Keliru dalam Tayangan Dialog pada Film Tentang NTT

Film tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) itu terbilang sangat sedikit. Padahal NTT sendiri adalah tempat di mana cikal bakal film di Indonesia hadir, dengan tonggak milestonenya pada film bisu berjudul "Ria Rago." 
 Belakangan ini, bermunculan film yang lokasi syutingnya, baik seluruh atau sebagiannya, dilakukan di NTT. Sebut saja film "Ketika Bung di Ende", "Tana Air Beta", "Atambua 390oC", "Garuda 19", "Pesan dari Samudra" dan lainnya.
Dari beberapa film tersebut, ada saja film yang menyisakan keanehan pada dialog dialognya, yang oleh penutur bahasa asli di NTT atau warga NTT dirasa janggal. Contoh saja dalam film Garuda 19. Ada dialog antara Yabes dengan pacarnya. Si pacar Yabes (yang diperankan bukan oleh talent lokal), yang harusnya mengatakan "jang lupa deng Beta" malah mengucapkan "jangan lupa sama sa". Kata yang belakangan ini maknanya sangat jauh berbeda dari maksud dialog.
 Alih alih mengatakan jangan lupa dengan saya, ia malah mengatakan jangan lupa sama saja. Tentu saja bagi para penutur asli bahasa merasa canggung dengan dialog tersebut karena keluar dari konteks pembicaraan antara kedua pemeran.
Keliru yang berikut ada di film lainnya berjudul Pesan dari Samudra. Di film ini terdapat penyebutan nama kota Larantuka dengan tidak tepat. Kota yang harusnya disebut Larantuka malah disebut dengan nama Ranatua. Tentu saja kekeliruan tersebut sudah sempat dibahas oleh sejumlah generasi muda di media sosial, dan bahkan ada yang sudah menulis kritik kepada para pekerja film.
Bagi saya, kekeliruan ini setidaknya memberitahu kita dua hal. Untuk film Garuda 19, yang ada kesalahan kosakata pada dialog, hal tersebut memberitahu bahwa kosakata bahasa Melayu Kupang belum begitu dikuasai baik oleh insan perfilman, terutama si penulis naskah. Pertanyaan untuk generasi muda NTT, apakah bahasa melayu Kupang sudah  cukup dipopulerkan sehingga dikuasai dengan mudah oleh siapa saja yang mau belajar atau berkepentingan dengannya? Apakah sudah ada sarana pendukung semisal kamus, buku tatabahasa dan lainnya yang mudah dipelajari? Tentu tanpa sarana tersebut maka bahasa melayu Kupang tidak akan mudah berkembang ke luar melampaui para penutur aslinya. Jika kita menginginkan dialek lokal ini menjadi populer, maka ada tantangan sendiri untuk membuat sendiri sarana dimaksud, misalnya dengan menulis kamus. Dengan cara ini kita bisa melestarikan bahasa melayu lokal.
Yang kedua, tinjauan semacam ini hanyalah riak kecil yang menghiasi gelombang bahkan tsunami budaya pertunjukkan. Dunia film tentu sarat dengan berbagai aktivitasnya, yang mana ketepatan penulisan dialog sesuai dengan konteks percakapan dan bahasa lokal adalah satu bagian kecil saja dari seluruh bangunan dunia tersebut. Dengan demikian, perhatian terhadap hal ini menjadi kecil, bahkan dalam insiden ini, malah luput  terbukti dengan adanya kesalahan yang terjadi. Dan di dunia perfilman yang luas ini, di manakah letaknya peran kita? Ini menjadi pertanyaan menggugah karena film sendiri merupakan karya kreatif yang punya nilai ekonomi juga bagi para pekerjanya. Sebuah kritik yang telah kita mulai kepada para pekerja film hendaknya tak hanya sekadar kritik tetapi juga sebagai titik singgung yang kita lakukan untuk mengenal dunia tersebut dan coba mengenal unsur unsur yang berinteraksi di dalamnya, dan pada gilirannya, semoga kita ikut terlibat di dalamnya.

