Tampilkan postingan dengan label Kesenian Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian Rakyat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2017

Eki dan Lako, Cerita Rakyat dari Lamaholot

Di dalam hutan rimba Dua Bele, tinggallah dua ekor binatang bernama Eki dan Lako. Eki adalah nama dari seekor kera dan Lako adalah nama seekor musang. Mereka berdua sebenarnya bukan sahabat karib. Tetapi  pagi hari itu ketika hendak pergi mencari makan, mereka berdua bertemu di ujung jalan yang sama. Mereka pun menyadari bahwa perjalanannya searah, sehingga jadilah mereka sepakat untuk mencari buah dan berburu di wilayah yang sama.
Musang  sama sekali belum mengenal bahwa kera partnernya adalah binatang yang sangat malas dan mau enaknya sendiri. Tabiat si kera memang  tidak ingin bersusah payah tetapi selalu rakus kalau mendapati makanan.
Setelah kesepakatan dibuat, keduanya pun pergi bersama-sama. Pertama sekali, mereka menyergap serombongan burung puyuh yang sedang mencari makan di semak-semak. Musang dengan kecepatan geraknyanya diam-diam memburu burung puyuh itu, membunuhnya beberapa ekor, lalu menyembunyikannya di bawah dedaunan. Sementara kera hanya bermalas-malasan dan menonton saja. Ia tak membantu sedikitpun ketika si musang membersihkan bulu burung-burung itu.
Selesai mengurus daging puyuh itu dan kemudian mengumpulkannya di tempat tersembunyi, keduanya kembali bepergian sekeliling hutan. Berjumpalah mereka dengan sebatang pisang hutan di dekat situ. Pisang tersebut telah ranum dan siap dipetik.
"Ayo kita kumpulkan buah -buah pisang ini dan kita bawa pulang untuk keluarga kita," ajak si Lako sambil meloncat ke atas pohon pisang.
"Ayolah, Lako. Nikmati saja dulu buah pisang yang enak itu. Sisanya boleh dibawa pulang," kata Eki. Eki kemudian dengan cueknya menyantap buah-buah pisang itu.

Minggu, 13 Juli 2014

Ose Tobi Lolon


Gambar: http://www.coinquest.com
Dahulu kala, hiduplah seorang gadis di sebuah kampung. Namanya Ose Tobi Lolon, Ibunya telah lama meninggal. Ayahnya tak suka bekerja, tetapi sering mabuk dan tidak mengacuhkan tugasnya. Karena itu, keempat putrinya hidup sengsara dan sering menderita kelaparan. Ose Tobi Lolon, anak tertua, pun harus menjaga adik-adiknya.
Suatu ketika, di sekitar batu-batu karang dekat pondoknya, Ose Tobi Lolon menangkap seekor ikan kecil berwarna emas. Ikan tersebut tidak cukup besar untuk dibagikan di antara mereka berempat. Jadi, ikan itu pun disisihkannya. Ketika malam tiba, ia bermimpi. Mimpi tersebut terjadi atas kehendak raja langit Rera Wulan. Raja langit memerintahkannya untuk menguburkan ikan itu di ladang. Ose Tobi Lolon pun melakukan apa yang diperintahkan.

Selasa, 25 Juni 2013

Ina Hai Ata Kiri: Kisah Gadis dan Sisir Emas dalam Lakon

Gambar: http://armaitamutiara.blogspot.com


Masyarakat Adonara memiliki apresiasi  seni yang tinggi. Di pulau ini bisa kita temukan pertunjukkan yang penuh dengan tari-tarian bersemangat hingga nyanyian-nyanyian sendu. Juga kisah-kisah epik dan legenda yang dilagukan.  Tak ketinggalan pula seni lakon yang merupakan gabungan antara pemeran, panggung, dan dialog. Aktivitas berkesenian dalam lakon ini bisa kita temui dalam tarian Ina Hai ata kiri yang sempat penulis saksikan di desa Lamahala Jaya, Adonara Timur. Pementasan dilakukan dalam rangka momen kunjungan kegiatan Temu Sastrawan Indonesia Timur yang berlangsung di Flores Timur beberapa waktu lalu.
Ina Hai Ata Kiri atau harafiah berarti kisah gadis dan sisir emas adalah tarian sejenis dolo-dolo. Tetapi yang membedakannya, di tengah-tengah tarian dipentaskan lakon kuno yang berisikan kisah tentang munculnya tarian ini.

Senin, 05 November 2012

SOLE


Gambar:  zonaliper
Tari massal yang paling dikenal di Lamaholot adalah sole. Hampir setiap kegiatan hari raya kenegaraan, pesta adat, hingga perayaan keagamaan sering berakhir dengan sole. Sole dilangsungkan pada bagian penutupan. Peminatnya tentu saja tidak sedikit. Tua muda tak ketinggalan masuk arena.
Bagaimana cerita tentang sole ini?
Sempat ngobrol beramai-ramai dengan Ama Kamilus di Honihama, topik sole masuk bahan obrolan. Nih ceritanya.
Sebelum sole diadakan, para pelantun sole harus terlebih dahulu mengetahui peristiwa apa yang terjadi atau yang menjadi inti perayaan sehingga sole diadakan. Kegiatan membahasakan tentang dalam rangka apa kegiatan sole diadakan dinamakan Mula puken. Istilah populernya adalah membuka topik.
Biasanya, yang melakukan  mula puken adalah pelantun sole yang asli berasal dari kampung tersebut. Jika yang mula puken adalah orang yang berasal dari luar kampung, bisa jadi dipertanyakan apa haknya sehingga ia bisa bertindak layaknya tuan rumah. Andaikata tak ada pelantun sole yang asli dalam kampung itu, maka seorang pelantun dari luar kampung akan dimintakan untuk melakukannya, yakni bertindak melakukan mula puken.

