Sabtu, 07 November 2009

MENGETIK TANPA KEYBOARD

Jika kamu punya ponsel Sonny Ericsson model K770i atau beberapa seri lain dan ponsel Nokia dengan sambungan (infrared, bluetooth), kamu boleh mencoba mengetik makalah, tugas, atau beberapa bahan lainnya dengan ponsel Nokia. File ketikan di ponsel Nokia tersebut kemudian dipindahkan ke komputer melalui ponsel Sonny Ericsson.
Seberapa cepat? Percobaan kecil pernah saya buat. Mengetik di keypad dengan mengaktifkan fitur prediksi (merk dagangnya T9) ternyata lebih cepat daripada mengetik di keyboard. Keterbatasannya, kita hanya bisa mengetik teks biasa, jadi tidak bisa memasukkan gambar, tabel atau pemformatan teks khusus lainnya. Selain itu, kekurangan seriusnya, cara ini berpengaruh pada kenyamanan jari tangan kalau mengetik dalam jangka waktu yang lama.
Kebutuhan adalah alasan saya untuk mencoba cara ini. Awalnya, ketika saya mengirim file catatan dari ponsel Nokia ke ponsel Sonny Ericsson, ternyata file itu tersimpan di folder 'other'. Saya telah ketahui sebelumnya bahwa file itu terbaca dengan program notepad pada komputer ketika komputer dan ponsel tersambung. Artinya, file-file teks pada ponsel Nokia dapat dibaca dan dipindahkan dengan mudah ke komputer.
Di ponsel Nokia, tersedia fitur catatan yang mampu memuat file teks sampai 3000 karakter. Untuk mengetik, telah ada perangkat lunak yang membantu prediksi kata yang dimasukkan, yaitu 'kamus' dengan merk dagang T9. Tidak banyak yang saya tahu tentang merek itu, tapi yang jelas, perangkat itu terdapat hampir di semua ponsel. T9 membantu mempercepat input teks karena setiap huruf cukup ditekan sekali pada keypad.

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja T9 ini, coba buka halaman penulisan pesan singkat (SMS) pada ponsel anda, lalu hidupkan T9.
Caranya, tekan cepat dua kali tombol pagar (pada ponsel Nokia), atau tekan tahan tombol bintang (pada ponsel Sonny Ericsson). Setelah tanda T9 muncul, mulailah mengetik, misalnya kalimat ini 'Saya mengetik makalah di handphone'.
Untuk mengetik kata 'saya', anda hanya perlu menekan sekali tiap-tiap tombol ini: 7, 2, 9, dan 2. Setelah tombol terakhir ditekan, maka di layar akan muncul tulisan 'saya'. Tekan spasi untuk beralih ke kata berikutnya, 'mengetik'. Tekan berturut-turut tiap tombol ini masing-masing satu kali. 6, 3, 6, 4, 3, 8, 4, dan 5. Setelah tombol terakhir ditekan, di layar akan muncul kata 'mengetik'. Tekan spasi untuk beralih ke kata berikut, 'makalah'. Tekan berturut-turut sekali tombol berikut. 6, 2, 5, 2, 5, 2 dan 4. Akan muncul kata 'majalah'. Untuk mengganti ke kata 'makalah', tekan tanda bintang satu kali.
Pada fitur catatan di ponsel Nokia, satu halaman catatan bisa menampung 3000 karakter, bisa dibandingkan dengan satu halaman kertas. Jadi, anda bisa mengetik sejumlah besar teks, dan kalau ruang halaman telah penuh, buatlah halaman catatan baru.
Ponsel Sonny Ericsson sendiri tidak punya fitur catatan sedangkan teks pada Nokia tidak bisa terbaca langsung di komputer sehingga dengan menggunakan kedua jenis ponsel ini, ketikan dapat dibuat dan disalin ke komputer. Kegiatan mengetik pun dapat dilakukan kapan saja, misalnya kita bisa mengetik saat dalam kendaraan atau sedang dibonceng dengan sepeda motor, karena hanya dengan memegang ponsel dengan sebelah tangan dan menggunakan dua belas tombol keypad. Resiko kesalahan menulis pun sangat kecil karena semua kata telah terdaftar dalam kamus.
Saya sendiri selalu menggunakan cara ini karena tidak punya PC sendiri. Dan menurut yang saya ketahui, kebanyakan teman-teman belum familiar dengan perangkat T9 dan hanya menggunakan fitur catatan pada ponsel untuk kutipan atau tulisan singkat. Padahal penggunaan komputer yang mengkonsumsi daya listrik yang besar itu sebagian besarnya adalah untuk kegiatan mengetik.

Seandainya kita mengetik di ponsel, kita bisa melakukannya di mana saja, tanpa dibatasi oleh tempat dan perangkat yang besar dan kelihatan mentereng seperti komputer desktop, laptop, atau palmtop. Dengan sebuah ponsel Nokia di genggaman, kita bisa mengetik makalah, laporan, berita, atau hal ringan lain. Dengan ini, kita bisa pula menghemat listrik.

Contohnya, banyak dari isi blog saya diketik dari ponsel. Banyak pula catatan-catatan ringan tentang apa yang saya pikirakan saya ketik pula di ponsel untuk dibaca kemudian.


Tips singkat

Buat catatan
Tekan 'menu''agenda' 'catatan' 'pilihan' 'buat catatan'. Setelah selesai mengetik, pilih opsi 'simpan'. Sebaiknya buat dengan nomor halaman di awal ketikan. Untuk membuat catatan atau halaman baru, tekan 'pilihan' 'buat catatan'.

Mengetik
• Pastikan prediksi aktif. Tandanya, ada gambar pensil dengan dua garis di samping kiri. Untuk mengaktifkan prediksi, tekan cepat dua kali tombol pagar. Begitu pula cara mematikannya.
• Kata akan terbaca bila semua tombol telah selesai ditekan. Jadi, jangan terkecoh jika tulisan yang tampil tidak sesuai dengan maksud anda. Setelah semua tombol telah selesai ditekan, pasti akan muncul kata yang anda maksudkan.
• Jika kata yang muncul tidak sesuai dengan yang anda maksudkan, tekan tanda bintang sampai kata tersebut muncul. Jika tetap tidak muncul, pilih eja, lalu ketik kata anda seperti biasa, kemudian tekan simpan.
• Untuk memasukkan akronim, lambang, singkatan, nama tempat atau hal lain yang belum tersimpan dalam kamus, matikan prediksi dan mengetiklah seperti biasa.
• Untuk menambahkan tanda titik, tekan tombol '1'. Untuk memasukkan tanda koma, tanya, dan lainnya, tekan tanda bintang setelah menekan tombol 1.
• Untuk menambahkan simbol lain seperti enter, tekan 'pilihan', lalu pilih 'simbol'.
• Terdapat opsi penggantian bahasa, misalnya bahasa inggris, bahasa Indonesia, bahasa China dan lain-lain. Jadi, periksa juga bahasa penulisan dengan menekan 'pilihan' 'penulisan bahasa', lalu pilih bahasa anda.

Kirim catatan ke ponsel Sonny Ericsson.
Pilih 'menu' 'agenda' 'catatan'. Gulir ke atas atau ke bawah untuk menemukan catatan yang hendak dikirim. Tekan 'pilihan' 'kirim catatan' 'via inframerah' atau 'via bluetooth'

Kirim catatan ke komputer
File catatan tersebut tersimpan di memori HP atau kartu, sehingga bisa dicopy lewat kabel data, bluetooth, infrared, atau card reader. Salin file tersebut ke komputer, lalu buka dengan program notepad. Setelah halaman notepad terbuka, copy teks tersebut ke MS. Word untuk diedit lebih lanjut. Oh, ya. Tulisan ini pun saya buat dari HP Nokia. Anda bisa meniru saya kan?

Selasa, 08 September 2009

GEMOHING

Bentuk kerjasama tradisional yang paling dikenal di kampung adalah gemohing. Istilah lainnya adalah mal'ong atau kenol'eng. Gemohing adalah suatu organisasi berorientasi pekerjaan pertanian atau pembangunan. Contohnya membersihkan ladang atau kebun, menanam, memanen, mengumpulkan bahan bangunan dari alam, membangun rumah, juga sekian banyak pekerjaan lainnya.

Keanggotaan gemohing sangat mengikat menyangkut kewajiban-kewajibannya karena terkait langsung bagi kepentingan anggota-anggotanya. Peraturannya pun kadang-kadang sangat berwibawa sehingga sangat ditaati.