JALAN PERJUANGAN

by S. M. Dosi

Orang tua manapun pasti menginginkan anaknya jadi orang sukses. Dan di Flores, gambaran sukses adalah menjadi pegawai negeri. Orang berlomba lomba meraih pendidikan tinggi di kota kota jauh agar bisa menjadi pegawai negeri. Termasuk Halimah yang kini di Jakarta mengejar ijazah perawat.

Umi dan Abahnya yang nelayan kecil ingin Si Halimah mengantongi ijazah itu dan kembali ke kampung menunggu waktu tes. Orang sekampung bahkan sepropinsi NTT tahunya bahwa pekerjaan paling bergengsi dan dengan penghasilan paling menjanjikan adalah menjadi abdi negara, menjadi PNS. Yang lain tidak! Dan kalaupun ada pekerjaan yang punya penghasilan selangit tanpa perlu banting tulang, itu pastilah kerjaan haram. Adat dan agama melarang itu.

Halimah hanya butuh tiga tahun untuk menyelesaikan diploma keperawatan. Setelah sempat balik kampung, ia ikut saran paman Bosco untuk kembali ke kota ambil pendidikan profesi. Ia lalu diterima di sebuah rumah sakit swasta dan diwajibkan kursus instrumentasi selama enam bulan. Sebuah keluarga kaya pun kepincut dengan ketelatenan gadis Flores ini dan merekrutnya menjadi perawat ibu mereka yang lansia.

Hari hari kerja bagi Halimah berlangsung seperti tanpa jeda. Usai piket rumah sakit disambung merawat klien homecare. Syukur kalau ada waktu ia ikut teman temannya melihat barang high class dan sesekali kepincut membeli.  Tuntutan pekerjaan lantas membuat ia mengubah penampilan serta lingkaran pergaulan. Koleksi barang aksesoris dan pakaian mahal sudah biasa buatnya. Tapi itu dibayar dengan waktu luang yang kini seperti jadi seperti barang mewah. Ponsel miliknya kini lebih banyak mati ketimbang menerima panggilan dari keluarga. Hingga suatu hari telepon dari Uminya ia terima.
"Ke mana saja kamu nomor sering tidak aktif?"
"Sibuk, Mi. Hampir tidak ada waktu santai"
"Memang kerjaan kamu apa?"
"Perawat Mi, juga menangani klien homecare"
"Sampai malam malam pun masih sibuk?"
"Iya Mi, habis shift di klinik kan...."
"Tapi Paman Bosco bilang tempat tinggalmu di gedung mewah"
"Iya Mi...kan..." langsung dipotong "bayar pakai uang siapa?" Suara si Abah yang mengambil alih telepon. "Memang berapa sih gaji perawat?"

Kesal, Halimah yang baru pulang piket jaga pagi membanting tubuhnya di atas sofa, melirik kesibukan di luar sana. Cepat cepat ia menuju ruang atas yang luas. Oma Linda tampak sedang terlihat membaca majalah perawatan bunga berbahasa Inggris, tersenyum ketika Halimah muncul.
"Oma baik?"
"Baik of course"
"Hallo hallo?" Suara wanita di telepon yang volumenya dikecilkan Halimah. Oma Linda hanya mendelik dan kemudian menaikkan alis. Peraturan di situ, dilarang menelepon di jam kerja.

Peralatan di meja kamar diambil Halimah, memeriksa keadaan si klien dan mengisi kartu periksa dan mengembalikannya ke lemari. Setelah lima menit pekerjaan itu, ia pun kembali ke telepon.