Senin, 29 Agustus 2011

Legenda “Hua Lo Puu” di antara penduduk Lamalewa


Legenda “Hua Lo Puu” adalah sebuah legenda yang hidup di Maluku. Banyak yang tahu itu, apalagi sejak terbitnya buku karangan Dr. Murti Bunanta yang ikut mempopulerkan legenda tersebut. Sementara itu, Lamalewa adalah sebuah kampung kecil di pedalaman Adonara. Sebagian besar orang Adonara pun bahkan tidak tahu di mana letak kampung ini.
Lantas, apa ada hubungannya sehingga bisa sama-sama disandingkan dalam judul?
Ada. Karena legenda “Hua Lo Puu” hidup juga di Lamalewa, Adonara.
Masa?
Memang, legenda ini dituturkan pula oleh orang tua di Lamalewa kepada anak-anak mereka. Dan bukan hanya itu. Anak laki-laki, yang 'ditetapkan' sebagai penerus suku dalam sistim perkawinan patrilineal dari keempat suku di Lamalewa mempunyai pantangan yang berhubungan langsung dengan legenda ini. Mereka, termasuk juga penulis, dilarang bersentuhan dengan burung yang tertangkap. Menyantap daging unggas liar pun sama sekali dilarang. Peraturan adat larangan ini berlaku hingga kini.
Andai saja oleh Guru sejarah di SD INPRES Lamawolo tidak mewajibkan kami untuk mengusut asal-usul kampung kami, barangkali saya terlambat mendengar penuturan tentang legenda ini. Narasumber informasi kami cari yang kami anggap paling tahu, yaitu orang tertua pada waktu itu. Menyelesaikan tugas ini, kami berkelompok (Oldos, Vitus, Dami, Simpet) memburu informasi dan tanpa diduga menemukannya.
Salah satu pertanyaan kami: “mengapa anak laki-laki di kampung ini dilarang menyantap burung liar?"
Memang, kultur kehidupan subsinsten berupa berburu dan meramu masih cukup kental di kampung terasa tidak cocok dengan larangan tersebut. Desa kami cukup subur, dan kami sebagai anak-anak Lamalewa adalah sekian dari ‘pemburu ulet’ pada masa kanak-kanak. Sejumlah orangtua bahkan sangat gemar berburu binatang liar.
“Karena pada jaman dulu, ada seorang anak kecil yang dirawat oleh burung-burung liar…." jawab narasumber kami.
Awalnya cukup sampai di situ. Tetapi belakangan, ketika ada akses ke dunia ilmu pengetahuan dan informasi yang begitu terbuka, tidak cukup sulit untuk membuat kesimpulan, bahwa penuturan ini adalah inti dari legenda “Hua Lo Puu”.
Tentang pantangan memakan daging burung liar di masyarakat dengan tradisi berburu, bisa kita simak di buku “Totem and Taboo”, yang ringkasnya ada di "Musa dan Monotheisme" karya psikoanalis besar kita Sigmund Freud. Kabarnya, ia bersandar juga pada tesis-tesis Darwin. Ini teruji ilmiah.
Sementara dari diskusi kecil tematik bersama teman-teman saya di Angkatan Muda Adonara, mereka merujuk istilah 'penyelamatan' dengan referensi yang belum saya ketahui. Saya sendiri masih cukup percaya dengan pendapat saya dengan istilah 'tanda' kesatuan kelompok. Menurut saya, dengan adanya peraturan pantangan dibalut legenda, maka identitas kelompok, misalnya suku, akan lebih terasa. Tentu ini pendapat awam pribadi, jadi tidak ilmiah hehehehe. Selamat berpendapat.

Minggu, 26 Juni 2011

'Perguruan' Sole Oha


Panjang perjalanan, panjang pula perbincangan bagi penumpang, eh tidak, pejalan kaki. Beberapa waktu lalu saya sempat beriringan dengan beberapa pejalan kaki menuju kampung. Yang ibu-ibu menjunjung bawaan mereka di atas kepala, sedang yang bapak menggunakan bahu mereka yang kokoh. Mereka dari kebun, jadi bukan dari tempat keberangkatan saya. Nah, jadi berbagi cerita adalah hal yang saya tunggu-tunggu.
"Petang kemarin ramai di sana," tutur yang satu, menyebut nama tempat yang sudah sama-sama kami kenal. Hmm, rupanya ia menjawab keinginan saya.
"Beberapa warga kampung tetangga kita mendatangi pondok yang di sana," lanjutnya.
Cerita berupa kata-kata hanya sedikit, tetapi kami tentu saja sudah paham jauh melampaui kata-kata. Toh, ini kan kampung kami, kampung saya juga. Jadi, saya mengerti apa yang terjadi.
Jalanan menanjak dan berlumpur adalah teman obrolan kami, jadi bukan halangan.
Oh, ya. Teman-teman, keramaian kemarin sore yang dimaksud adalah bahwa sejumlah orang sedang berlatih sole oha. Pemilik kebun adalah guru mereka. Mereka melakukannya di kebun, karena mereka mesti melakukannya di sela-sela waktu kerja. Dan lokasi kebun tersebut bukan dalam jarak dekat. Warga dari kampung lain, meski masih dalam satu desa, rela beramai-ramai menuju tempat belajar di pelataran pondok, disaksikan oleh rimbunan daun jagung yang melambai.
Bukan kali ini saja “perguruan” itu dijalankan. Belajar sole oha sudah sering dilakukan. Mereka merangkai kata-kata dengan irama yang disesuaikan dengan langkah kaki. Contoh yang diberikan sang guru pun ditiru. Kreasi-kreasi baru pun dibuat, dan jika diterima, pasti bisa ditampilkan. Dan kehadiran pria maupun wanita yang mahir sole oha akan sangat ditunggu ketika ada pesta-pesta di kampung, di mana pada saat itu berhimpun warga kampung maupun putra putri dari kampung itu dari berbagai usia, kedudukan, profesi, maupun tempat tinggal.
Para seniman kata itu mengungkapkan peristiwa hari ini, kemarin, dan akan datang, menyingkap moral cerita dan peristiwa, serta menuturkan cita-cita luhur dari pribadi yang telah mereka kenal. Semuanya dibalut dalam irama dan nada. Itulah sole oha.

Jumat, 01 Oktober 2010

Pesta Perpisahan Sekolah dan Pentas Seni Pelajar



Siapa bilang pesta perpisahan sekolah atau “promnite” tak dikenal di antara pelajar pelajar kita?
Memang, tak mesti di hotel atau lokasi wisata. Tak mesti pula dengan persiapan dan dandanan wah. Tak perlu pula datangkan group band. 

Minggu, 11 Juli 2010

Vuvuzela dari Adonara

Foto: Ebed de Rosary
Piala dunia 2010 meninggalkan kesan tersendiri terkait adanya suara bising dari vuvuzela, terompet khas Afrika Selatan. Tetapi kalau di sana terdapat terompet bernama vuvuzela, maka di Adonara ada terompet daun, terompet siput, dan juga terompet bambu.
Terompet daun dibuat dari daun kelapa atau daun lontar yang dilingkarkan seperti spiral sehingga membentuk kerucut dengan dua bilah daun di bagian ujungnya sebagai sumber getar. Tipe terompet seperti ini biasanya untuk mainan anak-anak yang hendak meramaikan pesta.
Tipe terompet berikut adalah dari kulit siput besar yang disebut matalebu. Terompet ini biasanya digunakan untuk tanda panggil. Para penyadap tuak, petugas gemohing, atau pengurus perkumpulan khas kampung kadang menggunakan alat bantu ini untuk memberitahu diadakannya suatu kegiatan. Ini bisa disamakan dengan canang, kentungan, lonceng, ataupun kendang.
Siput dilubangi pada bagian ujung spiral cangkangnya dengan lubang sebesar ibu jari untuk tempat meniup, sementara bagian muka dan dalamnya sebagi modulator getaran. Ini sama dengan terompet bambu yang dibuat dari bambu wulung atau wulo dalam bahasa setempat.