Saya sendiri telah ikut kelompok kerjasama ini sejak masih belajar di SD, saat masih muda. Karena itu kelompok saya dinamakan mal'ong, dengan anggota lima orang. Pekerjaan kami sederhana, memenuhi permintaan tenaga kerja untuk kegiatan pembersihan ladang kami masing-masing anggota, atau menjual tenaga kami untuk membersihkan kebun orang atau keluarga di luar keanggotaan kami. Karena itu, kami punya kas kelompok yang sayangnya peruntukannya untuk kepentingan konsumtif semata.

Kelompok gemohing orang dewasa paling besar yang pernah dikenal di kampung kami sebut gemohing umat. Struktur kepemimpinannya terkait langsung dengan Dewan Pastoral Stasi (struktur gereja Katolik tingkat kampung) yang langsung di bawah Paroki. Kelompok lainnya adalah Gemohing Mudika (muda mudi Katolik).

Sebelum kemajuan menjadikan pembersihan rumput dipermudah dengan herbisida, kelompok gemohing sangat berperan dalam kegiatan pembersihan ladang. Ladang paling besar (dalam ukuran kami) sekalipun mereka bersihkan dalam sehari.

Dalam mal'ong, biasanya makanan disiapkan oleh tuan kebun karena jumlah anggotanya sedikit, tetapi dalam gemohing umat, makanan dibawa masing-masing. Mal'ong biasanya punya jadwal sekali seminggu dan hanya pada suatu tempat dalam sehari, sedangkan dalam gemohing umat, sehari bisa diselesaikan dua atau tiga pekerjaan pembersihan ladang atau kebun sekaligus di tempat yang berbeda.

Kegiatan pembersihan kebun dilakukan bersemangat dan diselingi sorakan-sorakan 'snorak'. Seorang peserta gemohing memimpin sorakan-sorakan ini. Sorakan biasanya berirama sesuai gerakan menebas atau mencabuti rumput. Pemimpin gemohing berteriak 'mie' disambung cepat 'ho' oleh semua orang lainnya, kemudian 'neke' 'ho' 'wana' 'ho' terus menerus. Di beberapa tempat ditambahkan musik pukul iringan untuk menambah semangat.

Pembersihan dimulai di kaki kebun, di mana semua orang berbaris dengan alat masing-masing. Untuk menebas rumput tinggi, tiap-tiap tiga-empat orang, seorang bertindak sebagai 'muake' yang membuka jalan masuk ke rumput tinggi.

Setiap orang, kalau hanya bergantung dari hasil kebun, bisa saja mengikatkan diri dalam beberapa kelompok sekaligus, dengan jadwal yang tidak serentak dan dapat diatur waktunya.

Pembagian giliran pembersihan kebun diatur oleh ketua lewat musyawarah.

Tiap pelanggaran diberi denda atau sanksi untuk meminimalisir pelanggaran. Contoh kecil, saya pernah ikut dengan kelompok mal'ong satu kali di kebun. Saat musyawarah 'elo’' belum ditutup oleh ketua, salah seorang dari anggota mal'ong buru-buru pamit pergi karena ada urusan. Ia didenda berat, satu kali giliran pembersihan kebunnya hangus.

Sebagai kesepakatan bersama, aturan itu tidak bisa ditawar. Begitu pula aturan denda lainnya, misalnya larangan pengadaan miras 'moke' saat pekerjaan itu dilakukan. Jika ketahuan membawa miras saat gemohing, pasti si tuan kebun akan diberi denda.

Menurut saya, suatu hal yang baik adalah bahwa setiap orang bisa berlatih untuk berdisiplin karena telah sadar mengikatkan diri dengan kepentingan orang lain. Demikian pula, pekerjaan diselesaikan beramai-ramai dengan gembira. Kelemahannya, ini tidak dapat diterapkan untuk pekerjaan dengan spesifikasi ketrampilan yang tinggi.

Model kerjasama ini lalu banyak diterapkan dalam pekerjaan lain, misalnya pembuatan jalan dan bangunan. Contohnya, warga bergotong-royong membangun gereja.

Bangunan besar itu di kampung kami mencapai tahap penyelesaiannya tanpa ada satu kendaraan truk pun yang masuk. Batu, pasir, seng, kuda-kuda besi sampai pipa air semuanya didatangkan dengan tenaga manusia dari kampung tetangga terdekat yang masih bisa dilalui kendaraan truk.

