Sabtu, 06 Desember 2008

Natal di Kampung



-->
Meski sama namanya, suasana perayaan tidak sama di setiap tempat. Kesan natal di kampung saya pun pasti berbeda dengan yang dialami di Kupang, di pulau Jawa, atau yang kebanyakan terlihat di televisi.
Kosakata seperti Sinterklas, kado natal, pohon cemara, apalagi bayang-bayang musim dingin sangat jauh dari kepala kami. Dongeng tentang Sinterklas saja terdengar pertama kali waktu SMA, saat saya sudah remaja. Ketinggalan kan? Begitulah. Benar kata Kornelis Kewa bahwa Adonara termasuk salah satu wilayah di NTT yang masih miskin akses informasinya. Di sana, natal berarti akan ada bebunyian musik, alunan koor mudika jelang dan selam hari-hari natal, kunang-kunang di pohon jambu, bunyi petasan korek api, letusan meriam bambu, juga guyuran hujan yang lagi musimnya. Tak ketinggalan pula kue natal seadanya yang selalu menjadi barang mewah karena tidak selalu dibuat atau tersedia sepanjang tahun.
Di kampung, peristiwa yang sangat ditunggu adalah ketika dikujungi dan mengunjungi setelah perayaan di gereja. Pertama, empat sampai sepuluh kampung akan dikunjungi imam tamu. Lalu, sehabis perayaan, tiap orang, terlebih para pemuda-pemudi mengunjungi rumah penduduk satu per satu. Mereka berjalan dalam rombongan besar dan kecil sekadar bercengkrama dengan para penghuni rumah di kampung halamannya. Para pemuda-pemudi inilah yang paling jarang berada di kampung, terlebih mereka yang ke kota atau ke tempat lain untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan.
Perayaan misa diadakan dua atau tiga kali di gereja yang berbeda di beberapa kampung itu. Jadi, kapela stasi akan kosong pada hari ketika perayaan dilakukan di tempat lain. Di kampung memang sangat kekurangan imam sehingga pada hari-hari raya, beberapa kampung akan bergabung manjadi satu pada parayaan itu dengan seorang imam. Jelas pasti dari kampung tetangga akan mengunjungi kampung yang lainnya.
Teman-teman pun bertemu lagi, terutama pelajar dan orang yang mudik dari tempat dan kota yang berbeda. Biasanya, karena kedatangan romo tamu, akan ada minum kopi bersama. Pada saat itulah para tokoh berbicara di depan seluruh peserta jamuan. Mereka berbicara banyak hal dalam kaitan dengan perdamaian dan kedatangan sang raja damai. Umat dilarang bertamu ke rumah-rumah sebelum jamuan umum selesai.
Yang sangat disukai pada acara jamuan itu adalah para pesertanya yang beragam. Mulai dari anak-anak, muda-mudi, ibu-ibu, pelajar dan mahasiswa, petani, pegawai negeri, pejabat dan tokoh dari kampung dengan penduduk tidak terlalu besar itu. Semuanya berhimpun dalam satu barisan jamuan bersama. Semua berdiri sama tinggi, duduk sama rendah mendengar apa yang dibicarakan oleh tokoh pemerintah dan tokoh umat, termasuk para rohaniwan. Setelah acara, peserta misa meningalkan tempat itu untuk mengunjungi rumah-rumah penduduk lainnya.
Di desa saya, ada sebuah kampung kecil yang hanya ramai sekali setahun yaitu pada hari-hari natal. Karena seolah dilpakan sepanjang tahun, mereka dikunjungi pada hari natal. Letak kampung ini paling ujung dari desa kami. Mereka akan menerima tamu yang lebih banyak terdiri dari para muda-mudi yang akan pulang setelah petang tiba.pada hari ini, keluarga-keluarga dan teman-teman kembali berkumpul. Kabar terrbaru dan anekaragam informasi, juga orang yang selama ini menjauh di segenap penjuru pun berdatangan lagi. Silaturahmi antar kampung pun terjadi lagi. Seolah ada reuni keci,l reuni di depan Tuhan yang datang dalam rupa paling sederhana: kanak-kanak lemah.semua seolah tersadar, hidup itu agung, tapi mesti dijalani dengan sederhana seperti kesederhanaan seorang anak kecil. Sepanjang tahun, warga dari kampung yang berbeda ini hanya dipertemukan dalam urusan bisnis dll. Sedangkan pada hari ini, semua membicarakan hal yang sama.