Di antara ketiga terompet ini, yang paling jauh kedengaran adalah terompet siput. So, panitia kegiatan tidak perlu menyebar undangan. Cukup ambil saja terompet khas adonara itu, lalu teeeeet teeeeet….teeeeeet. Seperti vuvuzela, ia nyaring berbunyi. Beberapa saat kemudian, peserta kegitan pasti tiba.

Sabtu, 06 Desember 2008

Natal di Kampung



-->
Meski sama namanya, suasana perayaan tidak sama di setiap tempat. Kesan natal di kampung saya pun pasti berbeda dengan yang dialami di Kupang, di pulau Jawa, atau yang kebanyakan terlihat di televisi.
Kosakata seperti Sinterklas, kado natal, pohon cemara, apalagi bayang-bayang musim dingin sangat jauh dari kepala kami. Dongeng tentang Sinterklas saja terdengar pertama kali waktu SMA, saat saya sudah remaja. Ketinggalan kan? Begitulah. Benar kata Kornelis Kewa bahwa Adonara termasuk salah satu wilayah di NTT yang masih miskin akses informasinya. Di sana, natal berarti akan ada bebunyian musik, alunan koor mudika jelang dan selam hari-hari natal, kunang-kunang di pohon jambu, bunyi petasan korek api, letusan meriam bambu, juga guyuran hujan yang lagi musimnya. Tak ketinggalan pula kue natal seadanya yang selalu menjadi barang mewah karena tidak selalu dibuat atau tersedia sepanjang tahun.
Di kampung, peristiwa yang sangat ditunggu adalah ketika dikujungi dan mengunjungi setelah perayaan di gereja. Pertama, empat sampai sepuluh kampung akan dikunjungi imam tamu. Lalu, sehabis perayaan, tiap orang, terlebih para pemuda-pemudi mengunjungi rumah penduduk satu per satu. Mereka berjalan dalam rombongan besar dan kecil sekadar bercengkrama dengan para penghuni rumah di kampung halamannya. Para pemuda-pemudi inilah yang paling jarang berada di kampung, terlebih mereka yang ke kota atau ke tempat lain untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan.
Perayaan misa diadakan dua atau tiga kali di gereja yang berbeda di beberapa kampung itu. Jadi, kapela stasi akan kosong pada hari ketika perayaan dilakukan di tempat lain. Di kampung memang sangat kekurangan imam sehingga pada hari-hari raya, beberapa kampung akan bergabung manjadi satu pada parayaan itu dengan seorang imam. Jelas pasti dari kampung tetangga akan mengunjungi kampung yang lainnya.
Teman-teman pun bertemu lagi, terutama pelajar dan orang yang mudik dari tempat dan kota yang berbeda. Biasanya, karena kedatangan romo tamu, akan ada minum kopi bersama. Pada saat itulah para tokoh berbicara di depan seluruh peserta jamuan. Mereka berbicara banyak hal dalam kaitan dengan perdamaian dan kedatangan sang raja damai. Umat dilarang bertamu ke rumah-rumah sebelum jamuan umum selesai.
Yang sangat disukai pada acara jamuan itu adalah para pesertanya yang beragam. Mulai dari anak-anak, muda-mudi, ibu-ibu, pelajar dan mahasiswa, petani, pegawai negeri, pejabat dan tokoh dari kampung dengan penduduk tidak terlalu besar itu. Semuanya berhimpun dalam satu barisan jamuan bersama. Semua berdiri sama tinggi, duduk sama rendah mendengar apa yang dibicarakan oleh tokoh pemerintah dan tokoh umat, termasuk para rohaniwan. Setelah acara, peserta misa meningalkan tempat itu untuk mengunjungi rumah-rumah penduduk lainnya.
Di desa saya, ada sebuah kampung kecil yang hanya ramai sekali setahun yaitu pada hari-hari natal. Karena seolah dilpakan sepanjang tahun, mereka dikunjungi pada hari natal. Letak kampung ini paling ujung dari desa kami. Mereka akan menerima tamu yang lebih banyak terdiri dari para muda-mudi yang akan pulang setelah petang tiba.pada hari ini, keluarga-keluarga dan teman-teman kembali berkumpul. Kabar terrbaru dan anekaragam informasi, juga orang yang selama ini menjauh di segenap penjuru pun berdatangan lagi. Silaturahmi antar kampung pun terjadi lagi. Seolah ada reuni keci,l reuni di depan Tuhan yang datang dalam rupa paling sederhana: kanak-kanak lemah.semua seolah tersadar, hidup itu agung, tapi mesti dijalani dengan sederhana seperti kesederhanaan seorang anak kecil. Sepanjang tahun, warga dari kampung yang berbeda ini hanya dipertemukan dalam urusan bisnis dll. Sedangkan pada hari ini, semua membicarakan hal yang sama.