Seingat saya, truk pengangkut sebagai satu-satunya armada transport di kampung masuk saat saya kelas lima SD, di mana bangunan gereja sudah rampung. Saya kagum pada kerja orang-orang dulu. Kalau kini warga berkumpul kalau dibagikan sesuatu seperti raskin atau uang macam-macam itu, maka dulu warga berkumpul saat diminta kewajibannya mengerjakan sesuatu hal. Tidak heran kalau pekerjaan yang seharusnya dengan alat berat diselesaikan oleh warga yang biasanya tidak banyak bekerja di luar musim menanam atau berkebun.

Minggu, 09 Agustus 2009

MELIRIK AIR SEBAGAI PENGGANTI BAHAN BAKAR


(catatan perjalanan)

TAK ADA IMING-IMING SOAL ‘PENEMUAN’ MENGUBAH AIR MENJADI BAHAN BAKAR. YANG ADA HANYALAH HASIL AKHIR DARI PROSES PERUBAHAN ITU: ENERGI. PERBEDAAN KETINGGIAN TITIK, ADANYA ALIRAN MASSA AIR, DAN TURBIN AIR HASIL RANCANGAN DARI LAB TEKNIK MESIN UNDANA, KEINGINAN MEMANFAATKAN AIR SEBAGAI SUMBER ENERGI BAGI MASYARAKAT DI DESA LINAMNUTU PUN TERWUJUD.



Catatan perjalanan bukanlah hal baru. Sering dibuat oleh orang-orang yang banyak menjumpai hal asing atau menarik sepanjang lintasan perjalanan atau di tempat tujuan, dalam bentuk tertulis. Tidak ada pentingnya barangkali, mungkin hanya untuk memuaskan nafsu membuat cerita tentang perjalanan pribadi. Satu variasi daripada sekadar bercerita lisan kepada orang-orang yang dijumpai. Para teknisi, calon teknisi, maupun mahasiswa vak teknik memang sering dikondisikan untuk bekerja dengan tangan dan alat, bukan dengan mulut alias melalui pembicaraan. Jadi, tulisan ini bisa menjembatani informasi dari orang-orang yang jarang bicara itu.

Desa yang mati tanpa kehadiran energi listrik.

Linamnutu adalah sebuah kampung di Kecamatan Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan dengan penduduk 30-an kepala keluarga. Terletak sejauh 22 km meninggalkan cabang Batu Putih ke arah selatan. Letak Batu Putih sendiri tercatat sejauh 33 km sebelum memasuki kota Soe. Sejak 65 tahun merdeka, kampung itu masih gelap gulita di malam hari. Masyarakat hidup dari bertani di sawah, memanfaatkan air sepanjang lembah kali Noelmina. Jaringan PLN sendiri tidak menjangkau tempat ini, hanya berhenti di jarak 15 km dari kampung ini berada. Satu-satunya jalan penghubung ke kampung itu sangat berdebu di musim kemarau dan berair di musim hujan.

Rombongan kami yang berangkat dengan sebuah truk dan dua buah sepeda motor terpaksa mempercayakan orang lain untuk melewatkan kendaraan itu di sebagian jalan yang digenangi air sebelum memasuki Linamnutu. Pemandangan di tempat itu sama seperti banjir di musim hujan. Padahal musim ini adalah musim kemarau. Ini adalah akibat dari sistem saluran pengairan yang kurang baik sehingga banyak air yang tergenang. Pemandangan ini kontras dengan kondisi tanah di sekitar bukit yang tampak berbatu dan sangat tandus. Alam pulau Timor yang gersang sudah mewarnai pemandangan di kiri kanan sepanjang perjalanan. Bukit-bukit berkapur, pohon lontar, gebang, dan tumbuhan keras lainnya dominan menumbuhi permukaan tanah.
Setelah masuk cabang Oebobo, sungai Noelmina pun menunjukkan sisi lain keganasannya. Aliran air membuat jalur yang sangat lebar mengikis kedua sisi sungai sampai tinggal batu-batu yang tersebar luas mirip di pantai laut yang mengering. Debit sungai yang besar menyebabkan erosi di banyak lokasi sepanjang aliran sungai itu.
Air sungai itu kini telah dijinakan dengan membuat bendungan Linamnutu yang diresmikan Taufik Kiemas pada tahun 2004 lalu. Saluran-saluran pengairan pun dibuat disusul pencetakan sawah-sawah baru. Ribuan hektar sawah sepanjang dataran rendah memanfaatkan air sungai ini sebagai sumber pengairan.