Ile Belegayeng


Terletak di kaki bukit, desa saya menghadap ke arah utara. Pemandangan ke laut sangat terbuka, sehingga kami bisa melihat pulau komba di sebelah utara pulau Lembata. Sebagai sebuah pemandangan yang terpampang setiap hari, kami menyebut pulau itu dengan nama “Ille Belegayeng” Arti harafiahnya adalah “gunung yang berpindah”. Nama yang aneh, tapi dulunya saya percaya bahwa benda itu adalah gunung yang bisa berpindah. Soalnya, kadang-kadang gunung itu tampak, sedangkan di lain waktu benar benar tidak tampak alias “menghilang!” Sifat inilah yang barangkali menjadi inspirasi sehingga orang di kampung saya menamainya Ille Belegayeng. Buku teks Geografi SD sayangnya tidak mencatat pulau itu meskipun kami tahu dam hafal dengan pasti pulau-pulau dan tempat-temapt yang tidak kelihatan dalam jangkauan langsung mata kami. Bertanya ke norang tua tidak banyak membantu. Mereka hanya menunjukkan fakta bahwa gunung di atas laut itu kadang-kadang menghilang sehingga diduga berpindah. Dengan kata lain, nama “Ille Belegayeng” sudah bisa menjelaskan tentang ini. Yang lain malah menceritakan tentang hewan laut yang berukuran besar yang bisa membuat kami (waktu itu) salah menafsirkan bahwa itu adalah salah satu wujud hewan besar itu. Saat saya mulai bisa membaca peta (untungnya kalau bersekolah!), saya mulai tahu bahwa itu adalah pulau seperti pulau tempat saya tinggal. Salah satunya adalah peta Belanda yang dipampang di Ruang tunggu pelabuhan Larantuka. Di situ saya simpulkan dari jarak dan orientasi bahwa benda bernama Ile Belegayeng itu adalah Pula Komba. Beberapa kawan saya yang kebetulan adalah orang pantai (nelayan) menyebutnya Gunung Batutara.


Untuk menjelaskan mengapa pulau itu bisa menghilang, saya menduga bahwa itu hanyalah akibat ketidakmampuan mata untuk menembus halangan pandangan, misalnya kabut. Apalagi letak pulau itu sendiri sudah sangat jauh, lebih jauh ndaru darata terdekat Lembata yang memang tidak kelihatan itu.
Hal yang menarik buat saya, kalau saja saya tidak bersekolah, mungkin saya masih bahwa itu adalah gunung yang bisa berpindah, atau tetap diucapkan sebagai Ile Belegayeng.

Sebelum tinggalkan tempat asal anda

Apa yang anda lakukan ketika meninggalkan kampung anda untuk pindah ke suatu tempat, misalnya untuk sekolah, kuliah, atau bekerja? Jangan asal angkat tas dan barang-barang anda dan pergi. Ini beberapa petunjuk agar anda jangan disibukkan oleh kegiatan yang tidak perlu di kemudian hari.
  1. urus dahulu surat-surat anda yang penting.
    1. Surat keterangan pindah dari lurah atau kepala desa.
    2. Surat keterngan tidak mampu atau ekonomi lemah bagi yang berkepentingan.
    3. Surat kelakuan baik dari polisi.
    4. Surat keterangan kesehatan dari dokter dan kartu golongan darah.
  2. Gandakan atau buat fotocopy dari surat-surat di atas plus legalisir, ditambah fotocopy dan legalisir dari:
    1. Kartu keluarga
    2. KTP
    3. Raport
    4. Ijazah.
Buat legalisir tersebut sebanyak 2-10 lembar untuk disimpan di tempat asal, dibawa pada map anda dan salah satunya bisa diberikan pada salah satu keluarga yang anda kenal baik. Ini memang kelihatan remeh dan merepotkan, tetapi pada suatu hari anda akan merasa penting akan adanya dokumen ini, misalnya untuk urusan kependudukan, beasiswa, layanan dari pemerintah, dll. Saat dokumen tersebut dibutuhkan, anda tidak lagi repot mengontak ke kampung anda, tapi tinggal membongkar map anda.

