Fotoku

Fotoku

Kisah Lucu No Kobus: No Smoking

Satu hari, Tanta Merice pigi di Kupang buat wisuda anaknya Kobus. Lantaran anaknya mahasiswa gaul, di depan pintu kamarnya ada tertulis "No Smoking". Tanta merice terheran-heran membaca tulisan itu.
"E No e,..." begitu tante Merice tegur anaknya, "Engko di nagi nama No Kobus le skerang so ganti nama No Smoking ni, E No e...."
(Aduh anak e.... kamu di kampung nama No Kobus kenapa sekarang ganti nama jadi No Smoking.... Aduh anak e)

Kisah Lucu No Kobus: Buka-Open

Suatu hari Oom Anis dan anaknya Kobus pergi belanja di swalayan tenar kota Kupang. Di depan pintu swalayan ada tulisan Buka-Open.
Dasar ata kiwan, saat diajak masuk ke dalam Oom Anis mati-matian tidak mau.
"Kenapa Bapak tidak mau? Ayo masuk Pak." Ajak No Kobus.
"Itu Nak, kamu baca atau tidak tulisan yang itu?" bertanya Oom Anis sambil menuding tulisan pada pintu kaca.
"Tulisan yang mana, Pak? Itu kan tulisannya Buka."
"Ah, tidak, mereka tipu itu."
"Darimana bapak tau kalau mereka tipu?"
"Baca yang di sebelahnya, di situ tertulis OPEN."
Ket: OPEN dalam bahasa kiwan/Lamaholot artinya TIPU.

Eki dan Lako, Cerita Rakyat dari Lamaholot

Di dalam hutan rimba Dua Bele, tinggallah dua ekor binatang bernama Eki dan Lako. Eki adalah nama dari seekor kera dan Lako adalah nama seekor musang. Mereka berdua sebenarnya bukan sahabat karib. Tetapi  pagi hari itu ketika hendak pergi mencari makan, mereka berdua bertemu di ujung jalan yang sama. Mereka pun menyadari bahwa perjalanannya searah, sehingga jadilah mereka sepakat untuk mencari buah dan berburu di wilayah yang sama.
Musang  sama sekali belum mengenal bahwa kera partnernya adalah binatang yang sangat malas dan mau enaknya sendiri. Tabiat si kera memang  tidak ingin bersusah payah tetapi selalu rakus kalau mendapati makanan.
Setelah kesepakatan dibuat, keduanya pun pergi bersama-sama. Pertama sekali, mereka menyergap serombongan burung puyuh yang sedang mencari makan di semak-semak. Musang dengan kecepatan geraknyanya diam-diam memburu burung puyuh itu, membunuhnya beberapa ekor, lalu menyembunyikannya di bawah dedaunan. Sementara kera hanya bermalas-malasan dan menonton saja. Ia tak membantu sedikitpun ketika si musang membersihkan bulu burung-burung itu.
Selesai mengurus daging puyuh itu dan kemudian mengumpulkannya di tempat tersembunyi, keduanya kembali bepergian sekeliling hutan. Berjumpalah mereka dengan sebatang pisang hutan di dekat situ. Pisang tersebut telah ranum dan siap dipetik.
"Ayo kita kumpulkan buah -buah pisang ini dan kita bawa pulang untuk keluarga kita," ajak si Lako sambil meloncat ke atas pohon pisang.
"Ayolah, Lako. Nikmati saja dulu buah pisang yang enak itu. Sisanya boleh dibawa pulang," kata Eki. Eki kemudian dengan cueknya menyantap buah-buah pisang itu.

Ulat Bambu, Si Penganggu yang Diburu

Di jagat maya, pencarian tentang ulat bambu ternyata cukup populer. Sering ada klik di blog yang berasal dari pencarian google tentang ulat bambu. Jadi, tak ada salahnya menulis sedikit topik ini, meskipun isi tulisan ini tidak mendalam.

Saya sendiri dulunya adalah anak desa yang sehari harinya berhubungan dengan bambu. Saya bahkan pernah menjadi  produsen sekaligus berdagang bahan bangunan dari bambu semasa SMA. Soal bambu, saya punya beberapa komentar berikut berangkat dari pengalaman pribadi. Ini tentu bukan kajian ilmiah. Kalau butuh kajian ilmiah, bolehlah mencari buku atau tulisan yang khusus membahas tentang bambu.

OK back to topic about the worm.  Ulat bambu yang saya kenal ada dua macamnya. Yang pertama ulat  yang tinggal dan memakan bagian bambu saat bambu tersebut masih hidup. Jenis yang ini hidup pada rongga bambu, yaitu ruang kosong di antara buku bambu. Mereka memakan umbut muda sehingga pertumbuhan bambu menjadi terhambat. Jenis yang kedua adalah ulat bambu yang hidup di bambu saat bambu sudah kering. Mereka tidak hidup pada rongga bambu, melainkan memakan serat pada bambu. Sayangnya, serat yang mereka konsumsi adalah serat pada kayu yang sudah dimanfaatkan untuk konstruksi rumah atau perabotan. Mari kita bahas satu per satu. 

