Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2018

Pendapatan Cenderung Menurun, Mari Telusuri Produktivitas Kelapa di Adonara.

Turunnya harga kelapa mencapai kisaran Rp 4000 per kilogram membuat sejumlah netizen ikut nimbrung. Mereka mulai bertanya-tanya: sejauh mana petani terdampak atas penurunan harga ini? Sejumlah analisa usaha penanaman kelapa di Adonara pun mereka sodorkan.

Analisa dimulai dengan menyodorkan data jumlah pohon kelapa per hektar serta produktivitas tanaman dagang ini. Meskipun data yang mereka punya tampaknya cukup lengkap, tapi yang empunya data konon masih meragukan kebenaran data tersebut. Misalnya saja, jumlah pohon per hektar yang mencapai 400 pohon tentu cukup meragukan sebab ketika ditelusuri  ulang, kita malah menemui bahwa populasi pohon per hektar ada di kisaran 100 pohon hingga 150 pohon. Demikian pula produktivitas per pohon dalam sekali petik (4 bulan) katanya ada di kisaran 20 butir. Ini masih tampak meragukan sebab jika ditelusuri lagi menunjukkan bahwa produktivitas per pohon ada di kisaran 10 butir setiap kali petik (4 bulan).

Beruntunglah kita yang hidup di abad internet. Data-data dapat kita cross check dan banding-bandingkan ke sejumlah sumber, sehingga kredibilitasnya makin bisa teruji. Dalam tulisan ini, penulis ikut mengecek silang ke sejumlah sumber lain: berita seputar dunia usaha kopra, menghitung secara manual populasi pohon kelapa menggunakan google map, dan sumber terakhir berupa publikasi Flores Timur Dalam Angka. Data ini bisa diuji lagi melalui pengalaman petani di lapangan.

Rabu, 27 September 2017

Prioritas Desa: Membangun atau Menata?



Saat ini kalau anda berkunjung ke desa-desa di Adonara, maka banyak perubahan yang anda saksikan. Sejumlah desa mulai mempercantik diri dengan lorong-lorong yang tertata. Desa lain membangun jalan dari desa ke kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Tembok penahan alias ‘talud’gampang anda jumpai. Perubahan yang dulunya hanya impian kini nyata di depan mata.
Tetapi hal miris akan anda temui ketika bepergian ke kantong-kantong produksi. Masih banyak desa yang akses ke areal kebun komoditi belum memadai. Tempat penghasil komoditas dagang ini kadangkala letaknya jauh dari pemukiman. Lokasinya tak ramah dilalui kendaraan. Alhasil, memobilisir hasil panen ke titik angkut nyaris sulit bagi petani.

Selasa, 23 Mei 2017

Ketika Rakyat Bangga Tenunnya

Rabu, 11 November 2015. Hari ini saya berkesempatan menyaksikan even Festival Teluk Maumere di sela-sela kunjungan saya ke kota itu. Bagaimana tak kepincut, iklan radio maupun media cetak jauh-jauh hari sudah memberitahu. Sayang benar kan kalau dilewatkan?
Nah setelah beres-beres urusan kantor di pukul 09.00, saya pun meluncur ke lokasi. Tak perlu khawatir nyasar sebab warga kota dengan setelan tenun sedang ramai-ramainya mengalir ke tujuan yang sama.
Langit bersih dari awan, yang berarti hari itu cuaca panas sedang membara. Tapi Du'a dan Mo'at kita bukan sembarang orang. Mereka manusia-manusia tangguh, terbukti dengan ketahanan lebih dari seribu penenun yang sudah siap sedari pagi di lapangan terbuka untuk pemecahan rekor even menenun serentak terbanyak pada hari ini! Baca selengkapnya

Antarpulau via Kargo Udara, Ini Buah ‘Kampung’ yang Elit

http://tanamankampung.blogspot.co.id/
Tahun lalu sewaktu masih stay di Maumere, saya rutin tiap bulan mengirim dokumen ke kantor Kupang. Awalnya kirim-kiriman ini saya lakukan lewat kantor kargo W*ngsAir yang kala itu masih bertempat di ruang check in bandara. Kini mereka sudah punya kantor sendiri berhadapan dengan kantor lurah Waioti ke arah Larantuka. Letaknya masih berdekatan dengan bandara Frans Seda.

Kamis, 04 Mei 2017

Anak Muda Flotim Turun Gengsi Kalau Berdagang?