"Dengan siapa kamu tadi bicara?"
"Dengan Oma Linda."
"Siapa dia?"
"Kan saya sudah bilang Mi, Oma Linda pasien homecare di sini."
"Ah terserah katamu saja. Tapi asal tahu, kelakuan kamu sudah jadi buah bibir orang sekampung?"
"Kelakuan yang mana Mi?"
"Jangan sok pikun. Kamu pikir orang sekampung yang tidak tahu kerjaan kamu di Jakarta?"
"Omong apa mereka tentang kerjaan Halimah?"
"Banyak. Yang jelas sudah lama kamu menghilang, tidak pernah lagi kumpul keluarga. Sekali nongol setelan kamu macam orang kaya. Tinggalmu di gedung tinggi. Dengan perempuan asing pula. Kerjaan apa itu kalau bukan kerjaan haram?"
"Bukan perempuan Mi, itu Oma Linda. Dan saya di sini bekerja sebagai perawat dan homecare."
"Jangan potong Umi lagi bicara. Kamu pikir saya percaya saja kata kata kamu?"
"Astaga Mi."
"Pokoknya kewajiban kami orang tua untuk peringatkan. Cari kerjaan halal. Jangan bikin malu orang tua. Orang tua hidup susah, jangan lagi ditambah menanggung malu."
Klik, telepon ditutup di seberang.
Halimah hendak menelepon balik tapi kemudian membatalkannya. Kecapaian sehabis lembur sehingga ia memilih menelepon catering dari restoran. Dan sehabis itu memutuskan mandi dan tidur siap tenaga untuk tempur lagi shift pagi esoknya.
Dan hari demi hari, telepon dari kampung datang bertubi-tubi bak serangan meteor. Tapi Halimah tak punya waktu banyak untuk meladeni satu per satu.
Hingga sebulan berselang, paman Bosco pun mengunjunginya di apartemen.
"Maaf tak memberitahu. Keinginan orang tuamu yang membuat saya mesti ke mari."
"Mematamatai tepatnya." timpal Halimah cengengesan.
"Ah, kamu. Normal kan orang tua khawatir soal anak mereka."
"Nah sudah? Lihat semua isi ruangan. Periksa semuanya dan bilang ke sana kerjaan apa saya di sini."
Meski cuma satu kamar tidur dan satu ruang makan plus dapur yang dipakai bareng Sofi dan Hasna, hunian Halimah letaknya di kawasan bergengsi. Foto wisuda tergantung di sudut tenggara sementara sebuah sarung tenun motif Flores dipampang layaknya lukisan dinding. Sebuah lemari besar dengan kaca kanan yang tembus pandang menampilkan tiga setel pakaian perawat. Satu set lengkap sofa menghias ruangan, sementara sisa ruangan di belakang diberi sekat untuk tempat tidur. Sementara dapur yang masih di unit yang sama dipakai bareng dua temannya. Isinya satu kulkas besar dan set dapur lengkap.
"Coba katakan apakah saya tidak punya hak untuk tinggal di sini?"
"Tempat ini mewah. Ya. Pantas persepsi orang bisa salah. Tapi kalau memang kerjaanmu di Jakarta, kenapa bisa pelesiran lebih dari sebulan ke Makasar?"
"Pelesiran? Astaga. Itu kontrak dari instansi untuk general check up ke Makassar. Saya kebagian CT scan lebih dari seribu karyawan sebuah BUMN. Untuk tiap personil saya dapat bonus enam puluh ribu. Kan sudah saya telpon penjelasan panjang lebar ke kampung."
"Iya. Tapi penjelasan kamu tidak laku di sana. Uang transferan kamu empat puluh juta yang katanya bonus  itu masih utuh. Tak rela disentuh orang tua. Duit haram katanya."
Sepi sejenak di kamar lantai sepuluh apartemen itu.
"Jadi, saya harus bagaimana?"
"Pulang."
"Pulang? Kerjaan di sini bagus. Penghasilan bersih saya di sini tiga kali gaji PNS di kampung."

"Ini bukan soal uang. Ini soal orang tua yang khawatirkan anaknya".
Halimah terpaku dengan tatapan putus asa.
"Pertimbangkan itu!" Lanjut Paman Bosco dengan telunjuk mengacung.
Halimah pun memutuskan pulang setelah setahun lebih di metropolitan.