Untuk bambu yang masih hidup pada gerumbulnya, di sana kadang berdiam ulat bambu. Ulat bambu ini tinggal pada rongga-rongga bambu, menetas dari induknya yang berupa serangga bersayap. Ukuran ulat jenis ini bervariasi sesuai jenis ulatnya. Ada yang kecil sekitar dua centimeter dan ada yang lebih besar dengan diameter seukuran jari tengah. Ulat bambu yang ini sering menjadi makanan sumber protein bagi warga desa. Di daerah Cina yang kaya akan berjenis-jenis bambu, jenis ulat ini malah jadi camilan populer dan diperdagangkan.

Ada dua macam ulat yang diam di rongga bambu ini. Yang membedakannya adalah ukuran ulat dan jenis bambu tempatnya hidup.  Yang pertama adalah ulat yang hidup di bambu wulung. Bambu wulung ukurannya sebesar pergelangan tangan dan dinding tabungnya tipis sekitar sepertiga centimeter. Bambu yang ini sering dipakai untuk anyaman dinding rumah. Ulat yang hidup pada bambu wulung ini ukuran diameternya sebesar jari tengah. Hanya ada satu ekor ulat yang hidup di sini. Ia tinggal dekat pucuk bambu wulung dan memakan umbut muda dari bambu tersebut.

Di masa kecil, kami gemar berburu ulat jenis ini di hutan hutan bambu wulung sekitar kampung. Untuk menandai mana bambu yang dihuni ulat jenis ini, anda tinggal melihat pucuk bambu wulung. Kalau pucuk bambu kelihatan mengering, maka di sana pasti ada ulat jenis ini. Anak-anak biasanya menebang bambu ini dan membelah bagian dekat ujungnya untuk mengumpulkan ulat.

Ulat berikutnya berukuran lebih kecil, tapi mereka hidup dalam jumlah banyak dalam satu rongga bambu. Jenis yang ini hidup di bambu aur. Bambu yang ini kulit luarnya tampak paling licin.  Bukunya berlekak lekuk sehingga hanya cocok untuk tiang. Untuk anyaman atau dinding rumah tidak memungkinkan. Salah satu jenisnya yang berwarna kuning kini sering dijadikan bambu hias.

Ulat ini tinggal menggerombol di dalam rongga bambu. Mereka melubangi ruas ruas tengah bambu itu dan tinggal di dalamnya. Ciri bambu ini yang ada ulatnya dapat dilihat dengan mudah. Anda tinggal melihat pada ruas bambu. Jika jarak ruas bambu tersebut terlihat lebih pendek dari ruas bambu lain dalam gerumbul yang sama, maka dipastikan di sana ada ulatnya. Jarak ruas menjadi kecil karena pertumbuhannya terhambat oleh ulat yang menggerogot di dalamnya. Ulat ini mencuri sari makanan serta melubangi ruas. Ulat jenis ini pun dapat dimakan langsung, bahkan ketika masih hidup dan menggeliat-geliat. Serem yah hehehe. Tapi ulat/larva ini biasanya dimakan sesudah dimasak.

Itu untuk ulat di bambu hidup. Untuk ulat yang mendiami bambu kering, saya tidak punya jawabannya bagaimana cara mengatasi ulat jenis ini. Keberadaan ulat kecil kecil ini memang sangat mengganggu. Mereka menggerogoti bangunan berkonstruksi bambu sama seperti rayap menggerogoti kayu.   Bangunan akan tampak utuh dari luar tetapi dalamnya berrongga. Kita hanya melihat adanya bubuk berwarna putih yang tertumpuk di sekitar permukaan atau berjatuhan ke lantai.


Menurut kebiasaan di kampung, keberadaan ulat ini terjadi karena bambu dipotong pada musim ketika bulan sedang berada di atas horizon. Pada saat ini, kadar air pada tanaman bambu sedang tinggi tingginya. Jadi, memotong bambu harus melihat posisi bulan, yaitu ketika bulan sedang gelap. Saat itu kadar air cukup rendah. Tidak ada cara pengawetan tradisional untuk mengatasi ulat bambu ini. Cara pengawetan kayu modern bisa diadopsi supaya bambu tidak dirusak oleh ulat.  

Kubur Tua

S. M. Dosi

         antara gundukan batu
diselingi serasah berguguran
bersinar cahaya
di atas sumbu yang 'kan kelak padam

tapi ingatan kami 
yang padam karena tak mengenal mereka-mereka yang terbaring di sini
tak selekas padamnya cinta 
pada mereka yang mengukir kisah berlampau tahun yang pergi

semangat mereka di nadiku
juga darah mereka di jantungku
mimpi mereka yang membawaku tegak kini

kita bagai daun yang berguguran
tetapi jiwa kita semangat zaman
mereka berlalu, kita berlalu

hanya cinta yang abadi

El Ganda 2016
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...