Permainan

Di masa kecil, kami jarang sekali mempunyai mainan yang dibeli di toko. Tapi ini tidak lantas membuat keceriaan kanak-kanak kami berkurang, karena kami punya sejumlah permainan lain.
  1. Nere-Nere
Sering dimainkan anak pada umur 2-5 tahun dan anak putri. Di tengah-tengah lingkaran, berdiri dua orang dengan tangan saling menopang di atas kepala. Seorang bernama Rera (harafiah berarti matahari) dan seorang bernama Wulang (harafiah berarti bulan).
Pemain lainnya menyanyi berkeliling. lalu lewat di tengah kedua orang tersebut.
Syair lagunya:
Nere-nere kayu ponggo
Menari lasido lasido
Beking apa
Mo beking bem bem cah!
Bem bem cah! Pata ku ana raya!
Setelah lagu selesai, pemain yang berbaris itu lalu lewat di tengah-tengah kedua orang di tengah lingkaran tadi. Dengsan kesepakatan, kedua orang itu lalu bertindak sebagai penjara dan menahan seseorang di antara tangannya. Lalu terjadi dialog antara pemain yang tadinya berbaris dan bernyanyi dengan dua pemain yang bertindak sebagai penjara.
Penyanyi : Puken aku mo mewing ana kame (mengapa kamu menyekap anak kami)
Penjara : karena kame mete meka menu na tae te wata kame one (disebutkan alasan penyekapan)
Penyanyi : pile rera le wulang
Pemain yang disekap lalu memilih antara Rera atau Wulang. Setelah memilih, si pemain keluar dan berbaris di belakang orang yang dipilihnya dengan memegang pundaknya. Penyekapan dilakukan berulang-ulang sampai pemain yang berkeliling habis. Setelah itu, rera dan Wulang saling berpegangan erat dan saling adu tarik menarik dengan dibantu dengan para tahanan di belakang mereka. Kelompok yang menang dalam tarik-menarik ini dinyatakan menang.
  1. Kusing noo manuk (Kucing dan ayam)
Seseorang bertindak sebagai kucing dan seorang yang lain sebagai ayam. Pemain yang lain bertindak sebagai kandang dengan berpegangan tangan membentuk lingkaran. Ayam berada dalam lingkaran pemain lainnya, sedangkan kucing berada di luarnya. Terjadi dialog berirama antara kucing dan kandang.
Kucing : Ini kandang apa?
Kandang : Kandang besi!
Kucing : Sungguh?
Kandang : Sungguh!
Kucing : Betul?
Kandang : Betul!
Kucing : Beri saya anak ayam satu!
Kandang : Tidak mau!
Ayam : Kokokoook!
Kucing : Meong!
Setelah itu, terjadi adegan kejar-kejaran antara kucing dan ayam sampai si kucing menyentuh ayam. Klandang harus mencegah supaya ayam jangan sampai disentuh oleh kucing.
  1. Ayunan akar.
Mirip Tarzan, permainan ini biasa dimainkan di bawah pohon beringin. Tak ada yang diadu dalam permainan ini sehingga tak ada yang kalah atau menang. Untuk bermain, pemain cukup menyeret akar pohon beringin yang menggantung ke arah tanah yang lebih tinggi. Selanjutnya, pemain berpegang erat pada akar tersebut, kemudian mendiring maju tubuhnya dan melepaskan kaki dari tanah. Pemain akan terayun jauh karena pangkal tali biasanya sangat tinggi. Resikonya, kalau tali tersebut putus (ini jarang terjadi), pemain bisa terlempar jauh dan cedera. Karena itu, seringkali hanya anak laki-laki yang bermain dalam permainan ini.
  1. ayunan cabang pohon
orang yang diayun duduk pada cabang pohon kayu yang kuat dan lentur (biasanya pohon asam). Teman-temannya menarik cabang tersebut jauh dari posisinya semula kemudian dilepaskan. Orang tersebut akan bergerak naik turun dalam jarak yang jauh dengan sangat cepat.
  1. Meluncur
Sangat mirip ski, pemain menunggang pelepah kelapadengan posisi kaki menginjak pangkal pelepah. Dimainkan di tanah miring kira-kira 20o pada jarak sekitar dua puluh meter dengan beralas sesuatu yanglicin (pelepah daun sejenis keladi, daun beringin, pelepah kelapa, dll). Pelepah meluncur cepat pada jarak yang jauh dan berhenti setelah menabrak rumput empuk. Sering hanya dimainkan oleh anak lelaki.
  1. Muko Morone (permainan sembunyi, Hide and seek)
Bisa dimainkan mulai dari dua orang sampai dalam dua kelompok. Tiap kelompok punya jumlah anggota yang sama. Kelompok pencari mulai mencari setelah lawan meneriakan suara “kulut” yang melengking. Kelompok dianggap kalah apabila tidak tuntas menemukan lawannya.
  1. Dorhong
Mirip permainan meluncur, tapi dimainkan oleh anak perempuan atau anak kecil (2-3 tahun) pada jarak dekat dengan menaiki pangkal pelepah pinang. Biasanyanya, untuk meluncur cukup ditarik oleh orang lain, jadi tidak butuh alas licin.
  1. Permainan mengadu.
    1. Padu.
Pemain mesti mengarahkan kemiri miliknya dengan tangan dan menjatuhkan kemiri milik kelompok nyang dipasang. Bisa dimainkan mulai dari dua orang sampai berkelompok. Seringkali permainan ini mengarah ke judi.
    1. Kemoti.
Permainan biji halma, kemingkinan diperkenalkan dari Pulau Jawa.
    1. Kesegereng.
Permainan Engklek.
    1. Kote
Gasing
    1. Wawe
Dimainkan dua orang dengan menggeser bidak pada simpul garis. Pemain menang jika bidaknya membentuk satu garis lurus. Pemain harus mencegah supaya bidak lawannya tidak membentuk garis lurus serentak mencari peluang bidaknya membentuk garis lurus.
    1. Permainan Bertualang
mengikuti jalur berburu orang dewasa, biasanya mesti dengan tantangan melewati tebing.
    1. Pancasila lima dasar
Parmainan adu kosakata
    1. Oto
Biasanya dibuat dari kayu, kaleng, atau barang bekas lainnya.
    1. Perang-perangan.
Seseorang berteriak “satu sembunyi, dua isi peluru, tiga serbu“. Yang lebih dulu melihat munculnya lawan mesti berteriak “dor!“ lalu menyebut nama lawan. Yang kena disebutkan namanya dinyatakan mati dan tidak lagi ikut bermain pada giliran itu. Permainan dilakukan dalam berkelompok dalam dua regu.
Berikan anak-anak hak untuk bermain sebab banyak didikan akan diperoleh lewat permainan

Sabtu, 18 Oktober 2008

Ini Lamalewa


-->
Kata Pengantar
(pada lembaran stensilan)


-->

Buku sejarah tentang lahirnya sebuah kampung bernama Lamalewa ini penulis dan penyusun persembahkan kepada masyarakat Lamalewa, teristimewa bagi anak-anak penerus generasi serta para pelajar yang kini sedang bergelut di bangku pendidikan baik pendidikan dasar, pendidikan menengah atau pendidikan tinggi yang berasal dari Lamalewa. Tujuannya adalah supaya mereka bisa mengetahui secara mendalam serta mendetail tentang asal-usul suatu rumpun bangsa, khususnya rumpun atau marga dari cikal balik yang menurunkan masyarakat Lamalewa yang sekarang sedang menghuni kampung Lamalewa maupun anak cucu yang akan hidup di kampung ini di masa-masa yang akan datang.
Buku ini disusun hampir selama empat tahun karena penyusun menyadari bahwa menulis sebuah sejarah tidaklah mudah dan gampang oleh karena itu dalam menulis sejarah ini saya meminta kerelaan sang leluhur Lewotana , untuk senantiasa memberikan jalan petunjuk untuk menyelesaikan buku kecil ini, agar dapat digunakan sebagai suatu cerita yang benar dan akurat. Dalam menyusun buku ini, penulis merekam pengalaman bersama tokoh-tokoh yang dapat dipercaya untuk memberikan kesaksian cerita tentang asal-usul dari kampung Lamalewa.
Walaupun semuanya telah saya tulis tetapi sebagai manusia tentu tidak luput dari kekurangan dalam merangkum semua ini. Oleh karena itu, saran serta input apa saja dari pembaca saya terima dengan tangan terbuka dan kepala dingin demi penulisan secara sempurna sejarah berdirinya kampung Lamalewa.
Akhirnya penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada almahrum Boli Basa, Guang Tana, Bernardus Kopong Lewa, Moses Payong Padak, Silas Nama Igo, Albinus Arakian Kelasa dan orang yang disebutkan namanya di sini, yang telah bersedia memberikan cerita sejarah riwayat kampung Lamalewa sejak dulu dan penulis bukukan dengan baik dan penulis jadikan acuan untuk menyusun buku ini.
Semoga Tuhan dan Lewotana senantiasa melindungi dan memberkati kita semua.
Lamalewa, 20 Mei 2004