Pembangunan Instalasi turbin

Aliran air dengan debit besar sepanjang saluran itu ternyata menyimpan tenaga yang luar biasa. Di salah satu bagian, ada saluran menurun setinggi hampir tiga meter. Tempat itu telah dipasang turbin tipe cross flow hasil rancangan dari Lab Teknik Mesin Undana dan diproduksi di Bengkel Politeknik Negeri Kupang.
Pemasangan turbin ini dilakukan dua tahun lalu. Sekelompok teknisi yang terdiri dari mahasiswa praktek dan dosen, melakukan kegiatan yang dipercayakan kepada mereka. Peralatan pemasangan semuanya mereka angkut melalui truk, termasuk genset, mesin las, mesin gerinda dan perlengkapan lainnya. Rombongan waktu itu bekerja di bawah arahan Noni Banunaek, dosen Teknik Mesin Undana lulusan ITB. Pembuatan dan pemasangannya pun dilakukan sejak di bengkel produksi PNK, di lab Teknik Mesin, maupun di lokasi pemasangan. Alhasil, beberapa mahasiswa mengambil topik itu menjadi penelitian untuk tugas akhir.
Saya sendiri tidak ikut dalam rombongan itu, tetapi sebagai pimpinan redaksi majalah dinding, saya menugaskan seorang kru untuk melaporkan narasi perjalanan ke lokasi untuk dimasukkan ke redaksi sekembalinya dari sana. Laporan perjalanan berikut foto-fotonya memakan enam halaman folio untuk dipampangkan di mading, tapi kini dokumentasinya hilang karena tak ada sistim penyimpanan yang baik.

Perjalanan penulis


Untuk pemasangan hari ini, rombongan kami yang berjumlah empat orang berangkat pukul delapan pagi dari Kupang. Saya diajak Agus Tokan yang memang hendak mengambil topik ini sebagai penelitian tugas akhir. Setelah membeli bekal dan perlengkapan yang semuanya diangkut ke truk, kami pun berangkat dengan perjalanan yang memakan waktu lebih dari dua jam. Peralatan diangkut lewat truk, di antaranya runner bersama poros dan bantalannya, pintu air, seng, dan empat sak semen untuk mengganti pengecoran pintu air. Kegiatan kami dalam dua hari ini adalah membawa turbin itu untuk dipasang kembali, mengawasi pemasangan pintu air, dan menyelesaikan beberapa kerusakan. Kami melanjutkan pekerjaan sehari sebelumnya. Pada hari Rabu kemarin, runner turbin telah dibongkar oleh tim terdahulu dan dibawa ke Lab Mesin Undana untuk diperbaiki.
Sebenarnya ini bukan tugas kami, tapi kami ikut serta untuk dapat mengakrabkan diri dengan pemakaian energi alternatif di kalangan masyarakat. Kami ingin mengetahui bahwa ternyata pemanfaatan energi secara sederhana dapat dilakukan untuk mengatasi ketergantungan terhadap bahan bakar. Topik energi alternatif memang sedang menarik di kalangan mahasiswa teknik mesin. Apalagi dengan adanya kenaikan harga minyak akhir-akhir ini. Tanpa kenaikan harga bahan bakar pun, menurut kami, masyarakat pedesaan masih sangat tergantung pada tenaga manusia dan hewan sebagai satu-satunya sumber tenaga. Buah dari revolusi industri pun telah memperkenalkan bahan bakar minyak yang kini harganya kian melambung tinggi, suatu hal yang jelas sulit dijangkau oleh warga pedesaan.
Selain topik energi alternatif itu, ada beberapa aspek dari pemasangan itu yang memang telah kami pelajari dan praktekan. Di antaranya adalah perencanaan bantalan, poros dan pasak, sabuk dan puli yang kami pelajari pada mata kuliah elemen mesin. Pembuatan turbin itu sendiri pun melalui proses sederhana seperti pemotongan sejumlah jenis pelat besi menjadi bagian-bagian kecil. Potongan itu kemudian disambung kembali menjadi sebuah konstruksi dengan mengelas atau menggunakan pasangan mur baut, yang tentunya diserahkan kepada kami untuk mengerjakannya sesuai gambar desain. Karena mengambil konsentrasi konstruksi dan perencanaan, kami juga sudah diajarkan untuk melakukan beberapa analisa gaya dan tegangan. Sedangkan analisa aliran pada turbin dibuat oleh rekan mahasiswa dari konsentrasi Konversi Energi. Beberapa teman memang sedang mengambil topik itu untuk penelitian mereka.
Tiba di lokasi, kami disuguhi pemandangan indah. Bentangan sawah luas yang telah selesai dipenen kembali diairi di latar belakang bukit tandus. Saluran air membentang dari utara ke selatan menyusuri tepi sawah, hampir rapat dengan salah satu sisi bukit di sebelah timur. Masyarakat desa yang hidup seadanya telah dibantu melalui proyek bendungan untuk pengairan yang dikerjakan PT Waskita Karya sejak tahun 2002 lalu. Kini, proyek itu telah mengubah wajah desa dengan adanya saluran air ke sawah-sawah yang lebih teratur. Foto-foto dokumantasi yang sempat disimpan di web blog beberapa tahun lalu membuat pemandangan itu tidak asing lagi. Foto-foto itu kini tersimpan di gadget elektronik. Saya lalu membandingkan pemandangan yang di foto di saat musim hujan itu. Agak berbeda memang.
Sama seperti di foto, ada sebuah bangunan kecil tiga kali tiga meter didirikan dekat saluran menurun. Bangunan itu dipakai sebagai sebagai tempat dinamo dan panel listrik. Menengok ke saluran air, instalasi turbin ternyata sudah dimakan karat karena sudah lama ditinggalkan tanpa perawatan. Pestok dan saluran ke pengumpan sambungannya tidak bisa lagi dibongkar karena baut pengikatnya sudah tidak bisa lagi diputar. Salah satu dari empat bantalan penyangga poros runner tidak bisa dibuka sehari sebelumnya karena pasangan murnya sudah dimakan karat. Bantalan itu terpaksa harus di potong dengan pahat dan gergaji.
Saluran itu tidak hanya dipakai untuk manusia. Tempat itu adalah habitat binatang. Ribuan ekor kepiting seikuran ibu jari tangan memadati tempat itu dengan arah perjalanan menuju laut. Mereka bersembunyi di lobang-lobang kecil coran semen di sekitar turbin sampai ujung penstok sebelum meneruskan perjalanan mereka ke laut. Warga desa yang ikut mengumpulkan binatang-binatang itu. Mereka menumpuk binatang berkulit keras itu di ember untuk dibawa pulang.