Dan tak lama bagi gadis itu untuk terbiasa kembali dengan kehidupan di Flores. Menjadi tenaga sukarela di RSUD Kabupaten menuruti harapan orang tuanya.
Di sore musim libur lebaran, saat baru saja meletakkan tas kantor di meja kostnya, masuk telepon dari sambungan internasional. Tanpa nama.
"Halimah. Kamu di mana? Pasti lagi miskin di kampung ya" sebuah suara renyah bercampur tawa di seberang. Halimah berjuang mengenali suara si penelpon.
"Halo Halimah, ini Sofi."
Cemberut muka si Halimah. Mau cubit pipi chibby si Sofi mantan rekan kerja waktu di Jakarta itu.
"Kamu di mana?"
"Lihat dong di nomor kontak. Kalau bukan di Aussie di mana coba?"
Halimah terbayang gaya hidup rekan kerja dan senior seniornya di sana. Koleksi barang barang mewah, liburan ke luar negeri. Tapi dengan jam kerja yang tanpa jeda.
"Jalan jalan terus ya kamu"
"Cuti liburan dong. Elo kalau cuti ke mana? Keliling-keliling kampung doang kan? Ikutan gue dong, Shanghai kek, Sidney kek. Gue lagi depan opera Sidney nih. Pesan oleh oleh apa?"
"Lagi tidak butuh oleh oleh. Saya mah lagi butuh duit. Bagi dong"
"Apa? Duit? Mending gue setor ke panti asuhan deh?"
"Hahaha"

Obrolan dengan si soulmate itu niatnya berlangsung lama, tapi harus ditutup tiga jam kemudian karena di depan kost kostan terdengar deru kendaraan dan suara rem mendadak. Petugas berseragam tampak panik nongol dari Ambulance yang terparkir, menanyakan letak kamar Halimah. Pintu kost pun diketuk, dan percakapan telepon si Halimah lantas ditutup.
"Panggilan dari kepala ruangan." ucap petugas berseragam dengan wajah kaku akibat kelelahan.
"Panggilan? Kan baru lepas dinas pagi. Belum mandi pula."
"Darurat dek, butuh operator peralatan. Lagian, ponsel kamu kok mati?"
"Tapi Pak"
"Beri telepon ke Halimah. Bapak mau bicara" Suara tegas jajaran atas RSUD di ponsel. Petugas berseragam menyerahkan ponsel kepada Halimah. Setelah berbicara sesaat, Halimah pun menyambar tas, lalu pergi.
Ambulan pun berderum meninggalkan kostkostan sempit di pinggiran kota itu.

Meski punya penghasilan paspasan dari biaya tindakan keperawatan, Halimah dengan senang hati menjalani hari harinya kini tanpa membuat pusing Umi dan Abahnya.
Awalnya, ia menyesali pilihannya meninggalkan pekerjaannya yang bergelimang uang dan prestise. Tapi kini di RSUD ia adalah satu satunya orang yang melek mengoperasikan peralatan terbaru. Pengalaman setahun lebih di rumah sakit swasta ternama membuatnya tidak lagi canggung dengan peralatan mutakhir.  Meski tanpa kemewahan atau liburan ke luar negeri.



Elegi Pisang Raja

by S. M. Dosi

Berdua dengan Kewa, Riani banjir peluh ketika menjunjung beban berat di kepalanya. Tujuannya masih  jauh, sekitar tiga ratus meter lagi. Itu jarak yang dekat untuk dijangkau, tetapi tidak jika beban tiga puluh kilogram ada di kepala. Berat itu berasal dari beberapa sisir pisang di dalam bungkusan kain serbet yang akan dijual di pasar kecamatan.
Lembah Nurhang adalah dataran subur untuk berbagai jenis pisang, termasuk pisang kepok dan pisang raja. Dan sesuai namanya, yang merajai pasaran kota adalah pisang raja. Harganya mahal. Riani membeli dan mengumpulkan pisang itu dari beberapa petak kebun petani dan mengangkutnya ke titik penjemputan kendaraan. Truk kayu rutin setiap pekan menjemput petani di titik itu, dua kilometer lagi menuju jalan dengan perkerasan batu alam. Jalan beraspal ada dua kilometer lagi.  Sementara di sini, tempat untuk bergulirnya roda kendaraan adalah seumpama arena persiapan mud track yang jika hujan tiba hanya dapat dilewati kendaraan sport ekstrim, bukan kendaraan angkutan pedesaan yang akan menjemput besok nanti.
Riani masih yakin, hari ini akan seperti seminggu sebelumya. Sabtu lalu, yang ia bawa ke pasar adalah satu karung asam jawa. Harganya sedang bagus di pasar. Dan perjalanan ke sana pun mulus.

Bagi warga desa, kendaraan bermesin adalah keajaiban baru yang dibawa peradaban. Jika dulunya asam jawa akan diangkut dengan waktu tempuh berjam jam dan harus meninggalkan pondok sejak dini hari dalam perjalanan berkelompok, maka saat ini cukup berdua dan dijemput langsung di tepian luar lahan tani. Tinggal satu jam duduk manis di antara tumpukan muatan dan berjubelnya penumpang, dan simsalabim pasar kota sudah di depan mata.

"Lho kok menghayal?" Sergah Kewa.
"Ah, enggaklah." Riani memandang ke bola emas di ufuk barat. "Menurutmu besok hujan?"
"Tidak." Jawab Kewa.
Riani kurang yakin. Yang ia tahu, besok akan cerah jika langit barat kemerah merahan di sore ini. Tapi yang dilihatnya kini, tidak!
"Iya semoga saja tidak." Doanya.

Sepuluh bakul pisang mereka tutupi dengan karung dan diikat rapat di atas parapara. Keduanya lalu mundur menuju pondok tani tempat biasanya menginap. Mereka menunggu esok tiba. Menyalakan api, memanaskan air, dan membuka kantung bekal. Jika pagi tiba, mereka akan mandi ke sungai, lalu berpakaian pantas untuk ke pasar kota.

Malam berlalu dihiasi nyanyian jangkrik dan binatang nokturnal. Tapi jelang dinihari, suara guruh menggelegar. Ini awal musim hujan. Tapi hujan harusnya tak mendadak tiba seperti ini. Tanpa bisa dicegah, guyuran turun sejadi jadinya. Dan pagi harinya, arena persiapan mud track telah jadi mud track beneran. Nyali sopir angkutan perdesaan tak cukup besar untuk melintasi kubangan lumpur diselingi tanjakan licin.

Habis sudah. Buah buah berwarna emas menggiurkan itu tak jadi diangkut. Hanya Riani yang tegar, sadar tentang resikonya berbisnis. Sementara para petani diam diam meratapi hasil ladang mereka yang akhirnya tinggal puing puing dan dirusak binatang liar yang pesta pora berkarung karung buah buahan gratis.