Penyusun,



Kornelius Kopong


SEJARAH LAHIRNYA KAMPUNG LAMALEWA

Lamalewa pada mulanya bernama Kiwang Bao atau ata Kiwang Mao. Kiwang Bao berasal dari sebuah pulau bernama Keroko Puken Lapang Batang, pulau tersebut terletak di antara pulau Alor dan pulau Lembata. Kedatangan nenek moyang ini diperkirakan sekitar abad ke 16. Mereka mengungsi karena di daerah asalnya atau di pulau Lapang Batang terjadi gelombang pasang sehingga menimpa pulau tersebut sampai tenggelam di dasar laut. Bencana itu mereka sebut belena-lena belebo-lebo. Para penghuni ada yang tenggelam bersama pulaunya, dan ada juga yang selamat dengan menggunakan perahu. Mereka berlayar mencari tempat yang lebih aman dan lebih baik. Mereka berlayar mencari tempat atau pulau baru atau pulau yang berdekatan dengan pulau Lapang Batang. Dari sekian perahu yang mereka gunakan, ada dua perahu yang mendarat tepat di ai Wao Wutun, ai dimana menjadi wilayah tuan tana Pati Namayang biasa mereka sebut Pati Ata Bele, karena ia adalah Kebele Rayaorang Lamawolo. Kelompok orang yang di dalam perahu itu di bawah empat orang pemimpin yaitu Bayo, Laga, Dosi, dan Arsoni, dan keempatnya kelak menjadi menjadi kepala suku dari suku-suku yang di Kiwang Bao kelak dan ada sampai sekarang.

Ada pantun para leluhur Bayo, Laga, Dosi, dan Arsoni menyangkut hal kedatangan mereka tersebut, yang bunyinya sebagai berikut:

Kame teti timu hau

Lau lapang batang dai

Gawe lewo gawe tasik

Nuan pira leron pira

Kame tuen lewo maiken

E rae ile e rae e

E rae ile e rae e

Syair mereka nyanyikan sebagai tanda perpisahan dengan Lewotana mereka sembari mengharapkan suatu tempat tujuan baru yang mereka dambakan dalam pelayaran yang sedang mereka arungi. Dari kedua buah perahu yang mereka tumpangi bersama-sama menyinggahi ai Wao Wutun di dekat desa Homa, dalam perkiraan bahwa singgahnya kedua perahu itu hampir pasti mereka kehabisan air untuk persiapan minum dalam perahu itu. Sebab di sebelah timur beberapa meter dari ai Wao Wutun mengalir sebuah sungai terus ke laut namanya Wai Burak. Wai Burak ini terlihat jelas dari laut pada saat air surut, sehingga para penghuni di dalam perahu itu dengan jelas melihat di pantai sana ada sebuah sungai yang mengalir. Hal ini menyebabkan mereka terpaksa membuang sauh untuk mendarat.

Setelah mengisi air, perahu yang satu berlayar ke arah barat dan menuju kaki Ile Mandiri dan berbaur dengan penduduk salah satu desa di kaki Ile Mandiri yang namanya kampung Lewolere sekarang. Sedangkan perahu yang ditumpangi oleh Bayo, Laga, Dosi, dan Arsoni serta penghuni yang lain tetap berada di pantai ai Wao Wutun. Adapun letak ai Wao Wutun agak di dataran rendah dari Bukit Seburi maka nampak jelas sekali perahu tersebut dari tempat yang tinggi di lereng Bukit Seburi. Kampung yang letaknya agak tinggi dan dapat melihat dengan jelas laut Flores mulai dari Ile Batu Tara, Selat Larantuka dengan ujung dari pulau Flores dekat dengan Nuha Belao dalam bahasa Indonesianya Pulau Mas, adalah sebuah kampung namanya Lamawolo, yang dalam bahasa pameonya disebut Wolo Lama Nading, Bunga Tana Lela. Dari lereng Bukit Seburi itu letak kampung Lamawolo yang menjadi tuan tanah adalah Pati Nama atau lasim disebut Pati Ata Bele.

Mereka melihat perahu itu sudah beberapa hari berlabuh, namun dari pihak mereka takut jangan sampai perahu itu perahu milik bajak laut yang ingin merampok atau membunuh. Tetapi karena ai Wao Wutun adalah wilayahnya Pati Nama maka mereka mencoba untuk turun ke pantai melihat dari dekat keadaan perahu dan para penumpangnya. Maka Tuan Tana Pati Nama bersama beberapa orang pendampingnya membawa senjata berupa anak panah, busur, lembing dan parang serta bedil rakitan sendiri. Mereka membawa senjata lengkap sebab menjaga kemungkinan yang akan terjadi, sebab pada waktu itu banyak perampok laut atau bajak laut yang ingin mencuri atau merampok serta membunuh musuh yang mereka temui.

Adapun jarak kampung Lamawolo dengan pantai ai Wao Wutun sekitar sembilan kilometer. Pati Nama bersama rombongan ingin mengecek perahu itu dari dekat dengan selalu berhati-hati dan penuh rasa takut, tapi karena keberanian mereka, maka sampailah mereka di pantai ai Wao Wutun. Mereka mulai mengadakan kontak dengan orang-orang yang ada di perahu itu. Dan tampak dari dalam perahu orang-orang yang tadinya merasa takut mulai berdiri dan mengadakan kontak dengan Pati Ata Bele bersama rombongannya di pantai ai Wao Wutun.