Bekerja dibantu warga
Pekerjaan pertama adalah mengepas kembali runner pada dudukannya dan mesti berendam di air. Airnya memang sedang hangat, sementara angin dingin sedang bertiup di atas daratan itu. Dengan beramai-ramai kami mengangkat runner yang beratnya lebih dari 150kg itu. Runner memang sudah dipasang pada poros lengkap dengan bantalannya. Meskipun dengan berat yang cukup besar dan hanya bisa diangkat oleh lebih dari enam orang, aliran air dengan mudah memutar benda itu di ujung saluran. Benda inilah yang nantinya mengubah aliran air menjadi gerakan memutar dan diteruskan ke poros. Kecepatan putar yang dibangkitkannya mencapai 500 rotasi per menit pada dinamo setelah melewati empat buah puli.

Runner itu kami masukkan pada tempatnya dengan susah payah karena penutupnya tidak bisa lagi dibongkar mengingat pengikat yang menggunakan sambungan mur baut sudah dimakan karat. Beberapa bagian pelat lalu dipahat untuk memasukkan runner. Dengan bantuan sejumlah warga yang siap sedia bekerja, kegiatan hari itu pun selesai.
Sore harinya, kamu diajak untuk makan siang dengan menu ikan sawah di rumah salah seorang warga. Rumah itu didiami oleh keluarga besar, bapak dan anaknya yang sudah berkeluarga juga. Bekal yang kami bawa memang hanya untuk dua kali makan. Kini kami tinggal menitip membeli makan untuk disiapkan. Pekerjaan menjadi lebih mudah karena makan tidak kami masak atau cari sendiri, tetapi disiapkan oleh keluarga yang ramah itu.
Rumah tinggal keluarga itu hanya beratap rumput dan tanpa kabel aliran listrik. Sebagian besar manusia memang telah menikmati berlimpah-limpah kemewahan tapi masih dipertanyakan artinya kemajuan jika masih ada saudara yang masih bersusah-susah dengan lampu teplok. Pemasangan turbin inilah salah satu cara untuk membawa tenaga listrik menuju urat nadi kehidupan desa itu.