Permainan

Di masa kecil, kami jarang sekali mempunyai mainan yang dibeli di toko. Tapi ini tidak lantas membuat keceriaan kanak-kanak kami berkurang, karena kami punya sejumlah permainan lain.
  1. Nere-Nere
Sering dimainkan anak pada umur 2-5 tahun dan anak putri. Di tengah-tengah lingkaran, berdiri dua orang dengan tangan saling menopang di atas kepala. Seorang bernama Rera (harafiah berarti matahari) dan seorang bernama Wulang (harafiah berarti bulan).
Pemain lainnya menyanyi berkeliling. lalu lewat di tengah kedua orang tersebut.
Syair lagunya:
Nere-nere kayu ponggo
Menari lasido lasido
Beking apa
Mo beking bem bem cah!
Bem bem cah! Pata ku ana raya!
Setelah lagu selesai, pemain yang berbaris itu lalu lewat di tengah-tengah kedua orang di tengah lingkaran tadi. Dengsan kesepakatan, kedua orang itu lalu bertindak sebagai penjara dan menahan seseorang di antara tangannya. Lalu terjadi dialog antara pemain yang tadinya berbaris dan bernyanyi dengan dua pemain yang bertindak sebagai penjara.
Penyanyi : Puken aku mo mewing ana kame (mengapa kamu menyekap anak kami)
Penjara : karena kame mete meka menu na tae te wata kame one (disebutkan alasan penyekapan)
Penyanyi : pile rera le wulang
Pemain yang disekap lalu memilih antara Rera atau Wulang. Setelah memilih, si pemain keluar dan berbaris di belakang orang yang dipilihnya dengan memegang pundaknya. Penyekapan dilakukan berulang-ulang sampai pemain yang berkeliling habis. Setelah itu, rera dan Wulang saling berpegangan erat dan saling adu tarik menarik dengan dibantu dengan para tahanan di belakang mereka. Kelompok yang menang dalam tarik-menarik ini dinyatakan menang.
  1. Kusing noo manuk (Kucing dan ayam)
Seseorang bertindak sebagai kucing dan seorang yang lain sebagai ayam. Pemain yang lain bertindak sebagai kandang dengan berpegangan tangan membentuk lingkaran. Ayam berada dalam lingkaran pemain lainnya, sedangkan kucing berada di luarnya. Terjadi dialog berirama antara kucing dan kandang.
Kucing : Ini kandang apa?
Kandang : Kandang besi!
Kucing : Sungguh?
Kandang : Sungguh!
Kucing : Betul?
Kandang : Betul!
Kucing : Beri saya anak ayam satu!
Kandang : Tidak mau!
Ayam : Kokokoook!
Kucing : Meong!
Setelah itu, terjadi adegan kejar-kejaran antara kucing dan ayam sampai si kucing menyentuh ayam. Klandang harus mencegah supaya ayam jangan sampai disentuh oleh kucing.
  1. Ayunan akar.
Mirip Tarzan, permainan ini biasa dimainkan di bawah pohon beringin. Tak ada yang diadu dalam permainan ini sehingga tak ada yang kalah atau menang. Untuk bermain, pemain cukup menyeret akar pohon beringin yang menggantung ke arah tanah yang lebih tinggi. Selanjutnya, pemain berpegang erat pada akar tersebut, kemudian mendiring maju tubuhnya dan melepaskan kaki dari tanah. Pemain akan terayun jauh karena pangkal tali biasanya sangat tinggi. Resikonya, kalau tali tersebut putus (ini jarang terjadi), pemain bisa terlempar jauh dan cedera. Karena itu, seringkali hanya anak laki-laki yang bermain dalam permainan ini.
