Cerpen by: S.M. Dosi*)
Di kampung saya punya
piaraan seekor burung beo. Kandangnya saya buatkan yang
bagus dan rapi. Saya tambahkan polesan cat warna warni dan saya gantungkan di
beranda rumah.
Rumah saya punya
emperan yang menjorok ke arah halaman umum di tengah kampung. Orang-orang yang
lalulalang di seputar dusun pastilah melintas di depan rumah saya. Akibatnya,
burung beo seolah dapat kesempatan jadi selebriti, selalu dikagumi banyak orang
yang pergi dan pulang kebun.
Dari browsing internet dan tanya ke sana ke
mari, tahulah saya kalau si burung itu bisa diajari mengucapkan
kata-kata. Saya lalu punya ide untuk mengajarkan burung beo itu
berbicara. Tak mau mainstream saja dengan ucapan ‘selamat pagi’. Iya, saya mau
ajari burung beo itu cukup satu kata: gemohing.