Tenaga listrik dari turbin sudah pernah dipakai

Tuan rumah lalu menuturkan bahwa dulu, setelah instalasi turbin itu dibangun, warga sempat menikmati listrik meski baru tahap percobaan. Beberapa peralatan elektronik dan lampu pijar sudah bisa hidup dengan aliran listrik yang stabil. Pengoperasian istalasi listik yang dibangkitkan aliran air itu dipercayakan kepada seorang warga. Tetapi instalasi yang beroperasi terus menerus selama sebulan tanpa toleransi terhadap beban yang ditanggung menyebabkan kerusakan di beberapa bagian. Setelah itu, turbin tidak dapat lagi beroperasi.
Seorang dosen yang bertindak selaku teknisi dalam kegiatan kami ini mengatakan bahwa daya yang dibangkitkan istalasi turbin ini mencapai 40kW dengan tegangan mendekati 200 volt. Daya itu cukup untuk digunakan oleh tiga puluhan kepala keluarga di sekitar tempat itu, bahkan untuk peralatan listrik seperti gergaji, sekap, atau motor listrik untuk penggilingan padi atau hasil bumi lainnya.
Malamnya kami tidur di rumah salah satu warga lainnya yang mempunyai kamar tidur yang cukup besar. Sebagai orang yang sehari-harinya hidup dengan kemudahan kota, kami pun lalu merasakan susahnya berada di tempat itu tanpa listrik. Alat elektronik hampir tak dapat berfungsi. Saya hanya memtoret pemandangan yang penting saja siang harinya mengingat daya baterai yang hampir habis . Makan malam pun hanya di bawah penerangan lampu teplok. Untuk menelpon ke Kupang pun kami masih bolak-balik keliling tempat itu untuk mendapatkan sinyal. Salah seorang teman, Agus Tokan, menderita muntah-muntah karena keracunan udang tetapi tak ada obat di tempat terdekat. Seperti biasa, obatnya adalah air kelapa muda, tapi tak tersedia di tempat itu. Gatal-gatal mendera sekujur tubuhnya sampai keesokan harinya.
Pamasangan berlangsung lagi sehari setelah itu. Malamnya, pimpinan rombongan kami meminta petugas penjaga pintu air bendungan Linamnutu untuk mematikan saluran air supaya mempermudah pemasangan. Memutar pintu air bendungan dilakukan pada jam dua dinihari. Menurut penuturan petugas penjaga pintu air, perlu lima puluh putaran untuk menaikkan pintu sejauh satu sentimeter. Kami pun lelah sendiri membayangkan pintu air yang mesti dinaikan sampai satu meter itu. Air tidak akan lagi mengalir setelah berjam-jam kemudian. Tanpa air yang mengalir, perbaikan pun bisa dilakukan dengan lebih leluasa. Pekerjaan terakhir adalah mengecat pelat, mengepas bantalan pada poros, dan mengikatkan baut dari bantalan ke rangka dudukan. Kami hanya bertiga mengerjakan pekerjaan itu sementara warga lainnya membantu mengecat dan mengecor pintu air.
Pekerjaan hendak selesai, tetapi ternyata sabuk untuk meneruskan putaran antara puli tidak pas di tempatnya. Kesalahan penulisan pada kuitansi adalah biang keladinya. Ukuran sabuk yang sebetulnya bernomor B-90 salah ditulis menjadi B-97. Artinya, kami tidak bias langsung memasangnya hari itu. Sabuk memang mesti didatangkan dari Kupang, mungkin beberapa hari setelah ini, serempak saat coran semen pada pintu air mulai mengering. Jelas, kami tidak lagi ikut perjalanan itu.
Tapi pemandangan desa telah menyisakan sesuatu gambaran yang lain. Kawan saya, Agus Tokan mengatakan, pembangunan turbin yang sama dapat dilakukan di tempat lain dengan kondisi yang sama. Tentu saja setelah survey pendahuluan untuk mengetahui apakah di tempat itu bisa dipasang turbin dan apakah kira-kira dayanya bisa memadai atau tidak. Sementara dosen sebagai tenaga teknisi kami mengatakan bahwa sangat sulit untuk mendapatklan tempat dengan kondisi yang sama, yakni mendapatkan debit air yang cukup besar dan tinggi jatuh air yang sama.
Instalasi yang mengahsilkan daya 40kW itu memang hanya membutuhkan biaya perawatan, tanpa tergantung lagi dari bahan bakar, suatu hal yang sangat praktis untuk desa yang sulit dijangkau itu. Usaha rintisan ini berpeluang untuk dilanjutkan dengan usaha lainnya, seperti memaksimalkan lagi pemanfaatan tenaga aliran air yang ada. Banyak sekali alternative lain untuk membantu mekanisasi pertanian. Mekanisasi tidak berarti harus tergantung dari bahan bakar dan berbiaya tinggi. Mekanisasi bisa diwujudkan dengan memanfaatkan sumber tenaga alam, misalnya dengan memasang kincir untuk keperluan menggerakan alat sederhana.. Alat-alat sederhana seperti mesin rontok padi, mesin giling, dan alat lainnya bisa digerakkan dari putaran pada poros kincir. Penerapannya telah banyak dijumpai di daerah-daerah lainnya.
Tentunya perancangan alat semacam itu butuh tenaga perencana yang handal. Keberhasilan pendidikan yang tercermin dari hasil output Pendidikan Tinggi bisa diberi tanggungjawab untuk melaksanakan misi ini. Tergantung bagaimana keseriusan menempa diri menjadi teknisi perencana yang handal.