  1. ayunan cabang pohon
orang yang diayun duduk pada cabang pohon kayu yang kuat dan lentur (biasanya pohon asam). Teman-temannya menarik cabang tersebut jauh dari posisinya semula kemudian dilepaskan. Orang tersebut akan bergerak naik turun dalam jarak yang jauh dengan sangat cepat.
  1. Meluncur
Sangat mirip ski, pemain menunggang pelepah kelapadengan posisi kaki menginjak pangkal pelepah. Dimainkan di tanah miring kira-kira 20o pada jarak sekitar dua puluh meter dengan beralas sesuatu yanglicin (pelepah daun sejenis keladi, daun beringin, pelepah kelapa, dll). Pelepah meluncur cepat pada jarak yang jauh dan berhenti setelah menabrak rumput empuk. Sering hanya dimainkan oleh anak lelaki.
  1. Muko Morone (permainan sembunyi, Hide and seek)
Bisa dimainkan mulai dari dua orang sampai dalam dua kelompok. Tiap kelompok punya jumlah anggota yang sama. Kelompok pencari mulai mencari setelah lawan meneriakan suara “kulut” yang melengking. Kelompok dianggap kalah apabila tidak tuntas menemukan lawannya.
  1. Dorhong
Mirip permainan meluncur, tapi dimainkan oleh anak perempuan atau anak kecil (2-3 tahun) pada jarak dekat dengan menaiki pangkal pelepah pinang. Biasanyanya, untuk meluncur cukup ditarik oleh orang lain, jadi tidak butuh alas licin.
  1. Permainan mengadu.
    1. Padu.
Pemain mesti mengarahkan kemiri miliknya dengan tangan dan menjatuhkan kemiri milik kelompok nyang dipasang. Bisa dimainkan mulai dari dua orang sampai berkelompok. Seringkali permainan ini mengarah ke judi.
    1. Kemoti.
Permainan biji halma, kemingkinan diperkenalkan dari Pulau Jawa.
    1. Kesegereng.
Permainan Engklek.
    1. Kote
Gasing
    1. Wawe
Dimainkan dua orang dengan menggeser bidak pada simpul garis. Pemain menang jika bidaknya membentuk satu garis lurus. Pemain harus mencegah supaya bidak lawannya tidak membentuk garis lurus serentak mencari peluang bidaknya membentuk garis lurus.
    1. Permainan Bertualang
mengikuti jalur berburu orang dewasa, biasanya mesti dengan tantangan melewati tebing.
    1. Pancasila lima dasar
Parmainan adu kosakata
    1. Oto
Biasanya dibuat dari kayu, kaleng, atau barang bekas lainnya.
    1. Perang-perangan.
Seseorang berteriak “satu sembunyi, dua isi peluru, tiga serbu“. Yang lebih dulu melihat munculnya lawan mesti berteriak “dor!“ lalu menyebut nama lawan. Yang kena disebutkan namanya dinyatakan mati dan tidak lagi ikut bermain pada giliran itu. Permainan dilakukan dalam berkelompok dalam dua regu.
Berikan anak-anak hak untuk bermain sebab banyak didikan akan diperoleh lewat permainan