 
Source: all-free-download.com

Judul di atas hanya sekadar pertanyaan. Kalau anda ingin fakta, silahkan mampir ke TKP.  Sekadar survey kecil-kecilan, saya pernah datang ke pasar Podor di Solor. Lebih sering lagi ke pasar baru di Larantuka. Apalagi Adonara, tempat saya tinggal selama bertahun-tahun. Ada kemiripan di antara semua pasar itu. Aktivitas perdagangan didominasi kalangan dewasa hingga tua. Paling banyak yang anda temui adalah kaum ibu. Saban hari mereka menggunakan waktunya demi perputaran roda ekonomi di bumi Lamaholot kita. 

Senin, 30 November 2015

Buruh NTT dan Jaminan Sosial

Peristiwa itu masih saya ingat baik. Di siang yang panas tahun 2009, saya duduk sendirian menikmati sepinya suasana sunyai di bilangan Jl. Shooping Centre Kupang. Tiba-tiba saya kedatangan seorang tamu. 
Agak kaget juga karena si tamu belum saya kenal sebelumnya. Tetapi karena gubuk tempat saya berada kini adalah base camp dari sebuah organisasi mahasiswa, maka saya maklum saja bahwa banyak orang-orang di luar sana yang berkepentingan di tempat ini. Tak hanya teman-teman lintas OKP seperti PMKRI, banyak juga kelompok mahasiswa Lamaholot yang sering kumpul bareng di sini.

Minggu, 09 November 2008

Percakapan Dua Mantan Perantau

Sebelum ibadat hari Minggu di emperan gereja di kampung, saya memilih duduk di samping dua kakek tua dan menguping pembicaraan mereka. Seperti biasanya, mereka tidak keberatan karena sering banyak nasihat yang mereka tuturkan, termasuk buat saya.
Kedua kakek itu sama-sama mantan warga Keke (sebutan di kampung untuk kota KK alias Kota Kinabalu). Bedanya, yang satu sudah puluhan tahun sedang yang satunya baru tiba. Detail tempat di sana mereka ceritakan dan sepakat dengan tepat, sehingga saya pastikan bahwa mereka pergi ke tempat perantauan yang sama.
Hampir pasti, keduanya buta huruf (kecuali bisa membaca angka pada kartu remi, karena itu salah satu permainan di manapun) tapi mengikuti arus perantauan besar-besaran sekitar tahun 60-an.
Salah satu kakek bercerita tentang tempat kerjanya yang berupa lahan seluas pulau Adonara. Tugasnya adalah menanam anakan sawit pada lubang-lubang yang ia gali sendiri. Bibit sudah disiapkan. Upahnya, yang tentu saja rendah, dihitung berdasarkan jumlah anakan yang ia tanam. Mereka tinggal di kem (sebutan mereka untuk tempat tinggal sementara sejenis bivak).
”Kenapa kamu cepat-cepat pulang?” bertanya yang satunya.
”Karena saya tidak bekerja untuk diriku sendiri,” ia lalu bercerita tentang perkebunan besar yang mereka kerjakan untuk majikan. Pohon sawit yang mereka tanami, katanya, akan menjadi milik majikan mereka.
”Saya teringat pada lahan saya yang kosong di kampung. Kalau saja saya pulang, akan saya tanami kelapa untuk saya dan dua anak saya.”
Diceritakannya pula tentang kecelakaan kerja yang menimpa pekerja penebang pohon di hutan. Para pekerja itu, katanya, bekerja mati-matian di negeri orang, sampai ada yang menemui maut karena tidak diterapkannya standar keselamatan kerja.
”Kami boleh berkeringat dan mati-matian untuk sesuatu yang akan menjadi milik majikan. Hal inilah yang membuat saya hendak cepat-cepat pulang kampung,” katanya bersemangat.
Dengan perbekalan dan ’tambang’ seadanya, ia dan seorang rekan lainnya sepakat pulang pada jadwal kapal berikutnya.
Memang, ke Keke tidak selalu menjadi pilihan yang salah. Tapi pergi ke sana dengan ketrampilan minim bisa jadi persoalan bagi beberapa orang.
”Tiba di dermaga Waiwadan, saya hanya punya selembar recehan di saku dan sebuah oleh-oleh kecil berupa tape recorder,” katanya merendah. Tapi kesimpulan saya, bukan Cuma itu yang ia bawa. Ia telah membawa pula motivasi untuk membuat kebun kelapa kecil-kecilan di kampungnya.