Data Lahan: Ketika Sudut Pandang Perdata dan Administrasi Dicampuradukkan

Mulanya saya mengira bahwa mencampuradukkan masalah lahan antara sudut pandang perdata dan administrasi hanyalah dilakukan oleh kaum awam karena kekurangpahaman mereka membedakan kedua entitas ini. Kita lihat bahwa masyarakat umum sering salah pandang terkait kepemilikan (perdata) terhadap sebidang tanah dicampuradukkan dengan masalah administrasi pemerintahan terkait data lahan tertentu dalam wilayah pemerintahan dimaksud. Ketika sebuah masalah lahan mencuat, umumnya pada lahan yang terletak di perbatasan antardesa, maka yang sekaligus muncul adalah konflik perbatasan administrasi antardesa tersebut. Begitu pula sebaliknya, ketika ada persoalan perbatasan administrasi antardesa, maka yang ikut-ikutan menjadi persoalan adalah masalah kepemilikan lahan sehingga penyelesaian menjadi berlarut larut. Tiap pihak orang perorangan atau kelompok pemilik ulayat berlomba lomba mencari bukti kepemilikan (perdata) atas lahan yang dimaksud serta saling perang bukti maupun klaim. Sementara di lain pihak pemerintah (baik yang berdaulat kini maupun pemerintah kerajaan pada masa lalu) turun campur dengan bukti-bukti administrasi atau catatan catatan kepemerintahan yang pernah dibuat atau diputuskan dan mempunyai kekuatan hukum administratif (bukan hukum perdata).
Pemahaman hukum masyarakat pun belum pada tahap memadai, dan di lain pihak pemerintah masih abai dalam memberi informasi yang benar. Tapi yang parah adalah ketika pihak pemerintah ikut-ikutan memiliki cara pandang yang belum mengena dalam membedakan kedua masalah ini: antara masalah kepemilikan (perdata) atas lahan dengan hak serta kewajiban yang melekat pada orang sebagai subyek hukum terhadap lahan dimaksud, dan di lain pihak masalah data administrasi yang tak ada sangkut pautnya dengan hak perdata.
Tinjau contoh kasus pada data luas lahan sawah di Adonara Barat. Lahan ini terletak diapit oleh beberapa desa. Sementara yang mengelola lahan ini bisa saja berasal dari desa lain. Tentu saja ikatan kepemilikan ataupun hak pengelolaan (perdata) ada pada pihak pihak yang secara aktual beraktivitas pada lahan tersebut, sementara data administrasi tentu  masuk pada wilayah desa dimana obyek/lahan tersebut berada, bukan pada orang per orang atau subyek sebagai pelaku hukumnya.  Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Kecamatan Adonara Barat justru mencampur adukkan kedua hal ini, tercermin dari sajian data yang mereka berikan pada laporan Adonara Barat Dalam Angka. Dalam sajian data tersebut ada dua problem yang saya lihat. Pertama, data luas lahan yang kurang tepat karena kekurangan SDM surveyor/tenaga pengukur lahan serta peralatan mereka. Dengan demikian, luas lahan yang disajikan hanyalah perkiraan belaka dan tentu jauh dari mendekati kebenaran faktual. Padahal dengan memanfaatkan fitur peta online gratisan di internet, perkiraan luas lahan menjadi lebih mendekati tepat. Contoh pada lahan yang ada, total luas menurut data Adonara Barat dalam Angka adalah seratus limapuluh hektar lebih padahal faktual di lapangan menunjukkan luasnya tak lebih dari enam puluh hektar. Hal ini masih dapat ditolerir berhubung terbatasnya SDM surveyor yang tentu berada di luar kendali pihak kecamatan. Tetapi masalah kedua adalah masalah paradigma administrasi pemerintahan yang memasukkan unsur perdata di dalamnya.
Iya, di dalam data pihak kecamatan dimaksud disebutkan bahwa luas lahan sawah milik desa Homa adalah seluas 50 ha. Padahal jika kita crosscheck dalam wilayah pemerintahan desa Homa, di sana tidak terdapat lahan persawahan sepetak pun. Tapi kenapa nama desa Homa ikut masuk dalam data kepemilikan lahan? Itu karena lahan sawah tersebut diolah alias ada hubungan perdatanya dengan subyek hukumnya yang adalah warga desa Homa.
Inilah masalahnya. Dalam data administrasi luas lahan dimasukan unsur perdata yaitu hak kepemilikan/pengelolaan dari warga desa Homa.
Harusnya, dalam data administrasi, desa Homa tidak memiliki lahan sawah sepetakpun.  Itu tidak bukan masalah, sebab data administrasi tidak ada sangkut paut langsung dengan hak kewajiban perdata. Sementara secara ikatan perdata antara orang per orang, tentu saja mereka memiliki hak atas lahan tersebut. Jadi data administrasi tidak menghilangkan hak perdata mereka atas lahan yang selama ini mereka olah.
Data administrasi kepemerintahan  memang tidak dapat dijadikan bukti kepemilikan atas lahan. Seseorang dari desa lain bisa saja memiliki lahan pada desa tetangga bahkan bila perlu punya lahan juga di kecamatan lain. Tetapi lahan tersebut bukan terhitung sebagai lahan yang secara administrasi sebagai wilayah milik desa tempat ia berada. Warga desa Homa bisa punya sawah di desa Waiwadan, tetapi secara administrasi lahan tersebut tetap masuk dalam wilayah Waiwadan. Bukan masuk wilayah Homa seperti dalam data kecamatan. Kendali administrasi Desa hanya melekat pada orang perorangan di wilayahnya, bukan pada obyek perdata di luar wilayah pemerintahannya.
Cara pandang yang mencampuradukkan iniah yang justru menjadi salah satu pendorong konflik selama ini dimana masyarakat awam mengira bahwa data administrasi kepemerintahan punya dampak langsung terhadap hak perdata atas lahan tertentu dan sebaliknya.

