Fotoku

Fotoku

Mengapa Minat Baca Rendah?

Satu hal yang saya catat adalah karena bahan bacaan dianggap sebagai sesuatu yang asing dan tak ada relevansinya dengan hidup sehari-hari. Di kampung, masyarakat akan lebih tertarik dengan bacaan yang menuturkan tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya dan apa yang berhubungan dengan kehidupan mereka. Kisah-kisah tentang kampung-kampung maupun pulau yang dihuninya serta aktivitas mereka akan menjadi sesuatu yang menarik. Tetapi nyatanya, ketersediaan bahan bacaan seperti itu jauh dari kebutuhan. Buku-buku yang beredar pun sangat terbatas, lebih banyak adalah buku teks sekolah yang dibuat oleh pemerintah dengan jumlah koleksi dan varian yang minim. 
Seorang anak sekolah, ketika  beranjak membaca ditawari bahan-bahan bacaan yang sama sekali tidak menarik karena terjadi lompatan logika dan mental yang begitu jauh. Ketika tidur semalam mereka dininabobokan dengan cerita ‘Luku dan Lada’ (Tikus dan Belalang) oleh nenek mereka di ranjang, eh paginya di sekolah telah berhadapan dengan cerita Budi Iwan dan Wati yang jelas-jelas tipikal anak kota. 

Buruk Nama Novel, Roman Picisan Sebabnya



Pada materi ajar bahasa dan sastra Sekolah Menengah sering kita temui suruhan untuk membaca novel besutan balai pustaka seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan lain-lainnya. Tetapi pada saat yang sama, peraturan disiplin sejumlah sekolah di bumi Lamaholot sering memuat larangan membawa novel ke lingkungan sekolah. Dua fakta yang sama sekali bertentangan. Mengapa demikian?
Rupanya larangan dalam buku panduan tata tertib sekolah tersebut merujuk ‘novel’ sebagai buku cerita remaja 17+ yang dijual di toko-toko umum dengan harga terjangkau. Buku-buku tanpa ijin terbit ini sering dikenal dengan nama roman picisan yang biasanya berisi kisah petualangan cinta yang kadang-kadang memuat adegan dewasa. Untuk kelas tiga SMA, buku ini barangkali layak baca karena usia mereka sudah mencapai tujuh belas. Tetapi untuk siswa kelas di bawahnya yang belum matang secara emosi, buku ini secara psikologis belum siap untuk mereka simak.

Dari Ladang ke Kampung: Visi Ekonomi Mendahului Ikatan Sosial



Tadi siang sempat mengomentari pilihan orang-orang yang setelah tamat pendidikan, ketimbang mengejar lowongan sesuai keahlian dan pendidikan, kok malah pulang kampung untuk sungkeman atau entah apalah. Ada kecendrungan untuk mengutamakan hal tersebut dan orang-orang berpotensi ini pun malah menjadi pengangguran terdidik. Saya pun ngedumel, seberapa pentingnya sih pulang kampung jika sudah ada lowongan yang siap menerima freshgraduate? Apakah pulang ke kampung itu sesuatu yang penting bin gawat? Sepenting apakah itu?
Mari lihat sepintas sejarah kampung-kampung. Kampung terbentuk mula-mula dari ladang dan kebun, yang kemudian berkembang menjadi hunian. Kesimpulannya, yang lebih dahulu tercipta di muka bumi ini adalah ladang yang adalah personifikasi dari lapangan kerja. Lapangan kerja itulah yang kemudian menciptakan hunian-hunian baru. Hunian-hunian kecil pun berevolusi menjadi kampung dan membesar menjadi kota.

Danau Kelimutu Flores: Wadah Pewarna Sang Pelukis Agung


Tuhan menciptakan dunia seisinya hanya dengan bersabda. Kun fayakun dalam bahasa Timur Tengah. Jadi, maka jadilah. Bumi dan isinya pun lahir. Penuh warna dan warni. Tapi konon, waktu itu langit masih hitam kelam. Para malaikat, -pembantu dan hamba sahaya-Nya- pun memohon dikaruniai keajaiban untuk ikut bekerja. Mereka meminta untuk menjejak bumi dan mewarnai langit. Tuhan -Sang Pelukis Agung- pun berkenan. Ia memberikan mereka peralatan ajaib untuk melukis tetapi dengan pesan: pergilah dan selesaikan pekerjaan itu dengan segera, sebab pada hari ketujuh kita akan beristirahat.
Sayang, para malaikat itu begitu keasyikan mewarnai: ada yang mewarnai langit siang yang biru, langit malam yang hitam, dan langit senja yang lembayung. Ada pula yang mewarnai awan, dan yang lainnya mewarnai aurora dekat kutub.
Ketika hari ketujuh menjelang, mereka pun terburu buru meninggalkan bumi sehingga wadah pewarna mereka ada yang tertinggal berceceran.
Kelak, wadah raksasa yang tertinggal itu menjelma menjadi danau Kelimutu. Jumlahnya tiga dengan tiga warna berbeda. 

Sengketa Tanah Meningkat, Data Luas Lahan Kok Amburadul?

Kemarin saya sempat ke kampung mengurus surat dari Kepala Desa yang bertindak memverifikasi kebenaran data isian pihak keluarga sebagai persyaratan diterapkannya sistim UKT (Uang Kuliah Tunggal) anggota keluarga saya yang barusan diterima di salah satu PT Negeri. Ketika tiba, aparat terlihat sedang sibuk mengisi blanko kuesioner dari kecamatan yang berisi data keluarga termasuk data luas lahan milik segenap keluarga di desa.
Sembari menunggu surat saya diproses, saya tentu bisa menyimak pembicaraan serta apa yang aparat kerjakan di aula balai desa itu. Terlihat bahwa kuesioner yang mereka isi tidak ada kop surat atau logo instansi sehingga saya pikir bahwa itu mungkin saja angket yang disebar salah satu peneliti.