Fotoku

Fotoku

Petai Raksasa: Pernah Coba Kuliner Unik Ini?

Sumber: http://infbrs.blogspot.co.id
Heboh di koran Malaysia beberapa tahun lalu soal penemuan ‘petai raksasa’. Menurut berita yang beredar, buah yang diduga sejenis petai ini tidak bisa dimakan. Beracun katanya. Ternyata di pulau tetangga, orang-orang telah lama menjadikan buah ini sebagai makanan. Dari penelusuran, buah ini dijadikan kuliner di Sumatra dan Bali. Di Afrika, orang-orang menjadikan kulit dan biji buah ini sebagai bahan minuman semacam kopi.
Buah ini sebenarnya cukup dikenal di bumi Lamaholot. Orang lokal menyebutnya keso atau buah balam. Dalam bahasa Indonesia dinamai buah gandu. Dalam dunia ilmiah dikenal dengan sebutan latin Entada phaseoloides (L.). Buah ini berasal dari tumbuhan jenis liana yang tumbuh di hutan-hutan tropis hingga subtropis.  Ia menyebar dari Afrika, Malaysia, Filipina, Indonesia hingga ke Australia. Tetapi siapa sangka kalau biji buah ini ternyata jadi kuliner yang lumayan memanjakan lidah?
Di kampung, barangkali hanya keluarga saya yang meneruskan warisan kuliner nenek moyang ini. Menjadikan biji buah ini sebagai salah satu sumber makanan. Tetapi sayang, sekarang tidak lagi saya cicipi karena sulit dijumpai. Rasa penganan ini agak tawar tapi sedikit gurih seperti kacang. Supaya lebih sedap, penyajiannya ditambahkan sedikit kelapa parut.

Susahnya Cari Jagung Titi

Sumber: http://btpn2015.fotokita.net
Beberapa tahun lalu ketika pertama kalinya ke Maumere, saya merasa perlu beli oleh-oleh jagung titi. Carinya lumayan susah ternyata. Padahal dulu semasa SD-SMP, ibu kandung saya adalah produsen sekaligus penjual jagung titi. Spesialisnya jagung titi yang masih muda. Rasanya lebih enak.
Mungkin ada yang bilang, ah gampang saja cari di pasar atau ke emperan toko. Tapi tempat itu ternyata tidak buka sepanjang hari. Di pasar lama hanya buka pagi dan sore. Cari punya cari, saya dapat info kalau ada kios oleh-oleh khas Flotim di bilangan kota. Saya pun mampir. Tapi sayang di sana tidak dijual jagung titi. Yang ada hanya emping jagung. Sudah telanjur basah akhirnya ya beli dua kotak emping jagung.
Jagung titi memang lumayan sulit dicari dalam keadaan buru-buru. Hanya penduduk lokal yang tahu kapan jadwal pasar buka di mana jagung titi dijual. Tapi bagi orang yang sekadar singgah sesaat untuk kemudian melanjutkan lagi perjalanan, sulit bagi mereka untuk ketemu barang yang mereka cari itu. Untuk kalangan ini, mereka butuh tempat di mana jagung titi dijual setiap hari. Bukan hanya pada hari pasar atau jam-jam tertentu.

Bantuan, Antara Kail dan Ikan

Sudah sejak jaman kuno orang-orang di Negeri Cina mengenal adagium “Give a man fish”. Berilah kail, jangan beri ikan. Begitu kata cerdik cendekiawan di sana. Sampai kini di abad dua puluh satu, istilah tersebut masih santer terdengar di Indonesia kita.
Ungkapan ini tak sekadar peribahasa. Ia sudah diadopsi sebagai prinsip serta kebijakan pemberian bantuan oleh pemerintah kita. Alhasil, pemerintah selama periode tertentu lebih memilih bantuan peralatan ketimbang uang tunai. Dasar pikir mereka masih mengikuti adagium di atas. Peralatan mesin lebih mereka utamakan. Kail lebih penting daripada ikan.
Maka berdatanganlah sumbangan peralatan ke daerah-daerah, termasuk ke Flores Timur kita. Sebut saja mesin pengolah minyak kelapa di Adonara Barat. Ada juga bantuan mesin pemecah kemiri. Di tempat lain alsintan berupa traktor.
Di manakah mesin-mesin itu sekarang? Mungkin sudah lewat masa pakai. Operasi mesin memang bukan selamanya. Kemampuannya terbatas. Ada saat di mana operasi secara ekonomis tidak memungkinkan lagi. Tetapi pernahkah kita dengar kiprah dari mesin-mesin tersebut? Rasa-rasanya jarang. Tak pernah terdengar kabar antrian orang menggunakan jasa mesin tersebut. Tak juga terdengar bahwa produksinya memasuki pasaran. Atau kisah suksesnya mendongkrak hasil pertanian.

Asyiknya Kerjabakti Bareng Anak

Ada pernyataan menggelitik  yang disampaikan Presiden Jokowi hari ini bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Orang nomor satu RI ini mengajak keluarga-keluarga supaya anak-anak diberi PR alias pekerjaan rumah. Bukan, bukan pekerjaan rumah mainstream berbentuk tugas pelajaran sekolah. PR yang dimaksud Jokowi adalah mengajak anak menjenguk teman yang sakit, membantu orang yang kesulitan, atau hal kecil lainnya seperti ikut kerja bakti di kampung. Saya ambil poin terakhir yaitu kerja bakti di kampung.
Kerja bakti sebenarnya disukai oleh anak-anak, baik yang pra sekolah maupun yang di sekolah dasar. Mayoritas di desa-desa hanya dua kalangan ini yang mendominasi. Sementara pelajar usia SMP ke atas biasanya sudah tinggal di kota kecamatan.

Catatan Tahun Kemarin

Sabtu 26-03-2016
Sabtu pagi ini duduk kongkow dulu di Larantuka bareng anak-anak komunitas motor antik. Dari bengkel tambal ban, saya menyusul mereka ke rumah salah satu kru di bilangan Kota Sauh. Rumah kecil tipikal Larantuka, dengan kost-kostan di belakang dan sebuah bengkel kayu di depan. Kami kongkow di rumah induk kecil itu, menggelar beberapa kursi kayu dan plastik dengan latar belakang mesin  bor duduk, kayu serta mebel setengah jadi. Ngopi sambil mendengar obrolan mereka yang rata-rata menceritakan soal mesin motor, pengalaman bermotor antik, juga teman teman komunitas lain semacam Soe yang April tanggal muda nanti ulang tahun komunitas. Mereka berencana mengirim utusan juga ke sana.
Oh ya, orang-orang ini adalah gabungan anak Maumere dan Flotim. Mereka turut meramaikan prosesi tahunan Jumad Agung. Yang tampaknya jadi pemimpin mukanya macam Papua, gemuk bertato dengan rambut keriting gondrong. Satunya lagi besar putih halus kayak cowok Manado. Belakangan barusan saya tahu kalau orang ini frater. Ada seorang lagi hitam Papua juga. Salah satu dari mereka yang anak Maumere masih kenal baik sesama teman-teman saya dulu waktu di Kupang. Alumni Kupang nih ternyata. Dia cerita tentang Angkatan Muda Adonara (AMA) Kupang pada jaman baheula, terkesan banyak puja pujinya tapi saya tutup mulut kalau saya mantan orang dalam.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...