Kontak atau hubungan berjalan dengan sebutan Pasak Mau. Di pantai, Pati Ata Bele mencari sebutir telur ayam dan meletakannya di atas telapak tangannya. Dan dari dalam perahu juga mencabut sehelai rambut yang panjang sebab pada waktu itu pada umumnya mereka memiliki rambut yang panjang yang mereka sebut kemohe. Setelah Pati Nama di darat telah siap dengan telur di telapak tangannya dan Bayo di dalam perahu memegang rambut pada ujungnya maka terjadilah acara Pasak Mau. Pasak Mau adalah sebuah acara kepasa untuk mendapat suatu kebenaran dari suatu peristiwa. Bayo menembak telur ayam yang ada dalam telapak tangan Pati Ata Bele, dan sasarannya tepat mengenai telur itu yang sebelahnya jatuh di atas pasir dan sebelahnya tetap dalam telapak tangan Pati Ata Bele. Dari pantai, Pati Ata Bele mengambil bedilnya dan menembak sehelai rambut yang dipegang Bayo pada ujungnya tepat kena di tengah-tengah, sehingga rambut yang setengahnya jatuh di dalam laut. Setelah upacara pasak mau dilaksanakan dan ternyata ada unsur kebenaran dari acara ini, maka tidak sangsi lagi tentang orang yang ada di dalam perahu itu, dan Pati Ata Bele memberi isyarat supaya orang yang ada di perahu itu segera turun ke darat agar bisa mendapat sesuatu pertolongan dari Pati Ata Bele. Adapun yang dibawa oleh para penumpang itu adalah:

1. Sebilah keris berhulu emas (Keris Koten Belaon)

2. Seekor kerbau, yang pada bagian pahanya berwarna putih sehingga disebut Kerbau Uwe Bura.

3. Seekor ayam jantan yang mereka sebut Manuk Snowa

4. Sebuah kumbang

Setelah mereka adakan acara Pasak Mau, ternyata unsur kebenaran tercapai yakni dengan tembakan dari pantai yang mengenai sasaran sehelai rambut yang dipegang dalam perahu, maupun tembakan dari dalam perahu mengenai sasaran sebutir telur yang dipegang oleh Pati Ata Bele dalam telapak tangannya yang berdiri di pantai. Atau dengan kata lain, orang yang ada di perahu itu adalah orang baik, bukan musuh. Mereka yang ada di dalam perahu itu terdiri dari sekelompok orang dengan kepala sukunya bernama Bayo, Laga, Dosi, dan Arsoni. Bayo sebagai koten, Laga sebagai kelen, Dosi sebagai hurint, serta Arsoni sebagai maran. Hal mana yang mereka sebut waktu itu untuk menyatakan rasa kesatuan dan persatuan mereka sebut: Brui, Kole, Megu, Matan.

Mereka turun ke darat dan membawa juga dengan kumbang yang berisi air, dan air itu mereka tumpahkan dekat ai Wao Wutun arah ke timur, sehingga sampai hari ini di tempat itu ada genangan air tumpahan dari kumbang itu. Pati Ata Bele dan pasukannya menerima Bayo dan rombongannya menuju kampung Lamawolo yang dalam bahasa kenopak-nya disebut: Wolo Lama Hading, Bunga Tana Lela, yang jaraknya sekitar sembilan kilometer dari ai Wao Wutun.

Dalam perjalanan itu, Bayo dan rombongannya membawa:

1. Seekor kerbau

2. Sebilah keris berhulu emas

3. Seekor ayam jantan yang mereka sebut manuk snowa

4. Dan barang bawaan mereka lainnya.

Setibanya di Lamawolo, rombongan Bayo dijamu dengan pesta besar-besaran untuk mengingat bahwa Bayo dan saudara-saudaranya ini kan dijadikan sebagai ribu-ratu Pati Ata Bele. Rombongan ini mereka namakan orang Kiwang Bao, artinya ata kiwang yang bao di laut. Disebut sebagai ata kiwang karena mereka ini sebagai orang pendatang baru di Lamawolo. Pati Ata Bele dan ata ribu-ratu mengadakan pesta selama tujuh hari untuk menjamu bergembira bersama-sama karena telah menemukan orang yang kesasar dan akan menjadi Kaka Ari, atau Kaka Pati Ari Beda.

Setelah mengadakan pesta itu, Pati Ata Bele memikirkan bagaimana dengan pemukiman orang Kiwang Bao ini kelak. Dalam pada itu, tentu Pati Ata Bele sedang melirik keris yang Disebut Keris Koten Belaon dan seekor kerbau yang di bagian pantatnya berwarna putih sehingga mereka namakan Kerbau Uwe Bura yang dibawa oleh Bayo dan rombongannya. Setelah mendapat jalan keluar yang baik dalam perembukan bersama, maka Bayo dan kawan-kawannya menyerahkan sebilah keris dan seekor kerbau kepada Pati Ata Bele, dan sebagai gantinya, Pati Ata Bele menyerahkan tanah sebagian yang berbatasan dengan tanah Waikewak, tepatnya di batas Wai Date sekarang. Dan tanah yang diserahkan itu disebut “Tana Kese” dan tanah yang sisa disebut “Tanah Bele” yang digarap oleh orang Lamawolo sampai sekarang dan Tanah Kese seluruhnya digarap oleh orang Kiwang Bao.

Pada waktu penyerahan Tanah Kese kepada Bayo dan kawan-kawannya, Pati Ata Bele mengatakan bahwa Bayo dan kawan-kawan atau rombongannya jaga Koong Kera, jaga Raran Wutun, sehingga mereka diberi tempat di sebelah timur Lamawolo untuk menjaga munak dari Dua Baya. Hal ini boleh dikatakan sebagai suatu kiasan tapi dalam arti sebenarnya adalah Bayo dan rombongannya menjaga Raran Wutun musuh Teti Timu Hau untuk melindungi Kebele Rayadi Lamawolo.

Tempat pemukiman mereka itu mereka namakan “Koli Puken” atau mereka sebut Kiwang Bao. Hal ini tebukti bahwa sampai dengan hari ini orang-orang sekitar masih menyebut ata Kiwang Bao.

Sesudah mendiami Koli Puken, para leluhur ini terpencar menghuni beberapa tempat, antara lain Nuba Hikun, Dua Papa, Dua Siti, Wato Heran dan Lewo One yang kemudian diubah menjadi Lamalewa.

Adapun alasan terpencarnya mereka mungkin ada kematian sehingga para leluhur itu harus pindah karena menganggap tempat yang mereka huni itu tanah yang tidak baik, tanah yang memakan jiwa manusia. Hal ini dapat dipastikan benar dengan melihat salah satu suku di Irian Barat bernama suku Tapiro, dimana mereka selalu berpindah tempat jika ada kematian di tempat hunian mereka.