Kuliner Lokal

Bagi saya, wisata kuliner tidak harus berarti keluar dari kampung. Untuk warga kampung saya di Adonara, menu makanannya sudah bisa beranekaragam. Dewasa ini memang sudah jarang ditemui, tapi generasi sebelum saya masing banyak mengetahui kebiasaan mengambil langsung dari alam untuk pangan harian mereka. Jenis dan sumber makanannya beranekaragam, selain karena pengetahuan tentang jenis-jenis makanan yang bisa disantap, juga karena daerah kami termasuk ’subur’ dibandingkan dengan bagian laun pulau kami. Konon, nama daerah sekitar kami yang dikenal sebagai “Bukit Seburi“ berasal dari kata “bukit ’Subur’“, yaitu berdasarkan kerakteristik wilayah kami. (Lihat misalnya di Skripsi Mundus Helan, FISIP Undana).
Sejauh yang saya ingat, ini makanan yang bisa kami makan, dengan sebutan lokalnya masing-masing.
1. Biji-bijian.
a. Tahang (beras) terdiri dari ’tahang mare’ (beras merah), ’tahang pulut’ (beras pulut), ’tahang nilon’ (beras putih), dll.
b. Wata (jagung): jenisnya ada wata bele, wata pulut, wata kene, dll.
c. Kereng (sejenis kacang)
d. Dela (jangung solor)
e. Weteng (jewawut)
f. Utang (kacang)
g. Biji balam
Biji balam seringkali dijadikan permainan balam yang terkenal di kampung. Dalam jumlah yang banyak, biji balam bisa dijadikan makan siang anda. Ayah dan ibu saya sering mengumpulkan untuk kami makan. Pengolahannya sederhana:
Biji dibakar dan kulit bijinya dibuang.
Isi biji tersebut direndam dalam air sehingga menjadi lunak.
Airnya haris sering diganti untuk menghilangkan rasa sepat.
Setelah lunak dan rasa sepetnya hilang, biji diiris dan siap dimakan bersama kelapa parut.
h. Kelengit (biji dari sejenis pohon yang tidak banyak tumbuh, jadi hanya untuk camilan)
2. Ubi-ubian.
a. Kemede, kelawak, hura. Berupa tumbuhan merambat. Jenis ubi ini termasuk yang disukai rasanya, dengan cara direbus atau dibakar. Ukuran ubi tersebut besar, tetapi butuh bertahun-tahun untuk emncapai ukuran tersebut. Ibu saya menanam ubi ini di beberapa bagian kebun kami. Di hutan, rumpun ubi ini, terutama kemede, cukup berbahaya bagi kaki karena akarnya yang tua kemudian berubah menbjadi duri tajam (ketokok). Duri tajam di atas tanah dapat menembus alas kaki dan menusuk ke telapak kaki. Yang pernah kena duri ini pasti sudah mengalami sakitnya jika dari tersebut patah dan tertinggal di dalam daging telapak kaki sehingga mesti dikeluarkan. Untuk berjalan di kebun atau hutan, anda mesti hafal lakasi duri-duri maut tersebut, atau amati saja dari batang merambat tumbuhan ini.
b. Ue lusi.
c. Odo (ondo)
Ubi ini beracun dan butuh pengolahan khusus, dan hanya dimakan apabila persediaan makanan sudah benar-benar habis, paceklik atau rawan pangan.
d. Keti’e. Ada dua jenis, yaitu Keti’e utang (Keti’e hutan) dan Keti’e ameng (harafiah berarti Keti’e jinak). Jenis pertama untuk makanan ternak babi, sedangkan jenis kedua bisa untuk makanan manusia. Ciri-cirinya bisa dibedakan dari permukaan kulit batang. Keti’e utang batangnya kasar dan penuh bintil-bintil, sedangkan Keti’e ameng ulit batangnya mulus. Salah satu daur hidup dari Keti’e adalah berbunga. Bunganya mirip (dan mungkin adalah) bunga bangkai dalam ukuran kecil. Saat bunganya mekar,, bau yang sangat busuk tercium. Butuh bertahun-tahun sampai daur ini dilewati, sehingga jarang kita menemukan ’bunga bangkai’ ini. Biasanya berbubga pada musim hujan. Pembiakannya sederhana. Dari kulit Keti’e bisa tumbuh umbi baru. Selain itu, biji Keti’e (setelah berbunga) bisa menghasilkan anakan baru.
e. Ue kayo (ubi kayu)
f. Kejawa (ubi jalar)
g. Muko (pisang), terdiri dari muko bugis (pisang kepok), muko mas, muko meja, muko lio, muko ape, muko weteng, muko wekak, dll.
