus meninggalkan pondok sejak dini hari dalam perjalanan berkelompok, maka saat ini cukup berdua dan dijemput langsung di tepian luar lahan tani. Tinggal satu jam duduk manis di antara tumpukan muatan dan berjubelnya penumpang, dan simsalabim pasar kota sudah di depan mata.

"Lho kok menghayal?" Sergah Kewa.
"Ah, enggaklah." Riani memandang ke bola emas di ufuk barat. "Menurutmu besok hujan?"
"Tidak." Jawab Kewa.
Riani kurang yakin. Yang ia tahu, besok akan cerah jika langit barat kemerah merahan di sore ini. Tapi yang dilihatnya kini, tidak!
"Iya semoga saja tidak." Doanya.

Sepuluh bakul pisang mereka tutupi dengan karung dan diikat rapat di atas parapara. Keduanya lalu mundur menuju pondok tani tempat biasanya menginap. Mereka menunggu esok tiba. Menyalakan api, memanaskan air, dan membuka kantung bekal. Jika pagi tiba, mereka akan mandi ke sungai, lalu berpakaian pantas untuk ke pasar kota.

Malam berlalu dihiasi nyanyian jangkrik dan binatang nokturnal. Tapi jelang dinihari, suara guruh menggelegar. Ini awal musim hujan. Tapi hujan harusnya tak mendadak tiba seperti ini. Tanpa bisa dicegah, guyuran turun sejadi jadinya. Dan pagi harinya, arena persiapan mud track telah jadi mud track beneran. Nyali sopir angkutan perdesaan tak cukup besar untuk melintasi kubangan lumpur diselingi tanjakan licin.

Habis sudah. Buah buah berwarna emas menggiurkan itu tak jadi diangkut. Hanya Riani yang tegar, sadar tentang resikonya berbisnis. Sementara para petani diam diam meratapi hasil ladang mereka yang akhirnya tinggal puing puing dan dirusak binatang liar yang pesta pora berkarung karung buah buahan gratis.