Dan akhirnya, terimakasih untuk usaha pihak kecamatan dalam menerbitkan data yang bisa diakses kalangan umum. (Simpet Soge)

Catatan Awal Rahmadan

Sudah lewat beberapa hari awal puasa berlalu. Pasti di tempat masing-masing ada banyak cerita. Misalnya di Adonara Tengah, ada keluarga muslim yang melakukan upacara tradisi mandi sebelum puasa.
Meski non muslim, tempat kerja saya terletak di kampung berpenghuni seratus persen muslim. Begitu pula teman kerja saya lebih banyak yang muslim. Tentu saja saya tidak lepas dari suasana puasa.
 Di hari pertama ini, saya amati ada saja yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Utamanya anak-anak maupun remaja yang 'jam terbang' puasanya belum sejajar orang dewasa. Maklum, baru hari pertama untuk tahun ini bukan?
Nah, di sekitar tempat kerja saya, hal ini sempat saya catat. Kemarin pagi ketika mampir isi pulsa di kios, ada remaja putri datang juga beli kerupuk.
''Tidak puasa Mbak?'' tanya si penjaga kios.
''Puasa dong..'' sahut si remaja. Ternyata yang belum bisa beneran puasa  adalah dua malaikat kecil yang mengawal si gadis. Iya, dua kanak kanak yang tampaknya belum genap lima tahun itu mungkin belum bisa menyesuaikan diri dengan jadwal baru dimana sarapan pagi di rumah dihapus! Alhasil, mereka menuntut dibelikan kerupuk di kios hehehe. Mudah-mudahan besok tidak lagi ya dek. Adek pasti bisa deh. Kan ada iklan 'anak kecil aja bisa'...eh tau...eh apa ya? Hehehe.
Hal yang serupa kemarin saya temui pas beli aqua galon. Maklum, hari hari ini ada liburan sekolah dan anak kost pulang kampung semua. Tiba di tempat galon, sudah agak siang, seorang remaja mampir bongkar bangkir freezer pajangan minuman.
''Eh, koq tidak puasa?'' sergap remaja putri penjaga kios di bilangan Lamahala.
''Ups, wah hampir lupa!''  kata si remaja lelaki anak SMA yang sadar lalu urung ambil minuman.
''Wah untung ya diingatkan'' katanya lagi ''kalau tidak batal duluan deh''.
Di hari puasa ini, akan ada kegiatan yang molor atau dikurangi. Misalnya bengkel sepanjang jalan perkampungan muslim pantai selatan Adonara tidak buka sejak pagi-pagi. Bahkan sebuah turnamen sepakbola di Larantuka yang bertepatan dengan jadwal puasa tidak diikuti oleh klub dari kota Waiwerang.
Sementara pengamatan saya sekilas waktu belanja dapur, aktivitas para pedagang di pasar masih seperti biasa. Tetapi kegiatan melaut selama bulan ini menurun drastis. Warga pegunungan Adonara pun sudah tahu bahwa harga barang utamanya ikan laut akan melambung tinggi pada bulan rahmadan ini.
BTW, selamat puasa saja semua teman dan handai taulan.

Raih kemenangan atas hawa nafsu, raih keberkahan!! (Simpet Soge)