Kamis, 29 Agustus 2024

Peta Offline pada Ponsel, Bisa Diekspor ke Google My Maps


Kalau kamu sering berpetualang ke tempat terpencil—menyusuri sungai, survei jalur pendakian, atau bahkan merencanakan pembangunan jalan di wilayah yang jauh dari jangkauan sinyal—pasti tahu betapa pentingnya peta yang tetap bisa digunakan tanpa internet. Apalagi jika kamu perlu mendokumentasikan batas wilayah atau titik-titik penting langsung di lokasi.

Nah, ada satu aplikasi yang bisa jadi solusi: OfflineMaps dari pengembang Psiberia.

OfflineMaps adalah aplikasi peta yang bisa kamu unduh melalui Google Play Store. Sesuai namanya, aplikasi ini tetap bisa digunakan meskipun tanpa sinyal internet. Tapi ingat, sebelum digunakan, kamu perlu mengunduh terlebih dahulu area peta yang ingin dijelajahi agar datanya tersimpan di perangkat.

Perlu diketahui juga, GPS pada ponsel sebenarnya tidak membutuhkan internet. Selama perangkatmu bisa menangkap sinyal dari satelit, posisimu tetap bisa ditentukan dengan akurat. Internet hanya diperlukan saat mengunduh data peta. Jadi, setelah peta tersimpan, kamu tetap bisa melacak posisi dan bahkan menggambar jalur perjalanan secara real-time meski sedang offline.

Beberapa keunggulan OfflineMaps yang patut dicoba:

  • Mendukung berbagai format file
    Kamu bisa membuat titik, garis, atau area dalam format seperti GPX, RTE, dan WPT. File ini otomatis tersimpan di perangkat dan bisa dibagikan lewat Bluetooth, WhatsApp, atau disimpan ke cloud seperti Google Drive.
  • Pilihan sumber peta yang beragam
    Aplikasi ini memungkinkan kamu memilih berbagai jenis tampilan peta, seperti satelit, terrain, hybrid, hingga peta tematik (laut atau udara). Sumbernya pun beragam, mulai dari Google, OpenStreetMap, hingga USGS dan Bing.
    Memang, peta tematik detail untuk Indonesia masih terbatas, tapi untuk kebutuhan umum, pilihan yang ada sudah cukup membantu.
  • Integrasi dengan platform pemetaan lain
    File yang kamu buat bisa diekspor ke Google My Maps atau Google Earth versi desktop. Google Earth sangat berguna untuk membuat peta yang lebih fleksibel, misalnya menjiplak denah wilayah atau tampak atas bangunan. Banyak pengguna bahkan mengombinasikan keduanya untuk hasil yang lebih rapi.
  • Pengukuran langsung di lapangan
    Dengan GPS aktif, kamu bisa membuat titik lokasi dan mengukur jarak secara real-time. Misalnya, untuk mengetahui panjang bangunan, cukup berdiri di kedua ujungnya dan tandai titik pada peta.

Sebagai penutup, berikut langkah sederhana untuk mengekspor peta ke Google My Maps:

  1. Buat gambar atau jalur menggunakan menu Penanda Letak.
  2. Klik garis atau objek yang dibuat, lalu pilih Export ke GPX. File akan tersimpan di folder exported Placemark.
  3. Buka Google My Maps dan impor file GPX tersebut (satu per satu untuk setiap layer).
  4. Jika ingin menggabungkan beberapa peta, ekspor kembali menjadi file KML, lalu buka dan edit di Google Earth. Setelah rapi, simpan kembali sebagai KML dan impor ulang ke My Maps.

Dengan aplikasi ini, aktivitas di lapangan jadi jauh lebih mudah dan efisien—tanpa harus khawatir kehilangan arah hanya karena tidak ada sinyal.

