Nitun Wai Matan: Resensi buku


Pemuatan cover atas ijin YTIB
Air tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik di masa lampau, masa kini, dan di masa yang akan datang. Oleh para pendahulu kita, keberadaan air terutama mata air sering dituturkan dalam bentuk mitos-motos tentang asal-usul mata air tersebut.
Mitos mitos ini ‘bukannya rekaman atau catatan historis’ (sebagaimana tertulis dalam tinjauan isi buku di halaman sampul), tetapi ‘menyimpan keyakinan dan pandangan’ tentang makna air yang terus diwariskan dalam bentuk yang khas secara turun temurun dalam masyarakat kita.
Dalam buku setebal 48 halaman plus xx halaman pengantar ini, telah dihimpun lima mitos tentang asal usul mata air dari lima tempat berbeda seputar wilayah etnis Lamaholot. Empat dari lima kisah ini memiliki kemiripan dalam struktur cerita maupun maknanya: air ternyata sama berharganya dengan martabat seorang perempuan. Dituturkan bahwa terdapat sejumlah perempuan yang diserahkan menjadi milik para dewa/nitu sehingga mata air dapat mengalir dan member kehidupan bagi penduduk.
Tak sekadar mitos, kita pun telah dibantu dengan sejumlah tarikan makna filosofis maupun langkah tafsir yang telah dilakukan oleh Paul Budi Kleden atas mitos ini dalam sekapur sirihnya di awal halaman.
So, nitun wai matan sungguh layak masuk dalam koleksi bacaan anda. (smpt)

Judul                     : Nitun Wai Matan, Mitologi Lamaholot Tentang Saudari Air
Penerbit                : Penerbit Ledalero (Anggota IKAPI)
Tahun Terbit          : 2009
Penulis                  : Petrus Nong (Editor)
ISBN 9789799447678 

Produktivitas Tanaman Mente Diduga Menurun


Hasil produksi jambu mente tahun di kecamatan Adonara Barat diduga akan menurun. Di lahan-lahan petani, produktivitas tranaman ini tampak lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak adanya penambahan areal tanaman dan menurunnya produktivitas tanaman mente per pohon diduga akan menurunkan total produksi biji mente di wilayah ini.
“Jika pada tahun-tahun sebelumnya tanaman berbuah sarat, kini buahnya jarang-jarang”’ kata Gabriel Pati, salah satu petani mente yang ditemui di Desa Watobaya, Kecamatan Adonara Barat. Ia menambahkan, buah mente pada cabangnya terlihat berjauhan satu sama lain, pertanda tak menghasilkan dengan baik.
Tiupan angin yang melanda  tandan bunga dan juga siraman hujan pada putik diduga petani sebagai penyebab gagalnya proses pembuahan. Tampak tandan bunga tanaman ini mengering dan tak lagi menghasilkan. Produksi pun menjadi berkurang lebih dari setengah dibandingkan tahun lalu. Padahal, rilis terbaru BPS Flotim menyebut kecamatan ini sebagai kecamatan dengan produksi biji mente terbesar di pulau Adonara.
Sementara itu, produksi tanaman industri lain pun tampak merana. Tanaman kakao sejak empat tahun silam telah terserang hama pengisap buah (helopeltis sp) dan penggerek buah (conopomorpha cramelia). Bani Tulit, seorang petani yang ditemui di Honihama pada Minggu (26/8)lalu mengatakan, tanaman kakao pada lahannya di Desa Kiwangona pun ikut digerogoti oleh hama ini. Hingga kini, pemerintah yang menyatakan siap membantu ternyata belum bisa mengatasi persoalan ini. (smpt)

Libur Adat

Seorang mahasiswi, dan juga peminat masalah tenun ikat lamaholot, mengatakan begini: “Dalam kasus kewatek, (...........) beberapa hal menyangkut produksi juga menjadi kendala; misalnya penenunan tidak bisa dilakukan ketika ada kemalangan.....”
Yang saya ambil kutip: penenunan tidak bisa dilakukan ketika ada kemalangan.....”. Ini istilahnya hari “libur adat” (merujuk pada salah satu artikel yg dilarang untuk dikutip, jd jgn bilang2 yah J).
Memang, ketetapan adat tentang ‘libur adat’ berlaku jika ada kemalangan (kedukaan, istilahnya ‘reron onen’, yaitu pada saat orang meninggal hingga tiga hari sesudahnya kalau di kampung saya). Selain itu, libur adat juga berlangsung pada peristiwa lain seperti ‘tobo adat’ alias pembicaraan belis dll.
Nah, ini yang perlu juga dikaji, apakah ketetapan libur adat ini perlu disesuaikan dengan tuntutan jaman. Batasan/cakupan wilayah berlakunya libur adat, mungkin sampai dengan saat ini, adalah berlangsung untuk satu kampung kalau di kampung saya, yang meliputi tiga dusun. Meskipun ada satu dusun lagi masih dalam satu desa, tapi mereka tidak termasuk.
Asal muasalnya kira-kira begini: pada jaman dahulu, ketika jumlah penduduk suatu kampung masih sedikit, maka setiap peristiwa peristiwa ‘besar’ dalam kelompok mesti melibatkan seluruh anggota kelompok tersebut. Untuk menanggulangi jangan sampai ada anggota yang tidak melibatkan diri, maka dirumuskanlah kebiasaan ini, meskipun tidak secara tertulis, tetapi sebagai ketetapan yang selalu dijaga pelaksanaannya. Kebiasaan ini tetap berlaku sampai sekarang.
Hal ini menjadi tidak praktis manakala suatu kampung semakin meluas alias membesar, maka batasan ini akan sangat mengganggu karena bisa-bisa sepanjang tahun ada lebih banyak peristiwa kedukaan (dengan adanya pertambahan penduduk, terutama penduduk usia tua, maka tingkat mortalitas di wilayah bersangkutan menjadi meningkat meski prosentasinya tetap bahkan menurun) yang membuat jumlah hari ‘libur adat’ menjadi semakin banyak. Belum lagi peristiwa adat lain yang juga temasuk dalam ketetapan ‘libur adat’. Padahal, di samping itu ada juga libur agama dan hari libur nasional.
Sampai kini, saya tidak ada referensi hasil penelitian tentang batasan libur adat ini. Apa ketetapan libur adat ini berlangsung dengan cakupan lewo, suku, atau lewo yang masih bersebelahan?
Di tengah-tengah penetapan hari-hari libur yang makin meningkat dari tahun ke tahun, orang malah mencita-citakan untuk menghapus hari-hari libur yang makin manjadi-jadi ini. Alasannya tentu sederhana, dengan adanya hari libur yang makin banyak, maka produktifitas kita menjadi anjlok dan sangat mengganggu daya saing kita sebagai sebuah bangsa di mata dunia.