| Gambar: archive.kaskus.co.id |
Berapa jam kerja gemohing dalam sehari?
Ternyata, lain dulu lain sekarang.
“Pada tahun 1960-an, gemohing masih berlangsung delapan jam kerja sehari,” cerita seorang Bapak asal Lamakukung di bagian
timur Adonara.
Jam kerja gemohing kini rata-rata makin singkat, dari
lima setengah hingga enam jam saja! Boleh survey kalau mau bukti. Dan si Bapak di
Lamakukung mengkonfirmasi hal ini.
Itu isi obrolan saya pas kegiatan penghijauan kemarin di Lamakukung.
Sempat ngobrol hilir mudik dengan si Bapak tentang jam kerja di perusahan. “saya
punya 8 jam kerja sehari,” begitu saya cerita, “dan di manapun, baik orang
kantoran hingga buruh bangunan punya standar jam kerja yang sama.”
Beliau lalu
menuturkan bahwa jam kerja seperti itu berlaku pula untuk gemohing. Menurut
yang ia tahu, gemohing tahun 1960-an berlangsung delapan jam sehari.
Kembali ke referensi, boleh kan? Gemohing, yang asal
katanya dari kata dasar ‘pohe’ (kata
kerja) dan kemudian ‘gemohe’ (kata
benda) oleh C. Ouwehand (1951) dikatakan sebagai sebuah ‘maskapai’ alias
perusahan. Artinya, jika ia berlaku sebagai perusahan, maka standar jam kerja pun berlaku untuknya.
Kini, tidak banyak lagi yang meminati bekerja di
‘perusahan’ bernama gemohing ini. Tenaga produktif muda mulai ramai-ramai
merantau dan rata-rata bekerja di tempat bernama ‘perusahan’ pula. Bedanya
dengan perusahan bernama ‘gemohing’, gaji di perusahan tanah rantau jumlahnya
langsung bisa dihitung dalam rupiah atau ringgit. ‘Gemohing’ di kampung halaman
pun jadi hilang daya tariknya. (smpt)
Referensi: www.kltv-journals.nl
