Entah darimana istilah ini berasal, yang jelas ini adalah sesuatu yang paling manakutkan semasa SD. Ini adalah benda semacam medali dari lingkaran kertas kecil sebesar medali emas dengan gantungan dari tali rafia. Benda yang oleh kepala sekolah dinamakan ‘péning’ ini adalah hasil karya guru penegak disiplin di sekolah. Aturan telah ditambahkan sebelum benda ini kami lihat: setiap kali mengenakan benda itu, seorang siswa diberi denda lima buah batu sebesar kepala masing-masing. Pelangaggaran yang pelakunya dekenakan péning adalah semua siswa yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) di dalam lingkungan dan pada jam sekolah.
Artinya, kami dilarang mengucapkan sesuatu pun dalam bahasa ibu tanpa didahului kalimat “bahasa daerah bilang............”. tidak lama berselang, kami ragu juga apa kalimat itu masih merupakan bahasa Indonesia baku. Jadi, setelah lewat gerbang depan, mulut harus ditutup kalau tak bisa dijaga. Soalnya, sebelum gerbang keramat itu kami hanya berbicara dengan bahasa ibu dan tetap terbiasa dengan bahasa itu dalam percakapan antarteman dan dengan semua orang di luar pagar sekolah.
Tak jarang, frekwensi ngobrol mesti kami kurangi supaya jangan kepleset mengucapkan satu atau dua kata-kata dalam bahasa ibu. Nasihat dan aturan dikatakan guru penegak disiplin dengan berwibawa, dan kata-katanya benar-benar terlaksana. Setiap kali satu kata dalam behasa ibu dikeluarkan, pendengar terdekat langsung memberitahu pada petugas, dan péning langsung dikenakan pada siswa yang sial itu disaksikan siswa-siswi lainnya. Sore harinya, ia mesti bolak-balik ke sebelah utara gedung sekolah untuk memungut batu kali sebagai dendanya.
Saya sendiri pun tidak lolos dari sanksi itu. Jika pagi hari ‘terkena péning’, maka soer harinya saya harus langsung menuju tempat batu-batu kali berada, mengangkatnya sebanyak lima auat sepuluh buah tergantung banyaknya kelalaian yang saya lakukan dan meletakannya dihalaman sekolah untuk diperiksa setelah apel pagi keesokan harinya. Itu adalah pekerjaan berat mengingat saya waktu itu masih bertubuh kecil. Untunglah, kepala saya juga berukuran kecil sehingga batu yang sebesar kepala masing-masing itu ukurannya kecil saja.
Mengangkut benda padat itu ke halaman sekolah memang cukup jauh dibandingkan ukuran tubuh saya waktu itu. Melangkah menanjak di tepi hutan menusuri kali kecil, tanpa jalan setapak. Kaki mesti hati-hati melangkah dengan beban di bahu, agar batu di pikulan itu jangan jatuh. Ingat cerpen “Senyum Karyamin” di buku SMP?. Seperti itulah.
Sepuluh batu seukuran itu pun sudah cukup membuat saya dan teman-teman tobat dan lebih hati-hati dan selalu berbicara bahasa Indonesia baku. Hasilnya, tidak pernah anda dengar seorang berkata-kata sesukanya dalam lingkungan sekolah dasar dengan bahasa ibu. Semua orang taat aturan, takut bekerja paksa sebagai sanksi pelanggaran di sore hari.
Hukuman dan aturan besi seperti itu ternyata bisa berguna untuk membiasakan berbahasa ‘asing’. Bayangkan saja, bahasa Indonesia adalah bahasa asing bagi seorang anak yang baru masuk SD. Setiap harinya, ia berbicara bahasa ibu yang sangat jauh berbeda dengan bahasa Indonesia. Enam tahun berada di situ, seseorang pun bisa diharapkan bisa berbahasa Indonesia dengan cukup mahir. Saya hanya membayangkan, seandainya dibiasakan, kita juga bisa menerapkan suatu ketetapan yang cukup mengikat untuk bisa berlatih berbahasa inggris, di rumah atau pada satu hari di sekolah misalnya. Dengan membiasakan pemakaian bahasa asing seperti itu secara terus-menerus, seseorang bisa menggunakan bahasa itu dan bisa menambah kosakata ataupun tatabahasa sederhana dalam bahasa tersebut. Seorang kawan saya dari pernah bercerita, di panti asuhan Muslim di kota Kupang yang pernah ia kunjungi, semua orang berbahasa arab. Mingkin bisa ditiru, toh tidak berpengaruh dengan pergaulan mereka diluar misalnya.
Kamis, 28 Mei 2009
Ariona
Di
pesisir daerah Adonara Barat yang berhadapan dengan kota Larantuka, banyak
lahan kering yang kemudian digarap oleh warga dari kota Larantuka. Mereka
menyebut daerah ini dengan nama Ariona, dan sebagian dari mereka tinggal pula
di pondok yang mereka dirikan atau pergi-pulang dengan menumpang perahu layer
kecil atau motor tempel. Walau ini tidak termasuk wilayah Larantuka, ada warga
Larantuka yang sudah turun-temurun mengolah lahan di sana.
Dengan
tangan bertumpu pada parang Adonara, Viki menatap di depannya. Dadanya
berkeringat tapi bajunya yang tipis masih bisa melewatkan hembusan angin dari
pantai. Ia ada di pertengahan bukit kecil, sekitar lima belas meter tingginya
dari atas laut, seratus meter ke darat. Di depannya, laut memantulkan bayangan
kota Larantuka dengan hampir sempurna. Laut seperti tak beriak tapi ada aliran
deras massa air di situ. Dari Laut Sabu, air menemukan jalannya ke Laut Flores
dengan melewati celah sempit antara kota Larantuka dan pulau Adonara.
Viki
ada di situ dengan empat bungkusan dari karung. Isinya adalah barang-barang
yang diambil di situ. Karung pertama isinya ubi ketela, diikat ujungnya dengan
tali gebang. Yang kedua isinya dedaunan: ketela, pepaya, dan kelor. Karung
ketiga isinya buah pepaya mengkal yang bergetah sehingga dibungkus saat pertama
kali tiba. Begitu pula karung keempat yang hanya setengahnya berisi buah
pisang. Hampir semua barang itu adalah makanan ternak babi nantinya di kota.
Langganan:
Postingan (Atom)