3. Sayur-sayuran
a. Temehi, kebiru (sejenis pakis). Dikumpulkan dari hutan dan makin jarang dijumpai dengan berkurangnya areal hutan. Di saat kecil, ibu saya sering memasak sayur ini sebagai campuran ikan teri.
b. Hue. Tumbuhan pohon keras, dimakan daunnya. Ukuran pohonnya kecil.
c. Dela. Tanaman merambat, sering tumbuh bersama gulma. Dimakan daunnya.
d. Lako li’ang. Berbuga di musim hujan. Dimakan bunganya.
e. Kelek. Tumbuh serentak dalam koloni di musim hujan.
f. Kong (jamur merang). Tumbuh alami pada batang pisang yang membusuk. Tumbuh pada musim hujan.
g. Kelongo (jamur kuping). Sering tumbuh pada cabang kemiri atau batang kayu. Ada yang berwarna putih , ada yang berwarna merah.
h. Sayur daun: Ue lolong (Daun singkong), paya lolong (daun papaya), daun mentimun, daun pria hutan.
i. Sayur buah: besi kupang (labu jepang), besi (labi merah), besi nimung, kela’a (labu putih)
4. Buah-buahan (diamakan hanya seperti camilan) bagi anak-anak.
a. kewekut, kemodo. Buahnya tumbuh dekat akar atau pangkal batang. Kemodo agaknya mengandung sedikit alcohol.
b. Raong. Buah pohon raong.
c. Bahi (kesambi)
d. Kejawa (jambu batu)
e. Dimung (mentimun), sasi (semangka), kuka (sejenis semangka yang ukurannya lebih kecil dari kepalan tangan anak-anak.
f. Ata’ (buah sirsak), ata nona (buah srikaya)
5. Serangga/ulat/binatang kecil.
a. Kotok (tonggeret). Ada kotok bele dan kotok keretek. Lebih sedap disantap sesaat setelah serangga ini berganti kulit. Mengumpulkan serangga ini dari hutan atau kebun sering dilakukan pada petang sampai malam ata pada pagi-pagi buta. Dimakan dengan digoreng, digoreng setelah direndam dalam santan atau dibakar.
b. Meto (katak)
c. Teke (tokek)
   Yang biasa dimakan adalah daging dari tokek yang diambil di hutan. Dimakan dengan cara dibakar. Biasanya, tokek diburu untuk anak-anak yang sakit atau baru dalam tahap pemulihan dari sakit. Tokek gampang diburu karena tempatnya sudah ditandai, biasanya di lobang kayu atau di antara lapisan batang pisang. Binatang ini sering memberitahu sendiri tempat persembunyiannya dengan berbunyi pada waktu tertentu.
e. Kedu’o (Sejenis belalang yang berbunyi pada malam hari), Koro (palasit, belalang yang kepalanya runcing), Sawilada (walang kudung/belalang sembah). Bisa diburu pada malam hari oleh anak-anak.
f. Woda (sejenis ulat) hidup di batang bambu aur. Ciri-ciri batang aur yang menjadi tempat tinggalnya: batang aur ruasnya lebuh pendek dari yang lain dan tampak kurang sehat. Setelah daur ini, ulat berubah menjadi kupu-kupu kuning.
g. Kebulok (sejenis ulat), hidup di bambu wulung. Tandanya, bambu wulung daun di ujungnya mati.
h. Kebakak (sejenis ulat). Hidup di batang pohon (terutama kemiri) yang mati.
i. Kebakak teluma (sejenis ulat), hidup di batang pohon teluma.
j. Woko (siput kecil). Berhibernasi dalam koloni kecil di pohon kesambi pada musim kemarau. Dimakan dengan direbus ditambah bumbu-bumbu agar tidak terganggu oleh aromanya.
k. Keong (keong air)
6. Hewan atau binatang buruan.
a. Wawe (babi hutan/celeng), Ote (biawak), Lako (musang), Tutung (landak), Ruha (rusa), Munak (kera), kerebek (kelelawar kecil, sering tinggal di daun pisang yang masih tergulung atau diburi oleh anak-anak pada malam hari di permukaan air yang lebar), penike (kelelawar, sering mengisap sari buah atau bunga pohon rerat [dadap], kapuk, beringin atau pohon buah-buahan lainnya. Penduduk kampung biasa berburu binatang ini pada malam harimenggunakan ’keroa’, panah bambu bermata tiga.
7. hewan air tawar
a. Kurang (udang), Kerakat (kepiting), Kewelok (belut), kewaki (siput air tawar), meto (katak, biasanya tidur di tempat teduh di kiri kanan kali saat hari panas)