Tampilkan postingan dengan label Maumere. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maumere. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Mei 2017

Ketika Rakyat Bangga Tenunnya

Rabu, 11 November 2015. Hari ini saya berkesempatan menyaksikan even Festival Teluk Maumere di sela-sela kunjungan saya ke kota itu. Bagaimana tak kepincut, iklan radio maupun media cetak jauh-jauh hari sudah memberitahu. Sayang benar kan kalau dilewatkan?
Nah setelah beres-beres urusan kantor di pukul 09.00, saya pun meluncur ke lokasi. Tak perlu khawatir nyasar sebab warga kota dengan setelan tenun sedang ramai-ramainya mengalir ke tujuan yang sama.
Langit bersih dari awan, yang berarti hari itu cuaca panas sedang membara. Tapi Du'a dan Mo'at kita bukan sembarang orang. Mereka manusia-manusia tangguh, terbukti dengan ketahanan lebih dari seribu penenun yang sudah siap sedari pagi di lapangan terbuka untuk pemecahan rekor even menenun serentak terbanyak pada hari ini! Baca selengkapnya

Antarpulau via Kargo Udara, Ini Buah ‘Kampung’ yang Elit

http://tanamankampung.blogspot.co.id/
Tahun lalu sewaktu masih stay di Maumere, saya rutin tiap bulan mengirim dokumen ke kantor Kupang. Awalnya kirim-kiriman ini saya lakukan lewat kantor kargo W*ngsAir yang kala itu masih bertempat di ruang check in bandara. Kini mereka sudah punya kantor sendiri berhadapan dengan kantor lurah Waioti ke arah Larantuka. Letaknya masih berdekatan dengan bandara Frans Seda.

Minggu, 30 April 2017

Surat Keterangan Polisi, Kapan Digratiskan?

source: all-free-download.com

Saya terhitung paling sering kehilangan barang kecil kecil semacam ATM, flashdisk dan benda-benda serupa. Entahlah untuk memori otak saya yang terbatas ini, benda tersebut dianggap tidak penting untuk diingat. Dan setiap kali hilang, misalnya ATM, saya selalu mengurus supaya dibuatkan yang baru. Saya sering mampir ke kantor polisi untuk urusan ini. Mereka membantu menyiapkan surat keterangan kehilangan supaya kartu saya dibuatkan penggantinya oleh pihak bank.

Minggu, 25 Oktober 2015

Siarah Wisung Fatima Lela

Taman Doa Wisung Fatima (Foto: Simpet)
Gema Pesan Sang Bunda
13 Oktober 1917. Bunda Fatima untuk pertama kalinya menampakkan diri kepada tiga gembala cilik dari Portugal. Orang-orang pinggiran itu, Lusia, Yasintha dan Fransesco terpilih untuk menyuarakan pesan kepada dunia. Gereja turut mendengar pesan tersebut. Melalui Paus Pius XII, di tengah-tengah krisis perang dunia ke II pada 1942, gereja mendoakan dunia dan mempersembahkannya kepada Hati Maria. Tindakan itu kemudian diikuti di seluruh penjuru dunia. Banyak paroki, negara maupun kerajaan yang dibawa kepada Hati  Sang Bunda, di antaranya adalah kerajaan Sikka (Regalia Sikka) yang dipersembahkan kepada Maria tepat tujuh tahun kemudian oleh Don Thomas Ximenes da Silva. Kerajaan Sikka (1607-1954) bersama dengan kerajaan Larantuka adalah dua kerajaan yang pernah berada di bawah pengaruh Portugis.

Perjalanan Siarah
Rabu, 13 Oktober 2015, tanggal di mana peristiwa penampakan Fatima berlangsung. Tugas rutin saya di Maumere telah berakhir hari itu, tetapi kesempatan tersebut tak saya sia-siakan. Setelah urusan beres, saya berniat mengunjungi Wisung Fatima. Segera meluncur ke pesisir selatan Flores dimana cuaca panas sedang membara di puncak musim kemarau. Basecamp saya tinggalkan sementara ke tempat yang tak seberapa jauhnya itu dengan memakan waktu setengah jam perjalanan.
Pertigaan Lela dari jalan nasional Maumere-Ende yang telah ditandai dengan gerbang dan spanduk ucapan selamat datang adalah jalur masuk saya. Selepas itu, kiri kanan jalan yang saya lalui tampak dihiasi janur dan umbul-umbul. Umat pun terlihat turut bergerak ke lokasi siarah.