Rabu, 20 Oktober 2021

Hari Kedua, Ketika Siswa Diajak Menulis Cerpen


Kegiatan siswa hari kedua ini diisi dengan pengumpulan karya puisi kemudian dilanjutkan dengan literasi digital untuk cooling down dan digas kembali dengan penulisan cerpen. Untuk penulisan cerpen, setelah pemaparan materi secara singkat, kegiatan dilanjutkan dengan praktik menulis. Karena contoh cerpen yang dibawakan oleh pendamping saat pemaparan materi adalah kisah persahabatan dan relasi remaja, ramai-ramai para siswa mengulik tentang tema persahabatan ini.
Dalam tema persahabatan tentu saja ada banyak sisi yang bisa dieksplorasi. Contohnya salah satu peserta 'random guy' mengambil topik tentang persahabatan. Narasi dan kata-kata kunci yang ia gunakan datar-datar saja tanpa ada sesuatu yang bisa dipetik dari cerpen tersebut.
Olehnya, saya mengajukan pertanyaan panduan. Pertama, untuk mendalami tokoh. Siapakah tokoh-tokoh dalam cerita ini? Ternyata tokoh yang dipilih peserta adalah dirinya sendiri, yaitu pencerita sebagai orang pertama tunggal. Sementara tokoh yang kedua adalah seorang sahabat, teman sekolah namun berbeda kampung.
Saya ajukan pertanyaan lagi: apa yang membuat mereka bersahabat? Apakah karena kesamaan hobi, ataukah ada daya tarik atau kesamaan lain? Peserta ternyata cukup responsif dan menjawab bahwa mereka bersahabat karena kesamaan hobi, yaitu sama-sama penyuka sepakbola.
Saya terus kejar dengan pertanyaan berikutnya. Untuk orang dengan kesamaan hobbi sepakbola, kira-kira event apa yang menyatukan mereka? Kan tidak mungkin sekadar kongkow-kongkow di warkop (sebagimana alur yang peserta tersebut susun) karena mereka adalah orang desa? Jawabannya tentu saja: event pertandingan sepakbola.

Pertanyaan lanjutan, jika dalam event sepakbola, sebagai orang yang berbeda kampung, tentu saja sahabatnya adalah tim lawan. Saya tantang imajinasi peserta tersebut untuk menciptakan konflik dalam event tersebut. Peserta ternyata cukup tepat dalam menciptakan konflik dengan menempatkan dirinya sebagai pemain defender dan kawannya sebagai penyerang dari tim lawan. Dalam pertandingan tersebut, terjadi insiden dimana kawannya cedera akibat perebutan bola di depan gawang. Tentu saja seperti umumnya dalam liga tarkam, penonton dan suporter dari pihak lawan langsung ricuh.
Namun dalam kondisi cedera, sahabatnya itu berusaha menenangkan kawan-kawannya agar tidak terjadi bentrok lanjutan. Akhirnya, keadaan menjadi kondusif kembali saat si pencerita mengajak timnya untuk mengunjungi kawannya yang sedang dalam perawatan di rumah sakit. Dari alur ini, semoga peserta dapat menciptakan penggambaran situasi dramatis dan bila perlu hiperbolik.
.......
Sebenarnya, tema persahabatan punya banyak jalinan konflik jika penceritaannya cukup rinci terutama dengan mempertajam perwatakan tokoh. Satu lagi peserta 'random girl' mengambil tema persahabatan. Ini adalah persahabatan antara dua orang gadis. Sama seperti pada alur yang pertama di atas, pencerita kali ini pun adalah orang pertama tunggal alias pencerita selaku tokoh utama.
Saya kejar dengan pertanyaan rinci: sejak kapan persahabatan itu berlangsung, dan apakah sahabatnya itu tetangga rumah atau sekadar satu kampung? Jawabannya adalah tetangga rumah. Sebagai tetangga rumah, tentu saja persahabatan dijalin sejak masih kecil.
Tentu ada banyak hal yang bisa dikisahkan tentang persahabatan masa kecil, misalnya bertukar mainan, dirinya yang dititipkan ke tetangga ketika ibunya ke pasar, dan sejumlah pernak-pernik dunia kanak-kanak. Dari segi penokohan dapat dibuat konflik kecil, misalnya perbedaan watak dimana pencerita adalah orang yang sulit bergaul dan sahabatnya adalah orang yang mudah berbaur dengan lingkungan dan sahabat baru.
Ketika tamat SD, mereka berpisah karena berbeda sekolah dan yang satu tinggal di asrama. Sebagai orang yang sulit bergaul, hanya teman masa kecilnya itu yang menjadi satu-satunya sahabat karib. Pencerita sulit menjalin persahabatan dengan orang yang baru. Akibatnya, ia sering menyendiri. Sedangkan sahabatnya yang mudah bergaul dan sudah punya sekian banyak sahabat yang baru.
Hanya ada satu peristiwa yang menyebabkan mereka bertemu kembali: liburan sekolah. Keduanya pun berjanji akan melakukan tamasya. Pencerita datang sendirian sedangkan temannya datang berombongan. Temannya pun berusaha agar si pencerita lebih terbuka dan mencari kawan baru dan melakukan kegiatan baru. Lewat aktivitas bermain bersama di pantai, si pencerita pun bisa melatih diri untuk mudah bergaul lewat aktivitas positif.
Tentu saja gaya bercerita tokoh utama harus dijaga agar sesuai watak tokohnya yang sulit bergaul, sering berbicara sendiri, sering menyalahkan diri sendiri dan lainnya. Penguatan watak tokoh akan menjadikan konflik lebih terasa. Tentu saja, ada nilai yang bisa dipetik dari cerpen ini, yaitu supaya seseorang harus terbuka terhadap lingkungan pergaulan yang baru.
.....

