Senin, 28 Januari 2013

Di Bawah Ancaman Hama


Gambar: http://ditjenbun.pertanian.go.id

Persoalan hama pada tanaman perdagangan memang bukan hal baru. Di Adonara, dampak paling buruk dari hadirnya hama adalah merosotnya jumlah produksi tanaman kakao pada tahun-tahun belakangan. Dulu, Adonara tengah adalah salah satu sentra tanaman yang produksinya berlangsung sepanjang musim ini. Masalahnya bagi para petani kakao, musuh bernama helopeltis masih bercokol di rumpun-rumpun tanaman mereka. Mereka seakan menyerah, tak punya cara untuk memeranginya.
Sementara itu, pemerintah, dalam hal ini dinas terkait tampak cukup nyaman bicara di media cetak*). Ketidakmampuan petani untuk mengembalikan lagi produksi kakao yang menjadi sandaran hidup mereka bukan lagi jadi persoalan penting. Padahal, pemerintah bisa membantu mengatasi persoalan lewat program-program jangka pendek maupun jangka panjang. Atau jangan-jangan, karena Pemda kini tidak lagi dapat upeti dari hasil bumi yang dijual keluar kabupaten**), ada atau tidaknya produk hasil bumi tidak lagi dianggap penting? Tak tahulah.
Ketegangan baru sempat muncul belakangan ini dengan adanya hama yang menyerang kemiri di Alor yang menyebabkan matinya pohon-pohon itu. Petani sempat khawatir. Apabila benar demikian, apa sisasat pencegahannya? Beruntung, hingga kini, ancaman itu tak menjalar ke Adonara.
Contoh penyakit kecil lain yang cukup diakrabi warga kampung adalah pada pohon limau alias jeruk sumber vitamin C itu. Pohon ini akan gampang mati kalau berkontak dengan sejenis buluh. Buluh ini memang sering dijadikan penjolok buah. Dan jika buah limau dijolok dengan batang buluh, entah tanpa tahu atau tidak tahu bahayanya, maka dalam beberapa waktu kemudian pohon ini akan segera mati diserang jamur. Pencegahannya sederhana, jangan sekalipun melakukan kontak antara buluh penjolok itu dan pohon limau, maka keadaan akan aman tenteram.
Ada di tanaman perdagangan, ada pula di tanaman palawija. Beberapa waktu lalu, sempat timbul juga kekhawatiran munculnya hama ulat penggerek tanaman jagung. Di kampung, sebutan populer untuk hama ini adalah Kua. Kua ini ada dua jenisnya. Kua witi dan kua wawe. Kua witi menyebar di permukaan, sedangkan kua wawe menyebar dan kemudian bersembunyi di dalam tanah. Menurut tips salah seorang petani, pencegahan antara lain dengan menggunakan cairan jeruk nipis.
Sempat telusur di mbah Google, dan memang benar. Salah satu hama untuk tanaman jagung adalah ulat penggerek ini. Desas-desus yang beredar menyebut hama ini sudah mulai menjalar seputar Adonara. Kebenarannya memang masih disangsikan, tetapi desas-desus ini tentu mengingatkan bahwa bertani dan berkebun bukanlah pekerjaan yang tanpa resiko.
Jadi, bagaimana mengatasi resiko ini? Dengar-dengar, di beberapa tempat lain sering ada penyuluh pertanian lapangan. Jadwal musim tanam, misalnya, biasanya didengar dari penyuluh lapangan ini. Begitu pula kalau berhadapan dengan hama tanaman. Tetapi di seputar kampung, kami tidak pernah mendengar tentang keberadaan petugas lapangan ini.
Ke mana mengadu?
Di buku-buku bacaan, memang santer menayangkan tentang pencegahan hama maupun penyakit. Menurut orang-orang pintar itu, salah satu cara pencegahan yang alami adalah dengan memutus periode produksi atau periode tanam. Untuk mencegah hama pada palawija, misalnya jagung, maka penanaman harus dilakukan serentak. Penanaman serentak akan menyebabkan hama tidak punya kesempatan bermigrasi. Begitu pula untuk pohon kakao. Jika dalam satu periode panjang tertentu buah kakao untuk seluruh pulau ditiadakan selama setahun penuh, mungkin untuk setahun berikutnya hama ini bisa hilang. Apa benar demikian, dan bagaimana cara penyelenggaraannya? Bisa kita dengar dari orang-orang pintar ini.


*) Baca di Buletin Kampung Edisi II
**)Dulu, pengantarpulauan komoditi dikenakan pungutan tertentu. Kini, pungutan tersebut telah dihapus. Informasi saya dengar dari camat Adonara Barat pada 19 Januari 2013.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: