Persoalan hama pada tanaman perdagangan memang bukan hal
baru. Di Adonara, dampak paling buruk dari hadirnya hama adalah merosotnya
jumlah produksi tanaman kakao
pada tahun-tahun belakangan. Dulu, Adonara tengah adalah salah
satu sentra tanaman yang produksinya berlangsung sepanjang musim ini. Masalahnya
bagi para petani kakao, musuh bernama helopeltis masih bercokol di
rumpun-rumpun tanaman mereka. Mereka seakan
menyerah, tak punya cara untuk memeranginya.
Sementara itu, pemerintah, dalam hal ini dinas terkait tampak
cukup nyaman bicara di media
cetak*). Ketidakmampuan petani untuk mengembalikan lagi produksi
kakao yang menjadi sandaran hidup mereka bukan lagi jadi persoalan penting.
Padahal, pemerintah bisa membantu mengatasi persoalan lewat program-program
jangka pendek maupun jangka panjang. Atau jangan-jangan, karena Pemda kini
tidak lagi dapat upeti dari hasil bumi yang dijual keluar kabupaten**), ada atau
tidaknya produk hasil bumi tidak lagi dianggap penting? Tak tahulah.
Ketegangan baru sempat muncul belakangan ini dengan
adanya hama
yang menyerang kemiri di Alor yang menyebabkan matinya pohon-pohon itu. Petani sempat khawatir.
Apabila benar demikian, apa sisasat pencegahannya? Beruntung, hingga kini,
ancaman itu tak menjalar ke Adonara.
Contoh penyakit kecil lain yang cukup diakrabi warga
kampung adalah pada pohon limau alias jeruk sumber vitamin C itu. Pohon ini
akan gampang mati kalau berkontak dengan sejenis buluh. Buluh ini memang sering
dijadikan penjolok buah. Dan jika buah limau dijolok dengan batang buluh, entah
tanpa tahu atau tidak tahu bahayanya, maka dalam beberapa waktu kemudian pohon
ini akan segera mati diserang jamur. Pencegahannya sederhana, jangan sekalipun
melakukan kontak antara buluh penjolok itu dan pohon limau, maka keadaan akan
aman tenteram.
Ada di tanaman perdagangan, ada pula di tanaman palawija.
Beberapa waktu lalu, sempat timbul juga kekhawatiran munculnya hama ulat
penggerek tanaman jagung. Di kampung, sebutan populer untuk hama ini adalah
Kua. Kua ini ada dua jenisnya. Kua witi dan kua wawe. Kua witi menyebar di
permukaan, sedangkan kua wawe menyebar dan kemudian bersembunyi di dalam
tanah. Menurut tips salah seorang petani, pencegahan antara lain dengan
menggunakan cairan jeruk nipis.
Sempat telusur di mbah Google, dan memang benar. Salah
satu hama untuk tanaman jagung adalah ulat penggerek ini. Desas-desus yang
beredar menyebut hama ini sudah mulai menjalar seputar Adonara.
Kebenarannya memang masih disangsikan, tetapi desas-desus ini tentu
mengingatkan bahwa bertani dan berkebun bukanlah pekerjaan yang tanpa resiko.
Jadi, bagaimana mengatasi resiko ini? Dengar-dengar, di
beberapa tempat lain sering ada penyuluh pertanian lapangan. Jadwal musim
tanam, misalnya, biasanya didengar dari penyuluh lapangan ini. Begitu pula
kalau berhadapan dengan hama tanaman. Tetapi di seputar kampung, kami tidak
pernah mendengar tentang keberadaan petugas lapangan ini.
Ke mana mengadu?
Di
buku-buku bacaan, memang santer menayangkan tentang pencegahan hama maupun
penyakit. Menurut orang-orang pintar itu, salah satu cara pencegahan yang alami
adalah dengan memutus periode produksi atau periode tanam. Untuk mencegah hama
pada palawija, misalnya jagung, maka penanaman harus dilakukan serentak.
Penanaman serentak akan menyebabkan hama tidak punya kesempatan bermigrasi.
Begitu pula untuk pohon kakao. Jika dalam satu periode panjang tertentu buah
kakao untuk seluruh pulau ditiadakan selama setahun penuh, mungkin untuk
setahun berikutnya hama ini bisa hilang. Apa benar demikian, dan bagaimana cara
penyelenggaraannya? Bisa kita dengar dari orang-orang pintar ini.
*) Baca di
Buletin Kampung Edisi II
**)Dulu,
pengantarpulauan komoditi dikenakan pungutan tertentu. Kini, pungutan tersebut
telah dihapus. Informasi saya dengar dari camat Adonara Barat pada 19 Januari
2013.