Tema persahabatan lain muncul dari seorang 'random girl'. Alurnya sama, persahabatan antara dua gadis SMA. Pola yang sama muncul: bertemu, bersahabat, lalu berpisah. Apa saja yang terjadi dengan hubungan persahabatan tersebut? Tentu saja ada banyak, tergantung perwatakan tokoh.
Saya kejar dengan pertanyaan: apakah kelebihan hubungan persahabatan tersebut yang pantas untuk diangkat? Jawabannya: karena sahabatnya tersebut adalah gadis yang pintar. Namun di sini bisa dimunculkan celah konflik: orang yang punya potensi kecerdasan di atas rata-rata sering merupakan orang yang sulit bergaul dan suka menyendiri atau sulit berkomunikasi dengan orang lain. Nah, ikatan persahabatan ini dapat menciptakan simbiosis mutualis.
Si pencerita adalah orang yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia merasa prihatin bahwa salah satu kawannya sulit bergaul. Setelah menjalin persahabatan, ia akhirnya paham bahwa kawannya tersebut punya kecerdasan terutama dalam kegiatan mengarang. Ia pun akhirnya tahu bahwa kawannya itu punya tulisan karangan yang sangat bagus namun hanya disimpan di kamarnya dan dibaca sendiri.

Pada perayaan bulan bahasa, sekolah diikutkan dalam perlombaan mengarang. Pencerita meminta ijin agar ada karya sahabatnya itu yang bisa diikutkan. Namun kawannya itu meminta dirahasiakan sebab ia tidak suka popularitas. Akhirnya dengan dibantu oleh kepala sekolah, mereka mendekati panitia agar diperbolehkan peserta dengan nama yang disamarkan. Akhirnya sekolah mereka menjadi juara.
Di samping tema persahabatan, ada juga peserta yang memilih tema lain seperti siswa badung yang akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Namun konflik serta moral cerita belum saya identifikasi baik melalui pendampingan singkat yang tidak lebih dari sejam ini. Semoga besok tersedia cukup waktu bagi siswa untuk menghasilkan karya cerpen yang bagus.

Jumat, 15 Mei 2020

Prioritas Pembangunan dan Hegemoni Aparatur Supra Desa

Jika anda amati proses pengalokasian dana desa, sungguh kentara intervensi pemerintah supra desa di dalamnya. Baik pihak kecamatan, kabupaten hingga provinsi, semuanya berebut alokasi dalam penetapan prioritas pembangunan. Terdapat sejumlah program titipan dari pemerintahan atasan yang pembiayaannya dibebankan ke dana desa. Alih-alih mengalokasikan anggaran untuk pembangunan desa, lembaga lembaga tersebut malah ikut menikmati pecahan kue dari dana desa yang jumlahnya tidak seberapa besar itu. Bentuk yang mereka nikmati berupa pembiayaan program.
Cuti tahunan 2019 lalu, saya mudik ke kampung. Desa meminta saya memasukkan dokumen, dan pas: saya datang saat sedang berlangsung rapat penetapan alokasi dana desa. Ada banyak warga dan perwakilan elemen warga yang hadir. Dan saya sebagai salah satu warga diberi kesempatan mengajukan usul pada forum.
Di desa asal saya, prioritas pembangunan menyasar jalan tani. Kami tahu, satu-satunya hambatan di wilayah subur adalah tiadanya infrastruktur jalan. Tanpa jalan yang baik, produksi yang melimpah tidak mencapai pasar. Pisang hanya membusuk di pohon. Kebun produktif banyak yang telantar. Padahal, lokasinya tidak begitu jauh dari pasar.