Dari tempat yang dihuni itu, Nuba Hikun, Dua Siti, Wato Heran dan Lewo One, yang berperan sebagai Lewo Ihike adalah Lewo One. Di Lewo One ini mereka bangun Iki Kewaat Lewotana dengan mengumpulkan batu yang mereka sebut Nuba Nara dari keempat suku tersebut. Dan di Dua Siti mereka bangun rumah pertemuan untuk pergi berperang atau rumah untuk urusan adat lainnya yang mereka namakan Koke Bale. Nuba Nara untuk keempat suku tersebut, Bayo, Laga, Dosi, dan Arsoni, sekarang masih ada tapi tak terawat dengan baik. Kelihatannya dari keempat hunian leluhur itu kita lihat jelas ada empat suku yang terpisah tempat tinggalnya.

Pada awalnya, di masing-masing tempat tinggal mereka, rasa aman dan tenang selalu ada, namun mereka tak dapat tahan tinggal lama jika ada orang meninggal di tempat itu. Jika demikian, mereka lebih senang pindah atau mencari tempat tinggal yang bagi mereka tidak boleh ada orang yang meninggal dunia. Untuk mengatasi kematian ini, maka di Lewo One atau di Lewo Ihike mereka berusaha untuk mendatangkan atau mencari dukun agar bisa menjauhkan mereka dari hal kematian ini.

Dukun yang mereka cari cukup terkenal dari Lomblen, sekarang Lembata dari kampung Lamalera. Dukun itu datang di Lewo One dan membuat serimonial dan merubah nama Kiwang Bao menjadi Lamalewa, sehingga munculnya Lamalewa sampai sekarang. Dengan sebutan pameonya: Pama Lama Dike. Lewa Lama Dope. Adapun nama dukun itu adalah Buga. Dan diperkirakan molan Buga itu mengabadikan nama kampungnya di Lomblen yang bernama Lamalewar. Atau hampir pasti, untuk mengenang jasanya ia ber-fam Lamalewar, sehingga mengabadikan namanya di Kiwang Bao. Namun kelihatannya orang lebih senang menggunakan sebutan ata Kiwang Bao, kendatipun nama Lamalewa nanti disejajarkan kampung Lamawolo, sehingga orang selalu menyebut Lamawolo-Lamalewa, bukan Lamalewa-Lamawolo.

Nama Kiwang Bao sampai dengan hari ini disebut oleh penduduk di sekitarnya, seperti orang Lewohele, orang Bui, orang Bayuwuan, Waihelan, orang Waitenepang, dan masih banyak orang lagi yang menyebut ata Kiwang Bao, dari Kiwang Bao, atau ke Kiwang Bao.

Alhasil sebutan Kiwang Bao ini sesuai sebutan Pati Ata Bele pada saat menyelamatkan ata kiwang di pantai ai Wao Wutun beberapa puluh tahun yang lalu. Setelah molan Buga kembali ke Lomblen, para leluhur itu pun tidak aman dan betah tinggal di Lamalewa karena kamatian terus mengahantui mereka, sehingga terpaksa mencari tempat tinggal yang baru. Dan terpaksa berpencar lagi mereka tinggal menurut marga atau suku masing-masing. Misalnya, suku Laga dan turunannya tinggal di Nuba Hikun, suku Dosi tinggal di Dua Siti, suku Arsoni tinggal berdampingan dengan Lewo One atau Lamalewa, yang mereka sebut terakhir Onge One.

Begitulah pengembaraan para leluhur untuk mencari tempat yang bebas dari segi kematian, hal ini dimaklumi sebab mereka masih percaya akan Amak Rera Wulan Tana Ekan, siapa yang melakukan suatu pekerjaan selalu diungkapkan dengan sebutan Kebesaran Yang Khalik ialah Amak Lera Wulan Inak Tana Ekan.

Adapun hampir benar pekerjaan para leluhur yaitu petani primituf, berburu binatang hutan seperti babi hutan, rusa, kera, babi landak dan lain lagi dan juga mereka ke pasar namanya pasar Wao Wutun di pantai ai Wao Wutun. Tentang nama pasar Wao Wutun, ada cerita dari orang Solor bahwa pernah nenek moyang mereka pergi ke Wao Wutun yang kemudian kita kenal adanya pasar Waiwadan sekarang.

Sebagaimana dalam mencari nafkah, mereka setiap atau selang beberapa hari harus pergi berburu, mencari umbi-umbi hutan sebagai makanan pokok, dan bekarang (meting) sebagai lauknya. Ini mendorong mereka untuk setiap dua minggu pergi ke laut pada pasang purnama waktu air surut dan pasang bulan sabit dengan menempuh jarak yang cukup jauh, apalagi pasar Wao Wutun yang mereka kunjungi setiap hari sabtu tiap minggu. Hal ini mendorong para leluhur untuk tinggal dekat dengan pasar, sehingga mereka turun ke pantai dan tinggal di sebuah di sebuah tempat yang mereka namakan Tobi Puken. Ada di antara mereka yang masih mendiami wilayah sekitar Lamalewa, untuk menjaga tuak, tanaman, dan hewan piaraan, dan menjaga Nuba Nara. Nuba Nara itu terdiri dari batu-batu kecil lambang dari setiap anak laki-laki yang mereka lahirkan.

Para leluhur yang tinggal di tobi puken tidak bertahan lama karena pada tahun 1918 ada wabah penyakit yang menyerang hampir seluruh penduduk di Adonara, Solor, Lembata, dan Flores, wabah itu cukup berbahaya sehingga dalam sehari hampir ada kematian untuk satu kampung, sehingga ada orang hampir-hampir tak dapat dikuburkan.

Kehidupan seperti ini menyebabkan mereka harus mengungsi lagi untuk mencari tempat tinggal yang baru. Mereka pun mulai berpencar. Menurut sukunya masing-masing mereka menghuni tempat yang baru. Ada yang datang tinggal di Wato Heran, ada yang tinggal di Laka, ada yang tinggal di Nuba Hikun, Onge Bele dan ada yang tinggal di Dua Siti. Sehingga muncullah kerajaan Majapahit yang datang menjajah Larantuka, maka di Larantuka dibentuk sebanyak empet belas Kakang. Di antara keempat belas Kakang itu adalah Kakang Horowura. Hamente Horowura dulu berada di Horowura namun setelah Kakang Libu meninggal dunia, ibukota hamente Horowura pindah ke Lamawolo. Kakang yang memerintah di Lamawolo pada waktu itu bernama Kakang Fransiskus Tatu Blanteran de Rosari yang berasal dari Larantuka dan menikah dengan Theresia Lolo orang Lewo Laga. Tempat dimana Kakang Horowura tinggal namanya Nubit One. Untuk menghimpun masyarakat yang berpencar, Kakang memerintahkan agar mereka berkumpul bersama lagi agar mudah dikoordinir. Adapun sebelum terjadi pemerintahan Kakang para leluhur itu pun diperintah oleh para penjajah Belanda, NICA, dan terakhir ialah penjajah Jepang yang mana menurut orang tua-tua desa kekejaman para penjajah Jepang lebih ketimbang dari orang Belanda.

