Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Kubur Tua

S. M. Dosi

         antara gundukan batu
diselingi serasah berguguran
bersinar cahaya
di atas sumbu yang 'kan kelak padam

tapi ingatan kami 
yang padam karena tak mengenal semua mereka yang terbaring di sini
tak selekas padamnya cinta 
pada mereka yang mengukir kisah berlampau tahun yang pergi

semangat mereka di nadiku
juga darah mereka di jantungku
mimpi mereka yang membawaku tegak kini

kita bagai daun yang berguguran
tetapi jiwa kita semangat zaman
mereka berlalu, kita berlalu

hanya cinta yang abadi

El Ganda 2016

Rabu, 29 April 2015

Nyanyi Ladang

S. M. Dosi

         Gemulai tari kami haturkan
indah bebunyian kami sembahkan
nyanyi dan riuh sorak kami hunjukkan

Ama Lera Wulan,
Bapa Langit Yang Agung
ia turunkan hujan
ia hembuskan angin
ia taburi embun

dan Ina Tana Ekan,
Dia Ibu Bumi
telah persembahkan subur rahimnya

Di atasnya
kehidupan disemai
kemakmuran bersemi

Di tanah ini
sejak berabad waktu yang lalu
limpah rejeki telah dipetik untuk kita

tiada ia kauusik
         tiada ia kaurusak
         Rawat ia, utuhnya
 jaga ia, marwahnya

Putri Besi Pare
dari tubuhnya yang terberai
dan merah darah yang menggenang
di pori pori tanah ladang
telah bersulih rupa
jadi buah jadi bebijian

kami
putri dan putra dari pelosok negeri
telah persembahkan lelah dan letih
tetes tetes peluh keringat
ikut luruh bersama basah hujan

Ketika batang-batang telah menguning
dan dedaunan meranggas
di semak rendah cucakrawa bercengkrama
di dadap berbunga murai bernyanyi

Ini musim yang beralih
ketika kelok sungai pun mengering
saat lumbung sudah menunggu terisi
dan burung-burung mematuk remah

Saat itu
satu demi satu
ranumnya buah dari tubuh sang putri kami himpun
kami jalin dan kami rangkai
menyatu


Nestapa kami telah lalu
ketika kami kenang
bulir bulir yang tumbuh dari korban sang putri

Dia yang rebah dan gugur di tanah
dia yang tumbuh beratus dan beribu

Dan dari lembutnya tangan dan teguhnya karya
kami hidupi raga demi raga, jiwa demi jiwa
putra dan putri suku demi suku,
kampung demi kampung,
pulau demi pulau

Ladang ini
telah bertabur harap
Mari gembira
mari menari
tiada lagi nestapa
kita gembira

Tuak dari mayang kelapa tuanglah
ikan dan lauk bawalah kemari
karena ini hari kita bersuka

akan ladang yang penuh kurnia

Senin, 08 Juli 2013

Langgam



S. M. Dosi

Lengking camar mengirim kabar
Biru langit tl’ah ternoda mata harpun tertusuk
Dingin angin terantuk di haluan
Meningkah deru suara terbatuk-batuk
Sambil elang memburu bau darah

Prahara mengiringi setiap tarikan napas
Dan medan juang digelar atas ayunan ombak

Ada jerit teredam
Juga sorak sorai
Ketika membayang mata kanak-kanak menyanyi
tentang langit yang tertusuk mata harpun
Dan wanita yang menukar bebijian dari petani petani bukit

Bila kehormatanmu
Seumpama tegarnya sosok siluet di rembang senja itu
Dia
Lelaki tua yang telah kenyang mencium dan menjilati dinginnya angin berbau asin

Tak cuma setengah
Sebelum lelah

Dan samudra ini
Dia musuh sekaligus sekolah yang menempa

Selat Solor, 7/8/2013

Senin, 17 Juni 2013

Episode Nusa Bunga

S. M. Dosi


Menghitung malam yang berlari
Dengan rasi gubug penceng di atas kepala
Dan rintih angin yang menyalib tiang-tiang kayu

Sebelum kata ini hanyut di atas pusaran
dan tali temali pada tonggak mulai kendur ikatannya
mari sekali lagi kita dengar cerita ayah

Begini:
Tujuan kita bagi di ujung tanjung
Nama itu telah disebut orang tak lama sejak bermulanya waktu
Juga kita berbagi pusaka

Bertemu lagi kita dalam cerita anak cucu
Sebab hamparan ini terlalu luas
untuk kita bagi lewat tutur di bibir

Jangan mengulur-ulur
sebab dendam kita adalah dendam tentang tanah pencaharian
pada esok yang belum pasti

Larantuka, 8 Juni 2013

Minggu, 18 Desember 2011

Pesan Bunda, Pesan Ayah


S.M. Dosi

Dia tengadah
Pandangi ujung bukit yang di sana
Beban ada di kepalanya
Peluh ada di keningnya

Tanjakan ini mesti lalu
Demi tiba depan pintu
Rumah mungil sebrang gerbang kampung

Lambai daun pisang
Risik helai-helai kelapa
Semak-semak yang merunduk
Lepas ia pergi petang itu

Lelah terkubur dalam riuh merdu
Damai di hati kanak menunggu
Ibu tlah pulang
Dengan pisang, jeruk segar, juga daun sayuran
Ibu tlah datang

Ayah itu kekuatan
Ia megah di atas kudanya
Tombak ada di bahunya
“Batas tanah kita itu luasnya
Pohon semak direbah
Jagung berbulir di atasnya
Pisang meranum di tepiannya”

Sudahkah kau kanak
Rebah memeluk perut bumi
Dengan tongkat berujung mata besi
Kautakarkah telah kausimakkah
Dalamnya lelah terperi

Esok nanti
Entahkah kaununut abangmu
Dengan layar perahu terhembus angin
Dan hanyut arus lepas lautan

Dari kota
Atau meski kota demi kota
Kauanyam, coba kauanyam asa
Tentang esok

Tapi kami, Bundamu, Ayahmu
Tetap berkutat tentang hari ini
Sbab esok
Dengan sendirinya datang

Rabu, 19 Oktober 2011

Palsu

S. M. Dosi
Seandainya bisik rindu masih terngiang di kamar ini
‘Ku tahu itu semu belaka
‘Ku hanya jalani naskah cerita yang sendiri kukarang

seandainya tawamu masih meledak pagi ini
Itu hanyalah bunyi huruf-huruf
pada lembar kedua atau ketiga dari naskahmu yang mirip
Sambil kau menyangkal
“ini sungguhan”, katamu

Memang
Itu naskah
Sama-sama rapat kita sembunyikan
Rahasia halaman terakhirnya