Selasa, 22 Oktober 2019

Ecobric, Solusi Sampah Plastik di Wilayah Hunian

Tiada hari tanpa sampah plastik. Begitulah gaya hidup masyarakat urban kini. Belanja di pasar, butuh tas plastik untuk sayur dan ikan. Ke kios, juga butuh tas plastik. Pengecualian ada pada ibu-ibu yang berangkat dari rumah untuk belanja. Mereka sudah siapkan sendiri keranjang belanja untuk mencegah pemakaian tas plastik berlebih.
Namun bagi sebagian besar orang, titik berangkat untuk belanja bukanlah dari dapur rumah. Mereka berangkat dari tempat kerja atau dari tempat aktivitas lain. Akibatnya, keranjang belanja tidak mereka siapkan sendiri. Pilihan terakhir, tas plastiklah yang jadi solusinya.
Dihitung per bulan, ada ratusan tas plastik yang dikonsumsi tiap keluarga. Semuanya berujung menjadi sampah. Dan karena kebiasaan memilah belum begitu populer, sampah jenis ini pun bercampur dengan sampah organik. Terciptalah tumpukan sampah dalam volume besar yang memunculkan kesan sulit ditangani. Namun kalau dilihat lebih jeli, sampah plastik ini jumlahnya tidak seberapa. Kesan massif justru datang dari sampah organik tercampur, yang jumlahnya jauh berlipatganda dibanding sampah plastik sendiri.

Senin, 21 Oktober 2019

Praktik Animasi Lengkap dengan Software Gratisan? Bisa!


Anda barangkali termasuk orang yang kagum dengan film-film hollywood. Yang mana dari Jurrasic Park hingga Transformer, semuanya menampilkan efek visual menakjubkan. Trik kamera pada film itu dibuat dengan begitu detail dan hidup. Dari robot hingga binatang purba, semuanya terlihat seolah nyata.
Bagaimana semua itu bisa dibuat? Jawabannya adalah dengan software visual effect (VFX). Animasi komputer digabungkan dengan life action lalu diedit sana-sini, terciptalah tampilan yang membuat anda berdecak kagum.
Ada begitu banyak software untuk menangani kebutuhan visual effect tersebut. Dari yang free, berbayar hingga standar industri, semuanya tersedia. Dalam industri seperti di hollywood, satu judul film bisa butuh banyak software dengan puluhan perusahaan yang terlibat. Seniman yang mengerjakan ada ribuan. Biayanya pun triliunan.
Namun untuk kebutuhan pribadi, anda bisa juga menggunakan software serupa yang bebas didownload di situs resmi. Software pengantar untuk berkenalan dengan dunia animasi ini tentunya masih sederhana. Salah satunya yang pernah saya pakai adalah Blender.

Interface Sculpting tanah liat pada Blender

Saya pribadi mengenal Blender sekitar tahun 2011 secara tak sengaja. Pernah menjadi mahasiswa teknik, tentu saja saya tak asing dengan aplikasi desain 3D. Jadi perkenalan dengan Blender saat itu tak jauh dari kebutuhan visualisasi 3 D.
Namun kemudian ketika dikulik lebih jauh, aplikasi Blender ini ternyata bisa jadi software animasi yang mumpuni. Tutorialnya ada ribuan, tersebar di youtube maupun di manual book.
Pertama kali menggunakan Blender (versi 2.7 ke bawah), tampilan interfacenya tampak bikin bingung. Tenang, yang mahir Blender pun awalnya mengaku bingung kok. Tapi ketika anda sudah mencoba fitur-fiturnya, semua akan terasa mudah. Itu saya alami sendiri.