Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

Bukit, lapangan luas penuh gua


-->
Anda gemar berfoto?Atau ingin melihat apa yang dipunyai Jepang sekitar perang dunia ke II? Datang saja ke tempat ini. Turun di bundaran setelah gerbang Undana, berjalan ke El Tari 3. Sejauh 500 meter dari situ, hanya akan tampak tanah lapang di sebelah kanan anda. Namun di bawah tanah itulah pertahanan Jepang di buat beberapa dasawarsa lalu.


Kemarin saya dan teman-taman masuk salah satu gua. Dari luar terlihat lubang pintu yang sempit, tetapi ada ruang seluas kamar kost di dalamnya.Gua digali langsung pada dinding bukit. Di dalamnya gelap, jadi harus pakai lampu dari senter kecil.
Ada dua pintu keluar. Jadi,kami masuk lewat lorong dari kiri, melihat ruangan luas yang gelap itu, lalu keluar lewat lorong dan berakhir di pintu kanan. Pintu keluar bisa ditandai dengan mematikan senter. Kalau ada berkas cahaya dari depan, berarti di situlah pintu keluar.

Ini musim hujan, jadi kami sedikit tergangu dengan tetesan air dari atas atap.Gua, puluhan bunker atau parlindungan Jepang itu letaknya di belakang Undana. Keterangan menunjukan bahwa daerah ini terletak di tanah angkatan udara. Masuk saja dari perempatan pos polisi dekat gerbang Undana.

Warga sekitar yang kebanyakan mahasiswa menyebut ini dengan nama bukit. Ada bagian paling tinggi di tempat ini dimana anda bisa lepaskan pandang ke empat penjuru. Ke utara akan tampak gedung-gedung Undana dengan latar belakang laut. Ke selatan akan kelihatan bandara. Ke timur tampak perkampungan penduduk sedangkan ke barat tampak kota Kupang. Tempat ini cukup asyik untuk berfoto. Pada petang hari, biasanya akan tampak 10-20 orang disini.
Duduk, melihat pemandangan,atau berfoto. Jadi,ajak teman anda ke sini untuk melihat pemandangannya atau masuk ke salah satu gua buatan itu. Warga biasanya ke tempat ini tanpa larangan.

Minggu, 09 Agustus 2009

Melirik Air Sebagai Pengganti Bahan Bakar


Gambar: Dokumen Pribadi
Di sini tidak ada iming-iming ‘penemuan’ mengubah air menjadi bahan bakar. Yang ada hanyalah hasil akhir dari proses perubahan posisi sejumlah massa air: energi. Perbedaan ketinggian titik, adanya aliran massa air, dengan dibantu turbin air hasil rancangan dari lab Teknik Mesin Undana, maka keinginan memanfaatkan air sebagai sumber energi bagi masyarakat di desa Linamnutu pun terwujud.
Ini sekelumit catatan yang saya buat hari ini, Kamis 30 Juli 2009. Catatan perjalanan, bagi saya, bukanlah hal yang benar-benar baru. Sering ditulis oleh orang-orang yang banyak menjumpai hal asing atau menarik sepanjang lintasan perjalanan atau di tempat tujuan.
Mungkin tidak ada pentingnya, hanya untuk memuaskan nafsu membuat cerita tentang perjalanan pribadi. Satu variasi daripada sekadar bercerita lisan kepada orang-orang yang dijumpai. Para teknisi, calon teknisi, maupun mahasiswa vak teknik memang sering dikondisikan untuk bekerja dengan tangan dan alat, bukan dengan mulut alias melalui pembicaraan. Jadi, tulisan ini bisa menjembatani informasi dari orang-orang yang jarang bicara itu.

Desa yang Mati Tanpa Kehadiran Energi Listrik
Linamnutu adalah sebuah kampung di Kecamatan Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan dengan penduduk 30-an kepala keluarga. Terletak sejauh 22 km meninggalkan cabang Batu Putih ke arah selatan. Letak Batu Putih sendiri tercatat sejauh 33 km sebelum memasuki kota Soe.