Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

Gemohing

Cerpen by: S.M. Dosi*)


Di kampung saya punya piaraan seekor burung beo. Kandangnya saya buatkan yang bagus dan rapi. Saya tambahkan polesan cat warna warni dan saya gantungkan di beranda rumah. 
Rumah saya punya emperan yang menjorok ke arah halaman umum di tengah kampung. Orang-orang yang lalulalang di seputar dusun pastilah melintas di depan rumah saya. Akibatnya, burung beo seolah dapat kesempatan jadi selebriti, selalu dikagumi banyak orang yang pergi dan pulang kebun.
Dari browsing internet dan tanya ke sana ke mari, tahulah saya  kalau si burung itu bisa diajari mengucapkan kata-kata.  Saya lalu punya ide untuk mengajarkan burung beo itu berbicara. Tak mau mainstream saja dengan ucapan ‘selamat pagi’. Iya, saya mau ajari burung beo itu cukup satu kata: gemohing.

Sabtu, 02 November 2013

Surat Pemecatan

“Gawat! Seseorang mesti menghadap sang Boss, Prof. Umbu Datta!” Itu bisikan panik dua orang saat membeli rokok di kantin dekat halte tepi jalan kampus Faperta. Letak kampus ini ada paling pojok dari deretan kampus tiga di luar kota Kupang. Kampus satu dan dua ada di kota, sebelum tataruang memperbolehkan wilayah pendidikan ditempatkan di sini.
Di gedung Rektorat, laporan dengan perincian lengkap masuk kemarin. Proses cepat jauh lebih cepat dari surat surat penting sekalipun. Dua puluh tiga jam sebelum itu, surat pemecatan telah diketik oleh seorang pegawai, siap ditandatangani Rektor.
Laki-laki kita adalah laki-laki yang tertuduh. Bahwa ia akan digiring masuk, ia telah tahu dua-puluh empat jam sebelumnya. Tetapi ia sadar penuh bahwa saat itu ia tidak dapat mengelak untuk menahan tangannya. Ia menyesalkan kejadian itu tapi tak akan mengucapkan penyesalannya sebelum waktunya.

Rabu, 21 Agustus 2013

Mencari La Ali

Waktu itu, bertiga kami pergi. Mama*), Lingling, dan saya. Mama hanya ingat nama saudaranya dan istrinya yang dari Thailand.
Memegang kertas bertulisan nama itu, kami pun mencari dari toko ke toko. Di toko di mana kami hampir memutuskan berhenti, terjadi dialog ini.
"Permisi"
Si pria tua mengintip dari balik korannya.

Selasa, 04 Desember 2012

Di Kapal Laut


by S. M. Dosi

Pengeras suara mengumandang, menyuruh setiap penumpang yang memegang tiket makan kelas ekonomi menuju pantry untuk mengambil jatah makan mereka. Baga menggeliat. Tidurnya betul-betul tak nyaman, tetapi ia memang hendak melelapkan matanya.
Usianya pria ini 50-an tahun. Tampak sisa sisa ketampanan di wajahnya. Urat urat tangannya terlihat jelas. Pembuluh nadi tampak menonjol dari pergelangan dan punggung tangannya. Kulitnya hitam legam. Telapak tangannya kekuningan, menunjukkan detil-detil garis yang tampak kontras di bawah cahaya lampu yang suram.