Dalam pemerintahan kerajaan Belanda, penduduk yang dianggap sudah berusia tujuh belas tahun ke atas wajib hode surat pajak yang mereka sebut bea atau belasteng. Bea atau belasteng ini ditagih oleh kepala kampung tanpa buku penagihan, hanya diingat oleh kepala kampung dan dihitung genap. Jika ada ata ribu ratu yang tidak membayar pajak maka waktu kedatangan raja untuk menagih bea, mereka dibawa oelh raja ke Larantuka untuk dipekerjakan pada jalan umum atau kebun-kebun milik raja atau Kakang yang memerintah pada waktu itu.

Dalam pada itu juga ada ata ribu ratu yang karena tidak mau dibawa oleh raja karena bea tidak ada maka terpaksa jual nure atau newa-nya dengan harga murah kepada orang-orang dalam kampung hanya untuk melunasi pajaknya, sehingga mereka kehilangan tempat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sebagai petani.

Dalam pemerintahan Kakang Horowura ini, keempat suku dari Lamalewa dikumpulkan bersama dan tinggal dengan Bapa Kakang di Lamawolo. Pera leluhur ini tinggal di Lamalewa yang sekarang tinggallah orang-orang dari Lamawolo dan Halenawa dan suku Kemolen yang kini kita sebut Keroko Puken. Keroko Puken ini diberi nama karena dulu dekat dengan rumah Mateus Kai Peka di halaman depannya terdapat sebatang pohon besar yang namanya pohon kero sehingga penduduk yang menghuni sekitar pohon tersebut dinamakan orang Kero Puken. Padahal tempat dimana orang Kero Puken tinggal, tempat itulah merupakan tempat tinggal orang Lamalewa sebelum pindah ke Onge Bele pada tahun 1963.

Manurut legenda bahwa orang Lamalewa sebagai Ari Ana tidak boleh tinggal berdekatan Kebele RayaPati Ata Bele, maka pada tahun 1963 masyarakat Lamalewa yang tinggal berdampingan dengan masyarakat Lamawolo terpaksa hijrah ke Onge Bele. Di Onge Bele, begitu sebutannya, sudah beberapa keluarga yang mendiaminya, seperti keluarga Bernardus Kopong Lewa, Payong Geroda, dan Beda Goran serta Juang Soge. Kendatipun keluarga ini juga mempunyai rumah di Lamalewa yang lama.

Pada awal mendiami suatu tempat agar aman, bebas dari bahaya maka perlunya sebuah acara serimonial adat yang mereka namakan Perehe Lewo. Pada waktu itu, masih ada orang Lamalewa yang tinggal di Riang Pao (Riang Pao lama) seperti keluarga Sili Kia, Peka Kia, Gesi Ola, Gesi Lewo Bele, Sukur Sanga Gayak, Sanga Sira, serta Kopong Sabon. Pada saat upacara Perehe Lewo dan Belo Ewa mereka juga hadir di Lamalewa. Upacara Perehe Lewo ini disponsori oleh seorang tua adat bernama Silas Nama Igo, yang meninggal dunia pada tanggal 17 oktober 1987. Pada waktu Belo Ewa setiap suku mempersembahkan seekor hewan. Dan terjadi sesuatu yang cukup luar biasa bahwa pada saat seekor babi dipotong kepalanya dan kepalanya sudah terlepas dari badannya namun badannya bergerak lari dalam ela bele itu kurang lebih satu jam lamanya. Hal ini menyebabkan semua orang heran dan takjub akan peristiwa ini. Dan dari mulut mereka juga mengatakan bahwa Lewotana h ini akan menjadi taa dan kuat serta tahan lela dan ribu ratunya akan makin bertambah banyak di kemudian hari. Hewan yang telah dikorbankan ini setelah diambil gerara-nya untuk dibuat persembahan bagi para leluhur sisanya atau dagingnya dibagi kepada semua laki-laki baik yang sedang ada dalam kampung maupun diberikan juga kepada orang laki-laki berada di Tawau atau di perantauan pada waktu itu. Weka Lamak ini sebagai pertanda tanggungjawab anak-anak Nuba Nara kepada Lewotana di masa yang akan datang. Upacara Belo Ewa ini dirayakan sedemikian besar untuk beberapa hari, sehingga berdatanganlah orang-orang di sekitar tetangga untuk meriah-rayakan hari besar tersebut dengan mengadakan sole-oha, dolo, lia namang dan acara hedung yang di bawah pimpinan almahrum Donatus Doni Ola. Sebagai alat musiknya dipergunakan gong dan gendang. Sebagai bukti dari upacara Belo Ewa ini kini ata ribu kiwan bao makin tahun makin bertambah banyak dan rumah-rumah penduduknya juga bertambah banyak sebagaimana yang diramalkan oleh para tua-tua adat pada waktu itu, seperti bapak Kopong Lewa, Nama Igo, Suban Doni, Kopong Baho, Payong Juan, Payong Padak, dan lain-lain.

Dalam kurun waktu 37 tahun kampung Lamalewa mengalami tiga masa yakni masa Orde Lama dari tahun 1945 sampai tahun 1966 dan masa Orde Baru dari tahun 1966 sampai tahun 1998 serta masa Reformasi dari tahun 1998 sampai sekarang.

Pada awal pemerintahan Orde Baru tahun 1968 kampung Lamalewa digabungkan ke dalam sebuah desa yang namanya Desa Gaya Baru Baya. Dalam pemerintahan Desa Gaya Baru Baya meliputi tujuh kampung, termasuk di dalamnya kampung yang dinamakan Kela Lewo Pito. Yang termasuk dalam kampung Kela Lewo Pito itu adalah Lamawolo, Lamalewa, Waikela dan Waimatan.

Dan sebagai kepala Desa Gaya Baru Baya ialah putra dari bapak Kakang Horowura yaitu Petrus BL de Rosari dan menjadi pusat pemerintahan Desa Baya yakni Waibreno sedangkan kepala desanya berdomisili di kampung Lamawolo.

Dalam pemerintahan Desa Baya, kepala desa berhasil mendirikan sebuah sekolah partikulir untuk masyarakat Lamawolo dan Lamalewa pada tahun 1972 dengan guru POM (Persatuan Orang Tua Murid) adik kandungnya Petrus BL de Rosari, Ibu Ona BL de Rosari, yang kemudian diganti oleh Donatus Ola Doni tamatan SMP Pankrasio tahun 1971, dimana sekolah partikulir pada akhirnya dijadikan SDK Paralel Waibreno II yang dibangun di Lamalewa pada tahun 1976 dengan gedungnya semi permanen beratap rumput.