Mengingat deretan

Susah mengingat deretan? Pakai jembatan keledai. Contoh yang bisasa misalnya ‘mejikuhibiniu’ untuk mengingat warna pelangi. Yang lainnya, misalnya untuk besaran pokok biasa saya ingat dengan nama ‘PM WASIJ’ (seperti seorang nama perdana mentri dari sebuah negara mana?). kepanjangannya: Panjang, Massa, Waktu, kuat Arus, Suhu, Intensitas cahaya, Jumlah zat.

Mengingat deret angka

Bagaimana mengingat deretan angka? Tulis berulang-ulang dalam bentuk pola. Dalam deretan angka biasanya ada pola acak yang bisa anda susun kembali urutannya, lalu tulislah urutan berpola ini berulang-ulang. Pola acak ini biasanya jadi senjata mapuh untuk menarik minat para penjudi nomor buntut, yang sayangnya tidak mereka mengerti bahwa pola acak itu adalah sesuatu yang normal dalam angka desimal yang hanya sepuluh itu. Jadi, ini tidak berbau ‘mistik’.

Contoh, anda ingin diujikan jumlah sensus penduduk dari empat kabupaten.

Ende: 365736

Sikka: 728634

Flotim: 628732

Lembata: 135628



Pertama, buat kotak, lalu mulailah menulis angka yang letaknya paling anda ingat. Pada contoh di atas , ada tiga buah angka 28 dua kotak tengah dan satu di kotak bawah akhir (A). Tulis ini pertama.


Lalu, ada tiga angka tujuh dalam pola segitiga, dari baris kedua kolom satu dan dua angka lain di atas dan pada awal tanda titik pisah(B). Ada tiga buah angka 3 di kolom kedua dari belakang (C). Hanya ada dua angka 5 di akhir sebelum titik di baris atas dan bawah (D). Ada empat angka 6 dalam pola segitiga (E) ada dua buah angka tiga lagi di sudut atas dan kedua di sudut kiri bawah (F) Polesan terakhir, ada angka 6214. (G)


Membantu antene

Punya radio SW/AM tapi tidak jelas sinyalnya? Tidak perlu anda naikkan antenenya. Anda sebaiknya ‘menurunkannya’ saja. Caranya, sambung antene dengan benda logam (biasanya paku) yang ditanam di tanah (tanah asli, bukan lantai tembok). Gunakan kabel untuk menyambungnya. Maka suara/sinyalnya kedengaran lebih jelas.

Pengganti teh

Hendak membuat minuman tetapi kehabisan teh? Ganti dengan karamel. Caranya, taruh seperempat sendok makan gula di sendok pembakar. Bakar gula tersebut dalam sendok di api sampai semua gula mendidih dan berubah warna menjadi coklat, lalu tuang ke dalam lima gelas air panas. Tambahkan gula, dan minuman anda siap dihidangkan.