Saat tiba, roda dua saya parkir di lapangan sepakbola Lela yang beralih fungsi menjadi lahan parkir. Kendaraan lainnya tampak memadati area tersebut. Dari bus kota, bus kayu, angkutan pedesaan hingga roda dua. Petugas keamanan dari kepolisian setempat dan P3K dari Akper Lela pun turut siaga. Saya bergegas menuju titik start siarah, yaitu gereja Maria Fatima Lela.
Gereja Maria Fatima Lela (foto: Simpet)
 Dan lihatlah, dari pelosok-pelosok desa sekitar, di wilayah yang dulunya merupakan daerah pemerintahan Kerajaan Sikka ini, ribuan umat tampak memadati lokasi. Tua, muda, orang dari kampung maupun yang bertitel, petani hingga pimpinan pemerintah kabupaten Sikka turut berduyun-duyun ke hadapan Sang Bunda. Umat dari kota Maumere pun turut hadir sehingga desa pantai yang berhadapan dengan Laut Sawu itu kini penuh pesiarah. Tampil juga teman-teman dari Universitas Nusa Nipa yang mempersembahkan koor-koor meriah.

Letak taman doa sendiri berdekatan dengan Gereja peninggalan Portugis dan rumah Raja Sikka. Lela adalah sebuah situs tua di mana Kerajaan Sikka diserahkan kepada Bunda Fatima pada 1949. Dan sejak saat itu, setiap tahun umat dari seluruh pelosok Sikka datang ke sana untuk bersiarah.
Menuju Puncak Kalvari (Foto: Simpet)

Pukul 14:10 doa pun dimulai. Perarakan dimulai dari gereja Maria Fatima Lela. Umat berarak sambil mendaraskan doa rosario serta melantunkan lagu-lagu Maria. Matahari pun masih cukup terik sehingga panitia siaga mempersiapkan air minum yang dibagikan gratis untuk pengunjung. Dengan khusuk, rombongan siarah berarak menuju Taman Doa Wisung Fatima.
Dalam perarakan selama setengah jam kemudian, umat sudah tiba di taman. Areal taman ini tampak cukup luas, dengan puncaknya terpasang salib yang menggambarkan peristiwa kalvari. Dalam taman terlihat penuh ditumbuhi bunga dan pohon peneduh. Di sana, jalur masuk pesiarah adalah lewat lorong kiri menuju Kalvari kemudian turun lagi melewati jalur yang lain dan mengambil tempat masing-masing pada kursi yang disiapkan.
Umat memenuhi lokasi  (Foto: Simpet)
Upacara ekaristi yang dipersembahkan oleh uskup Kherubim berlangsung dua setengah jam. Pada pukul 17:30, upacara pun selesai. Pesiarah pun bergegas kembali ke hunian masing-masing.

Dewasa ini di mana transportasi telah begitu lancar, umat berdatangan dan langsung pulang  pada hari yang sama. Tetapi pada jaman dahulu, umat yang tiba dari pelosok diinapkan ke rumah-rumah penduduk sekitar. Dan karena itu, yang menjadi peserta siarah merupakan utusan dari masing-masing wilayah seputar Sikka. 
Sebenarnya masih banyak spot menarik di seputar tempat ini yang ingin saya kunjungi, tetapi berhubung waktu yang terbatas maka saya batalkan ke lain kesempatan. (smpt)

Sabtu, 05 Januari 2013

Mlipir Sejenak Ke Maumere


Gambar: http://www.travelinsurancereview.net
Baru saja lepas dari piket malam tetapi pagi ini diperintahkan harus bersiap-siap ke Maumere. Apa memang harus secepat ini? Yang artinya harus siap tidak tidur sehari penuh, hampir 24 jam? Lagu lama, tuntutan pekerjaan. Tetapi ada positifnya juga, bisa lihat kota Maumere hahaha. Memang, selain Kupang, saya belum pernah ke kota lain manapun di dunia eh di NTT kami ini. Kasian yah kan. Semalaman terus melek sampai pagi, tapi ternyata masih bisa mandi juga pagi-pagi ini. Berarti stamina muda belum kendor.