Selasa, 22 Oktober 2019

Ecobric, Solusi Sampah Plastik di Wilayah Hunian

Tiada hari tanpa sampah plastik. Begitulah gaya hidup masyarakat urban kini. Belanja di pasar, butuh tas plastik untuk sayur dan ikan. Ke kios, juga butuh tas plastik. Pengecualian ada pada ibu-ibu yang berangkat dari rumah untuk belanja. Mereka sudah siapkan sendiri keranjang belanja untuk mencegah pemakaian tas plastik berlebih.
Namun bagi sebagian besar orang, titik berangkat untuk belanja bukanlah dari dapur rumah. Mereka berangkat dari tempat kerja atau dari tempat aktivitas lain. Akibatnya, keranjang belanja tidak mereka siapkan sendiri. Pilihan terakhir, tas plastiklah yang jadi solusinya.
Dihitung per bulan, ada ratusan tas plastik yang dikonsumsi tiap keluarga. Semuanya berujung menjadi sampah. Dan karena kebiasaan memilah belum begitu populer, sampah jenis ini pun bercampur dengan sampah organik. Terciptalah tumpukan sampah dalam volume besar yang memunculkan kesan sulit ditangani. Namun kalau dilihat lebih jeli, sampah plastik ini jumlahnya tidak seberapa. Kesan massif justru datang dari sampah organik tercampur, yang jumlahnya jauh berlipatganda dibanding sampah plastik sendiri.

Senin, 21 Oktober 2019

Praktik Animasi Lengkap dengan Software Gratisan? Bisa!


Anda barangkali termasuk orang yang kagum dengan film-film hollywood. Yang mana dari Jurrasic Park hingga Transformer, semuanya menampilkan efek visual menakjubkan. Trik kamera pada film itu dibuat dengan begitu detail dan hidup. Dari robot hingga binatang purba, semuanya terlihat seolah nyata.
Bagaimana semua itu bisa dibuat? Jawabannya adalah dengan software visual effect (VFX). Animasi komputer digabungkan dengan life action lalu diedit sana-sini, terciptalah tampilan yang membuat anda berdecak kagum.
Ada begitu banyak software untuk menangani kebutuhan visual effect tersebut. Dari yang free, berbayar hingga standar industri, semuanya tersedia. Dalam industri seperti di hollywood, satu judul film bisa butuh banyak software dengan puluhan perusahaan yang terlibat. Seniman yang mengerjakan ada ribuan. Biayanya pun triliunan.
Namun untuk kebutuhan pribadi, anda bisa juga menggunakan software serupa yang bebas didownload di situs resmi. Software pengantar untuk berkenalan dengan dunia animasi ini tentunya masih sederhana. Salah satunya yang pernah saya pakai adalah Blender.

Interface Sculpting tanah liat pada Blender

Saya pribadi mengenal Blender sekitar tahun 2011 secara tak sengaja. Pernah menjadi mahasiswa teknik, tentu saja saya tak asing dengan aplikasi desain 3D. Jadi perkenalan dengan Blender saat itu tak jauh dari kebutuhan visualisasi 3 D.
Namun kemudian ketika dikulik lebih jauh, aplikasi Blender ini ternyata bisa jadi software animasi yang mumpuni. Tutorialnya ada ribuan, tersebar di youtube maupun di manual book.
Pertama kali menggunakan Blender (versi 2.7 ke bawah), tampilan interfacenya tampak bikin bingung. Tenang, yang mahir Blender pun awalnya mengaku bingung kok. Tapi ketika anda sudah mencoba fitur-fiturnya, semua akan terasa mudah. Itu saya alami sendiri.

Senin, 14 Oktober 2019

Star Shot: Penjelajahan Antar Bintang yang Akan Jadi Kenyataan

Penjelajahan antar bintang selama berabad-abad memang tak pernah terbayangkan oleh manusia. Namun saat ini, teknologi tersebut telah mendekati kenyataan. Berpuluh-puluh benda canggih telah dikirim oleh manusia dalam perjalanan jauh meninggalkan planet asal.
Di akhir abad XX, obyek terjauh yang sudah dikirim oleh spesies cerdas dari planet Bumi adalah wahana Voyager. Wahana antariksa tak berawak ini perjalanannya sudah jauh melewati Pluto menuju arah luar tatasurya. Kecepatan jelajahnya jangan ditanya: empat ratus kali kecepatan peluru!
Dengan laju yang demikian besar, voyager nyatanya belum dapat dikatakan meninggalkan tata surya kita. Awan Oort yang dianggap sebagai batas tatasurya pun belum sempat ia lampaui. Dan untuk sampai ke bintang terdekat, ia masih butuh waktu hingga tujuh ribuan tahun lagi. Sayangnya, komunikasi dengan pusat kendali di bumi akan terhenti beberapa tahun ke depan sehingga wahana tersebut akan hilang selamanya dalam perjalanan panjang di antara bintang-bintang.

Rabu, 18 September 2019

Akses Internet Bayar Pakai Sampah? Di Tempat Ini Bisa

Foto: Rully Empti
Pelajar dan mahasiswa milenial pasti sering berurusan dengan internet. Dari sekadar eksis di medsos sampai urusan tugas kliping artikel, internet menyediakan solusinya. Maka tak heran jika warnet sering dipadati kaum muda. Tak heran pula jika usaha jasa Warnet kini tumbuh subur di mana-mana.
Ceruk usaha inilah yang kemudian ditekuni oleh teman saya asal Ende bernama Asyrul Abubakar. Yang mengenal orang ini pasti tau, bukan Asyrul namanya kalau usaha bisnisnya tidak ditunggangi misi penyelamatan lingkungan.
Yup, berbekal rasa kepedulian yang tinggi, scooterist imut ini menawarkan paket browsing dan print dengan dibayar sampah "ecobrick".
Bagi yang belum familiar, "ecobrick" adalah sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol air minum kemasan. Sebelum dimasukkan ke botol, plastik bisa dipotong terlebih dahulu untuk memudahkan pemadatan. Alhasil, puluhan hingga ratusan plastik kemasan belanja bisa dipadatkan sekaligus ke dalam satu botol. Cara ini mencegah pencemaran lingkungan oleh sampah dari tas plastik alias kresek ini.
Nah hari ini, Selasa (17/9/2019) pemilik Warnet Empti di Jalan Perwira Ende ini membuat pengumuman. Untuk pelajar yang mau browsing dan print tugas, disediakan paket 5 ribuan yang dibayar dengan satu botol ecobrick. Jadi, kalau seseorang membawa dua botol ecobric, ia bisa browsing satu jam plus lima lembar print.
"Selebihnya, ya harus dibayar," begitu tulis Asyrul di akun facebooknya Rully Empti. Adapun lokasi Warnet Empti (Ende saMPe maTI) berada di Jl. Perwira, tepat di samping rumah pengasingan Bung Karno. Untuk sementara ini, Warnet Empti membuka paket ecobrick untuk pelajar dan mahasiswa. Sementara ke depannya ia sedang pikirkan untuk membuat paket ngopi sekalian WiFi dibarter ecobric. Ditunggu saja kabar selanjutnya OK? 

Senin, 16 September 2019

Tobatmu Kapan?

Cerpen oleh: Simpet Soge

Saat itu sedang panas-panasnya di siang hari bolong. Ama Tadon tampak memikul kain serbet besar berisi pakaian, berjalan melintasi lorong di pinggiran kota Larantuka. Napasnya tersengal. Keringatnya bercucuran.
Agak jauh di depan, berjalan Ina Sura istrinya, menjunjung ember yang setengahnya berisi pakaian kotor. Sementara bayi usia menyusu meringkuk tenang dalam kain di gendongan Ina Sura. Suami istri itu melangkah lambat membuntuti Tantri, putri mereka yang berusia tiga tahun.
Ama Tadon merasa begitu gusarnya. Seumur umur belum pernah ia memikul beban sebungkus pakaian seperti itu. Runtuh sudah citranya sebagai lelaki sejati yang emoh menyentuh pekerjaaan perempuan seperti mengurusi cucian. Tapi mau bagaimana lagi, keadaannya sudah telanjur seperti itu. Ia hanya berharap agar semua tetangganya sedang tidur siang sehingga pemandangan memalukan itu tidak menjadi tontonan umum.
Baguslah, sepuluh menit perjalanan pertama ia tak temui seorangpun, kecuali anak-anak kecil yang bermain di depan rumah mengabaikan jam tidur siang mereka. Tinggal seratusan meter lagi dan Ama Tadon tiba di kediamannya. Ia sekali lagi berdoa tak ada tetangga yang nongkrong siang-siang di depan rumah.