Kamis, 20 Februari 2014

Jam Kerja Gemohing

Gambar: archive.kaskus.co.id

Berapa jam kerja gemohing dalam sehari?
Ternyata, lain dulu lain sekarang.
“Pada tahun 1960-an, gemohing masih berlangsung  delapan jam kerja sehari,”  cerita seorang Bapak asal Lamakukung di bagian timur Adonara.
Jam kerja gemohing kini rata-rata makin singkat, dari lima setengah hingga enam jam saja! Boleh survey kalau mau bukti. Dan si Bapak di Lamakukung mengkonfirmasi hal ini.
Itu isi obrolan saya pas kegiatan penghijauan kemarin di Lamakukung. Sempat ngobrol hilir mudik dengan si Bapak tentang jam kerja di perusahan. “saya punya 8 jam kerja sehari,” begitu saya cerita, “dan di manapun, baik orang kantoran hingga buruh bangunan punya standar jam kerja yang sama.”
 Beliau lalu menuturkan bahwa jam kerja seperti itu berlaku pula untuk gemohing. Menurut yang ia tahu, gemohing tahun 1960-an berlangsung delapan jam sehari.
Kembali ke referensi, boleh kan? Gemohing, yang asal katanya dari kata dasar ‘pohe’ (kata kerja) dan kemudian ‘gemohe’ (kata benda) oleh C. Ouwehand (1951) dikatakan sebagai sebuah ‘maskapai’ alias perusahan. Artinya, jika ia berlaku sebagai perusahan, maka standar  jam kerja pun berlaku untuknya.
Kini, tidak banyak lagi yang meminati bekerja di ‘perusahan’ bernama gemohing ini. Tenaga produktif muda mulai ramai-ramai merantau dan rata-rata bekerja di tempat bernama ‘perusahan’ pula. Bedanya dengan perusahan bernama ‘gemohing’, gaji di perusahan tanah rantau jumlahnya langsung bisa dihitung dalam rupiah atau ringgit. ‘Gemohing’ di kampung halaman pun jadi hilang daya tariknya. (smpt)

Referensi: www.kltv-journals.nl
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: